Mengenal Phoenix Ghost, Drone Hantu AS untuk Ukraina Lawan Rusia

Sabtu, 23 April 2022 - 11:56 WIB
loading...
Mengenal Phoenix Ghost,...
AS akan memasok drone misterius Phoenix Ghost ke Ukraina untuk melawan invasi Rusia. Foto/ABC-CBN News
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyatakan bahwa Washington akan memberi Ukraina bantuan keamanan baru senilai USD800 juta. Menurut Pentagon, bantuan itu mencakup 72 Howitzer, 144.000 peluru artileri, komponen dan peralatan lainnya, dan lebih dari 121 drone taktis Phoenix Ghost.

Drone Phoenix Ghost sebelumnya tidak pernah terdengar di dunia militer dan tiba-tiba Amerika akan mengirimkannya ke Ukraina untuk melawan invasi Rusia.

Pada kenyataannya, kendaraan udara yang ramai disebut sebagai "drone hantu" itu dikembangkan oleh perusahaan yang berbasis di California, dan mampu menargetkan objek lapis baja sedang sambil tetap berada di udara lebih lama.

Menurut laporan Politico, Sabtu (23/4/2022), AEVEX Aerospace, yang berbasis di California, mengembangkan pesawat nirawak misterius tersebut.

Baca juga: AS Rancang Drone Hantu untuk Ukraina, Cocok Dipakai Bertempur di Donbass

Perusahaan ini didirikan pada tahun 2017 dan mempekerjakan 500 pekerja dengan kantor di California, North Carolina, dan Virginia.

Phoenix Ghost tidak termasuk dalam daftar produk di situs web perusahaan, yang berisi sejumlah drone untuk berbagai kegunaan.

AEVEX dilaporkan memiliki tempat pelatihan di Roswell, New Mexico, tempat Phoenix Ghost kemungkinan besar diuji coba.

"Phoenix Ghost adalah jenis pesawat yang berbeda, itu adalah pesawat satu arah yang efektif terhadap target darat lapis baja menengah," kata pensiunan Letnan Jenderal David Deptula, dekan di Mitchell Institute for Aerospace Studies yang juga anggota dewan direksi AEVEX.

Menurut laporan tersebut, drone misterius ini dapat lepas landas secara vertikal, terbang selama enam jam atau lebih untuk mencari atau melacak target, dan menggunakan sensor inframerah untuk beroperasi di malam hari.

Lebih dari itu, Phoenix Ghost memiliki kemampuan berkeliaran lebih lama daripada drone Switchblade, yang hanya bisa terbang sekitar satu jam.

AEVEX adalah hasil penggabungan tiga perusahaan yang berhubungan dengan pertahanan: Merlin Global Services, CSG Solutions, dan Special Operations Solutions.

Pengembangan jalur cepat disebut sebagai bagian dari dorongan Pentagon yang lebih besar untuk bekerja dengan usaha kecil untuk mengembangkan dan membeli teknologi baru di luar hierarki akuisisi yang berat yang sering menghambat atau membunuh ide-ide inovatif.

Juru bicara Pentagon John Kirby pada awal pekan ini mengatakan program pesawat tak berawak Phoenix Ghost Angkatan Udara, yang sudah dalam pengembangan selama beberapa waktu sebelum operasi militer khusus yang sedang berlangsung dimulai pada akhir Februari, memenuhi kriteria tepat Ukraina dan memiliki kemampuan serupa dengan drone AeroVironment Switchblade.

Switchblade adalah drone seberat 5,5 lb (sekitar 2,5 kg) yang dapat berkeliaran di suatu area selama 30 hingga 40 menit sebelum menabrak targetnya dan meledakkan hulu ledak kecil. AS mulai menyebarkannya ke Ukraina pada bulan April.

Menurut seorang pejabat senior Pentagon pada konferensi pers Kamis ini, drone Phoenix Ghost dibuat sebagai tanggapan terhadap spesifikasi Ukraina dan akan membutuhkan pelatihan minimal.

“Apa yang dapat saya katakan tentang [drone] Phoenix Ghost adalah ini dikembangkan dengan cepat oleh Angkatan Udara [AS] sebagai tanggapan khusus terhadap persyaratan Ukraina,” kata pejabat itu.

“Ini akan membutuhkan beberapa pelatihan minimal untuk operator UAS [sistem pesawat tak berawak] yang berpengetahuan luas untuk dapat menggunakannya, dan kami akan bekerja melalui persyaratan pelatihan tersebut secara langsung dengan Angkatan Bersenjata Ukraina.”
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Kisah Anjing Lucu Curi...
Kisah Anjing Lucu Curi Perhatian selama Piala Dunia 2026, Punya Arti Spesial buat Pemiliknya
Rekomendasi
Rosan Roeslani: Dukungan...
Rosan Roeslani: Dukungan Prabowo Jadi Kunci Lahirnya Juara Dunia
Tak Punya Izin, DPRD...
Tak Punya Izin, DPRD Kota Bogor Desak Pembangunan Hotel Prima Katulampa Dihentikan
Mengapa Anak Yatim Begitu...
Mengapa Anak Yatim Begitu Istimewa di Mata Allah? Ini Penjelasannya
Berita Terkini
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved