Bolton: Trump Minta Bantuan Presiden China agar Menang Pilpres 2020

Kamis, 18 Juni 2020 - 14:46 WIB
loading...
Bolton: Trump Minta...
Presiden Amerika Serikat Donald John Trump (kiri) saat bertemu Presiden Republik Rakyat China Xi Jinping. Foto/REUTERS/Kevin Lamarque/File Photo
A A A
WASHINGTON - John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS), John Bolton telah melontarkan tuduhan yang mencengangkan terhadap mantan bosnya, Presiden Donald Trump .

Dia mengklaim mantan bosnya itu secara pribadi meminta bantuan Presiden China Xi Jinping untuk memenangkannya dalam pemilihan presiden (pilpres) 2020. Tuduhan itu muncul dalam memoar Bolton berjudul "The Room Where It Happened", yang salinannya diperoleh CNN hari Rabu.

Bolton, dalam memoarnya, juga mengklaim Xi pernah mengatakan kepada Trump tahun lalu bahwa China sedang membangun kamp konsentrasi untuk penahanan massal Muslim Uighur. "Trump mengatakan Xi harus terus membangun kamp, yang menurutnya adalah hal yang tepat untuk dilakukan," tulis Bolton dalam buku yang saat ini dicegah Gedung Putih untuk dirilis. (Baca: Bolton: Trump Pikir Keren Menginvasi Venezuela, tapi Batal karena Putin )

Tuduhan Bolton bahwa Trump meminta bantuan China untuk menang lagi dalam pilpres AS 2020 kembali menggemakan upaya Trump untuk mendapatkan bantuan politik dari Ukraina, yang pernah mengarah pada impeachment-nya beberapa bulan lalu.

"Saya kesulitan untuk mengidentifikasi keputusan Trump yang signifikan selama masa jabatan saya yang tidak didorong oleh kalkulasi pemilu ulang-nya," tulis Bolton.

Buku setebal 577 halaman itu menggambarkan Trump dan pemerintahannya yang tidak "dicat", yang merupakan kisah orang pertama yang paling jelas tentang bagaimana Trump memimpin dirinya sendiri di kantor.

Beberapa mantan pejabat lain telah menulis buku, tetapi sebagian besar telah menyanjung presiden. Mantan pejabat lain telah mengindikasikan bahwa mereka menyimpan "materi" mereka dari waktu mereka bekerja untuk Trump sampai setelah dia meninggalkan kantor Gedung Putih untuk berbicara lebih jujur.

Bolton menyebut upaya Trump untuk mengalihkan pembicaraan Juni 2019 dengan Xi ke pilpres AS sebagai langkah yang menakjubkan. Dia menulis bahwa itu adalah di antara banyak sekali percakapan yang dia temukan.

Dia menambahkan bahwa Kongres seharusnya memperluas ruang lingkup penyelidikan pemakzulan terhadap insiden-insiden lain seperti itu.

Dia menambahkan bahwa ketika dia berada di Gedung Putih, Trump biasanya hanya memiliki dua briefing intelijen seminggu."Dan di sebagian besar dari itu, dia berbicara lebih panjang daripada briefing, sering pada hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan subjek yang ada," katanya, seperti dikutip AP, Kamis (18/6/2020).

Trump telah ditanya Fox News tentang buku Bolton. Namun, dia berpaling ke penghinaan pribadi dengan menyebut Bolton; "Seorang lelaki yang baru saja mandi. Saya memberinya kesempatan."

Dia juga mempermasalahkan salinan buku yang dirilis. “Dia melanggar hukum. Sangat sederhana. Maksud saya, sebanyak itu akan rusak," paparnya.

"Ini informasi yang sangat rahasia dan dia tidak memiliki persetujuan," imbuh Trump. (Baca juga: Trump: Bolton Akan Melanggar Hukum Jika Dia Terbitkan Buku )

Buku itu juga memuat klaim memalukan bahwa Trump mengira Finlandia adalah bagian dari Rusia, tidak tahu bahwa Inggris adalah negara kekuatan nuklir dan menyebut wartawan "bajingan" yang harus "dieksekusi."

Adapun pertemuan dengan Presiden China di Osaka, Jepang, Bolton menulis bahwa Trump mengatakan kepada Xi bahwa Demokrat memusuhi China.

"Dia kemudian, secara menakjubkan, mengalihkan pembicaraan ke pilpres AS mendatang, menyinggung kemampuan ekonomi China untuk memengaruhi kampanye yang sedang berlangsung, memohon kepada Xi untuk memastikan dia menang," kata Bolton.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Sebulan Ditahan di Libya,...
Sebulan Ditahan di Libya, Tiga Aktivis Pro Palestina Akhirnya Bebas
Harga BBM di AS Belum...
Harga BBM di AS Belum Turun Signifikan, Trump Sebut Konsumen Ditipu
Rekomendasi
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
Klasemen Akhir Grup...
Klasemen Akhir Grup B Piala Dunia 2026: Swiss dan Kanada Tembus 32 Besar, Qatar Tersingkir
Buku Sang Arsitek Presisi...
Buku Sang Arsitek Presisi Polri Ulas Kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo
Berita Terkini
Eropa Terasa Dipanggang!...
Eropa Terasa Dipanggang! Suhu Mencapai 44 Derajat Celsius
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
Bill Gates Ngaku Jadi...
Bill Gates Ngaku Jadi Korban Epstein, tapi Fakta Berbicara Lain
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Infografis
Presiden AS Donald Trump...
Presiden AS Donald Trump Kecam Serangan India ke Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved