Iran Akui Punya 25 Kg Uranium Pengayaan 60%, Barat Makin Khawatir
Sabtu, 06 November 2021 - 00:00 WIB
loading...
A
A
A
Pengungkapan Kamalvandi datang hanya beberapa hari setelah negosiator nuklir utama Iran, Ali Bagheri Kani, menjelaskan Teheran telah setuju memulai kembali negosiasi di Wina pada 29 November 2021.
Baca juga: Gara-gara Kritik Kontestan Miss France yang Berdarah Israel, 7 Orang Didenda
Pernyataan itu dikonfirmasi badan tindakan eksternal Uni Eropa tak lama setelah itu.
Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama pada akhir Oktober di konferensi G20, yang mengungkapkan, "Keprihatinan yang mendalam dan berkembang atas program atom Republik Islam. Negara-negara tersebut juga mendesak Presiden Ebrahim Raisi untuk kembali ke upaya itikad baik untuk menyelesaikan negosiasi kita sebagai hal yang mendesak.”
Pembicaraan tentang menghidupkan kembali Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) telah terhenti sejak Raisi menjabat pada Agustus.
Kesepakatan itu awalnya ditandatangani pada 2015 antara Teheran, Beijing, Paris, Moskow, London, Washington, dan Berlin.
Baca juga: Gara-gara Kritik Kontestan Miss France yang Berdarah Israel, 7 Orang Didenda
Pernyataan itu dikonfirmasi badan tindakan eksternal Uni Eropa tak lama setelah itu.
Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama pada akhir Oktober di konferensi G20, yang mengungkapkan, "Keprihatinan yang mendalam dan berkembang atas program atom Republik Islam. Negara-negara tersebut juga mendesak Presiden Ebrahim Raisi untuk kembali ke upaya itikad baik untuk menyelesaikan negosiasi kita sebagai hal yang mendesak.”
Pembicaraan tentang menghidupkan kembali Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) telah terhenti sejak Raisi menjabat pada Agustus.
Kesepakatan itu awalnya ditandatangani pada 2015 antara Teheran, Beijing, Paris, Moskow, London, Washington, dan Berlin.
Lihat Juga :