Thailand Ingin Miliki Jet Tempur Siluman F-35 Bikin AS Dilema
Kamis, 17 Februari 2022 - 13:35 WIB
loading...
A
A
A
Andreas Rupprecht, seorang ahli penerbangan militer China, mengatakan minat terhadap jet tempur AS mengejutkan."Karena Thailand telah lebih banyak bergeser ke arah China dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.
“Saya akan berpikir [Angkatan Udara Thailand] akan memilih sesuatu seperti J-10C buatan China, terutama setelah jet tempur China mengambil bagian dalam latihan bersama Angkatan Udara China-Thailand baru-baru ini,” kata Rupprecht.
J-10C adalah pesawat tempur multiperan Angkatan Udara China, 25 di antaranya dijual ke Pakistan.
Pembelian jet tempur AS juga mendapat kritik di Thailand, dengan beberapa analis mengatakan itu lebih tentang motif tersembunyi daripada tujuan strategis.
“Kepentingan Angkatan Udara Thailand pada F-35 adalah oportunistik karena pemerintah yang didukung militer sedang menjabat dan militer telah bercokol dalam kekuasaan setelah dua kudeta pada 2006 dan 2014,” kata Thitinan Pongsudhirak, seorang ilmuwan politik terkemuka dan profesor di Universitas Chulalongkorn.
“Tidak seperti Jepang, Korea Selatan atau Taiwan, persepsi ancaman Thailand tidak menuntut akuisisi F-35 yang canggih,” kata Thitinan.
“Thailand memiliki hubungan dekat dengan China, dan tidak ada masalah perbatasan dengan tetangga sebelahnya.”
Hubungan militer Thailand yang berkembang dengan China adalah salah satu alasan utama mengapa AS enggan menjual pesawat canggih mereka ke Bangkok. Demikian disampaikan Ian Storey, senior fellow di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.
“Thailand adalah sekutu perjanjian AS, sehingga memiliki kasus yang kuat,” ujar Storey.
“Tetapi Amerika masih akan khawatir bahwa teknologi sensitif jet tempur itu mungkin dikompromikan oleh militer Thailand dengan mitranya dari China,” katanya.
"AS mengusir Turki program F-35 karena terlalu nyaman dengan Rusia,” imbuh Bitzinger, yang mengaitkan penghentian penjualan 100 unit F-35A ke Ankara pada 2019 dengan keputusan Turki untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia.
Sebuah pernyataan oleh Gedung Putih pada saat itu mengatakan: “F-35 tidak dapat hidup berdampingan dengan platform pengumpulan intelijen Rusia yang akan digunakan untuk mempelajari kemampuan canggihnya.”
Bitzinger membandingkan dengan harapan Thailand untuk memperoleh F-35.
“Thailand sudah membeli banyak persenjataan China: fregat, kapal selam, dan tank hanyalah beberapa item terbaru yang dibeli dari China,” katanya.
“Saya akan berpikir [Angkatan Udara Thailand] akan memilih sesuatu seperti J-10C buatan China, terutama setelah jet tempur China mengambil bagian dalam latihan bersama Angkatan Udara China-Thailand baru-baru ini,” kata Rupprecht.
J-10C adalah pesawat tempur multiperan Angkatan Udara China, 25 di antaranya dijual ke Pakistan.
Pembelian jet tempur AS juga mendapat kritik di Thailand, dengan beberapa analis mengatakan itu lebih tentang motif tersembunyi daripada tujuan strategis.
“Kepentingan Angkatan Udara Thailand pada F-35 adalah oportunistik karena pemerintah yang didukung militer sedang menjabat dan militer telah bercokol dalam kekuasaan setelah dua kudeta pada 2006 dan 2014,” kata Thitinan Pongsudhirak, seorang ilmuwan politik terkemuka dan profesor di Universitas Chulalongkorn.
“Tidak seperti Jepang, Korea Selatan atau Taiwan, persepsi ancaman Thailand tidak menuntut akuisisi F-35 yang canggih,” kata Thitinan.
“Thailand memiliki hubungan dekat dengan China, dan tidak ada masalah perbatasan dengan tetangga sebelahnya.”
Hubungan militer Thailand yang berkembang dengan China adalah salah satu alasan utama mengapa AS enggan menjual pesawat canggih mereka ke Bangkok. Demikian disampaikan Ian Storey, senior fellow di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.
“Thailand adalah sekutu perjanjian AS, sehingga memiliki kasus yang kuat,” ujar Storey.
“Tetapi Amerika masih akan khawatir bahwa teknologi sensitif jet tempur itu mungkin dikompromikan oleh militer Thailand dengan mitranya dari China,” katanya.
"AS mengusir Turki program F-35 karena terlalu nyaman dengan Rusia,” imbuh Bitzinger, yang mengaitkan penghentian penjualan 100 unit F-35A ke Ankara pada 2019 dengan keputusan Turki untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia.
Sebuah pernyataan oleh Gedung Putih pada saat itu mengatakan: “F-35 tidak dapat hidup berdampingan dengan platform pengumpulan intelijen Rusia yang akan digunakan untuk mempelajari kemampuan canggihnya.”
Bitzinger membandingkan dengan harapan Thailand untuk memperoleh F-35.
“Thailand sudah membeli banyak persenjataan China: fregat, kapal selam, dan tank hanyalah beberapa item terbaru yang dibeli dari China,” katanya.
Lihat Juga :