Menlu Rusia: Barat Baru Saja Mencuri Lebih dari Rp4.356 Triliun dari Moskow
Senin, 02 Mei 2022 - 08:51 WIB
loading...
A
A
A
Ditanya tentang mengapa Rusia menghentikan pengiriman gas, yang telah menyebabkan kekhawatiran di Italia, Lavrov mengatakan Barat dapat mengambil uang dari Rusia kapan saja di masa depan jika situasinya tetap tidak berubah.
"...'Gazprom' terpaksa menyimpan uang di rekeningnya di bank-bank Barat (sesuai dengan aturan Anda)," ujar Lavrov.
Dia menambahkan, "Sekarang kami mengusulkan agar pengiriman dianggap dibayar bukan ketika Gazprombank mendapatkan euro atau dolar, tetapi ketika mereka diubah menjadi rubel, yang tidak bisa lagi dicuri."
Menteri luar negeri itu mencatat, "Tidak ada perubahan untuk pembeli," karena mereka masih membayar jumlah energi yang ditentukan dalam kontrak dalam euro dan dolar, dan konversi akan dilakukan setelah itu.
"Kami tidak punya hak di hadapan rakyat kami sendiri untuk membiarkan Barat melanjutkan kebiasaan mencuri," tegas Lavrov.
Lavrov mengungkapkan keterkejutannya pada fakta bahwa Italia berada di garda depan mendorong inisiatif sanksi terhadap Rusia, karena aneh melihat ini, mengingat hubungan dekat antara Roma dan Moskow.
"Italia berada di garis depan dari mereka yang tidak hanya menerima sanksi anti-Rusia, tetapi juga mengajukan inisiatif dengan segala cara yang mungkin. Sungguh aneh bagi saya untuk melihatnya, tetapi sekarang kita sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa Italia dapat seperti itu," ujar dia.
Berbicara tentang situasi global, kemungkinan perang nuklir mengingat peristiwa terkini dan perlombaan senjata, dia mencatat bahwa Rusia tidak pernah menghentikan upaya yang bertujuan mencegah perang nuklir.
“Rusia tidak pernah menghentikan upaya mencapai kesepakatan yang akan menjamin tidak dimulainya perang nuklir,” papar dia.
Adapun persenjataan terbarunya, Moskow terpaksa mengembangkan senjata hipersonik, mengetahui bahwa sistem pertahanan rudal AS akan diarahkan melawan Rusia, menurut Lavrov.
“Kami terpaksa mengembangkan senjata hipersonik, karena kami tahu betul bahwa sistem pertahanan rudal AS akan diarahkan bukan ke Korea Utara dan Iran, tetapi melawan Rusia dan kemudian China,” papar dia.
"...'Gazprom' terpaksa menyimpan uang di rekeningnya di bank-bank Barat (sesuai dengan aturan Anda)," ujar Lavrov.
Dia menambahkan, "Sekarang kami mengusulkan agar pengiriman dianggap dibayar bukan ketika Gazprombank mendapatkan euro atau dolar, tetapi ketika mereka diubah menjadi rubel, yang tidak bisa lagi dicuri."
Menteri luar negeri itu mencatat, "Tidak ada perubahan untuk pembeli," karena mereka masih membayar jumlah energi yang ditentukan dalam kontrak dalam euro dan dolar, dan konversi akan dilakukan setelah itu.
"Kami tidak punya hak di hadapan rakyat kami sendiri untuk membiarkan Barat melanjutkan kebiasaan mencuri," tegas Lavrov.
Lavrov mengungkapkan keterkejutannya pada fakta bahwa Italia berada di garda depan mendorong inisiatif sanksi terhadap Rusia, karena aneh melihat ini, mengingat hubungan dekat antara Roma dan Moskow.
"Italia berada di garis depan dari mereka yang tidak hanya menerima sanksi anti-Rusia, tetapi juga mengajukan inisiatif dengan segala cara yang mungkin. Sungguh aneh bagi saya untuk melihatnya, tetapi sekarang kita sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa Italia dapat seperti itu," ujar dia.
Berbicara tentang situasi global, kemungkinan perang nuklir mengingat peristiwa terkini dan perlombaan senjata, dia mencatat bahwa Rusia tidak pernah menghentikan upaya yang bertujuan mencegah perang nuklir.
“Rusia tidak pernah menghentikan upaya mencapai kesepakatan yang akan menjamin tidak dimulainya perang nuklir,” papar dia.
Adapun persenjataan terbarunya, Moskow terpaksa mengembangkan senjata hipersonik, mengetahui bahwa sistem pertahanan rudal AS akan diarahkan melawan Rusia, menurut Lavrov.
“Kami terpaksa mengembangkan senjata hipersonik, karena kami tahu betul bahwa sistem pertahanan rudal AS akan diarahkan bukan ke Korea Utara dan Iran, tetapi melawan Rusia dan kemudian China,” papar dia.
Lihat Juga :