Akhirnya, China Nyatakan Sikap Terhadap Konflik Ukraina

Jum'at, 18 Maret 2022 - 21:42 WIB
loading...
Akhirnya, China Nyatakan...
China menyatakan bersikap independent atas konflik di Ukraina. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A A A
BEIJING - China mempertahankan sikap independen terhadap krisis Ukraina . Hal itu diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, selama konferensi pers pada hari Jumat (18/3/2022).

Pernyataan itu muncul sebagai tanggapan atas ancaman yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken, yang pada hari Kamis memperingatkan China bahwa Washington akan "memberikan harga" jika Beijing memilih untuk mendukung Moskow.

“Pada masalah Ukraina, China selalu bertindak secara objektif dan tidak memihak serta membuat penilaian independen berdasarkan manfaat dari masalah itu sendiri,” kata Lijian seperti dikutip dari Russia Today.



Diplomat China itu juga menekankan bahwa tekanan dari Washington tidak akan membuat Beijing mengubah pendiriannya. Dia menambahkan bahwa beberapa pejabat AS masih berusaha menyebarkan disinformasi mengenai posisi China, sesuatu yang digambarkan Lijian sebagai tidak bertanggung jawab dan tidak kondusif untuk penyelesaian krisis.

Dalam pandangan China, kata Lijian, AS harus secara serius merenungkan perannya dalam krisis Ukraina, serta dengan sungguh-sungguh memikul tanggung jawab yang semestinya.

Lijian juga meminta Washington untuk mengambil tindakan praktis untuk meredakan situasi dan menyelesaikan masalah, daripada terus menambah "bensin ke api."

Pada hari Jumat, Presiden AS Joe Biden dan koleganya dari China Xi Jinping akan mengadakan pembicaraan melalui telepon, dengan agenda utama krisis Ukraina. Biden diperkirakan akan mengulangi peringatan yang dibuat sebelumnya oleh Blinken mengenai kemungkinan tindakan yang mungkin diambil jika China “mendukung agresi Rusia .”

Baca juga: Besok, Biden Akan Telepon Jinping Bahas Rusia-Ukraina

Pada hari Kamis, juru bicara Kementerian Perdagangan China, Gao Feng, menjelaskan bahwa China menentang segala bentuk sanksi sepihak yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional.

Menurut pejabat China tersebut, tindakan hukuman semacam itu tidak hanya gagal menyelesaikan masalah keamanan, tetapi juga membahayakan kehidupan orang-orang biasa, mengganggu pasar global, dan membuat ekonomi dunia yang sudah melambat menjadi lebih buruk.

Pernyataan itu muncul setelah peringatan Jake Sullivan ke China pada hari Minggu, di mana penasihat keamanan nasional Joe Biden itu memperingatkan bahwa Beijing akan "benar-benar" menghadapi konsekuensi jika itu membantu Moskow menghindari sanksi Barat.

Sejak 24 Februari, ketika Rusia melancarkan serangan militernya terhadap Ukraina, AS, Kanada, seluruh Uni Eropa, serta beberapa negara lain, telah menjatuhkan sejumlah sanksi ekonomi yang melumpuhkan terhadap Moskow. Bank sentral negara itu dan beberapa bank komersial besar, serta seluruh industri, telah menjadi sasaran.

Baca juga: Diminta NATO Tidak Dukung Rusia, China Beri Jawaban Menohok

China sendiri secara konsisten menolak untuk memberlakukan tindakan hukuman terhadap Rusia.

Moskow menyerang tetangganya bulan lalu setelah kebuntuan tujuh tahun atas kegagalan Ukraina untuk menerapkan ketentuan perjanjian Minsk 2014-15, dan berujung pada pengakuan Rusia atas republik Donbass di Donetsk dan Lugansk. Protokol yang ditengahi Jerman dan Prancis telah dirancang untuk mengatur status wilayah-wilayah tersebut di dalam negara Ukraina.

Rusia juga menguraikan tujuan untuk “demiliterisasi” dan “denazifikasi” negara tersebut. Kiev menyatakan bahwa serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan telah membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali kedua republik di timur negara itu dengan paksa.

Baca juga: AS Tuding Rusia Cari Bantuan ke China, Beijing: Tuduhan Palsu!
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Harga Minyak Dunia Naik,...
Harga Minyak Dunia Naik, Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Belum Pulih
Rekomendasi
Kuasa Hukum Prioritaskan...
Kuasa Hukum Prioritaskan Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan saat Penyerahan ke Kejaksaan
Perkuat Nasionalisme,...
Perkuat Nasionalisme, TNI Gelar Nobar Kebangsaan Piala Dunia 2026 di 1.500 Lokasi
Ungkap Kondisi Terkini...
Ungkap Kondisi Terkini Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Masih Terpasang Infus
Berita Terkini
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved