Korut: Pengembangan Senjata Baru adalah Pilihan Tak Terhindarkan

Jum'at, 05 November 2021 - 06:39 WIB
loading...
Korut: Pengembangan...
Uji coba misil Korea Utara. FOTO/Yonhap
A A A
SEOUL - Kementerian luar negeri Korea Utara (Korut) menyatakan, pengembangan senjata baru adalah pilihan tak terhindarkan untuk mencegah perang dan melindungi rakyatnya. Kementerian itu juga menuduh Amerika Serikat (AS) memiliki standar ganda dalam pertahanan diri melawan Pyongyang.

“Penguatan kemampuan pertahanan diri kami adalah pilihan yang tak terhindarkan untuk mencegah perang dan melindungi kedaulatan, martabat, dan hak rakyat negara kami untuk bertahan hidup dan berkembang,” kata kementerian itu dalam sebuah catatan yang diposting di situs webnya, seperti dikutip dari Yonhap, Jumat (4/11/2021).

Baca: Terungkap, Korut Bisa Produksi Lebih Banyak Uranium daripada Tingkat Sekarang

Dalam dua bulan terakhir, Korut melakukan serangkaian peluncuran rudal. Termasuk uji coba rudal balistik kapal selam (SLBM) pada bulan Oktober. kementerian itu mengatakan, AS dan negara-negara Barat lainnya mengkritik perkembangan militer Korut, namun tetap diam atas tindakan serupa yang dilakukan Korea Selatan.

"Ini adalah penilaian yang akurat atas tindakan tidak adil dari standar ganda AS dan negara-negara Barat yang secara membabi buta mempermasalahkan langkah-langkah kami untuk memperkuat kemampuan pertahanan nasional," katanya.

Sementara itu, Kepala Staf Gabungan militer AS, Jenderal Mark Milley mengatakan bahwa konflik yang tidak disengaja dengan Korut tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat. Ia juga menolak kemungkinan sesuatu yang tidak disengaja terjadi di Korut atau militernya dalam waktu dekat.

Baca: Korut Tuduh AS Terapkan Standar Ganda Dalam Menyetujui Proliferasi Nuklir

"Saya akan mengatakan bahwa pemerintah Korut pada saat ini tampaknya stabil dan mereka memiliki kontrol yang baik atas militer mereka dan sistem mereka dan semua persenjataan mereka," kata perwira tinggi militer AS itu dalam sebuah forum yang diselenggarakan oleh lembaga pemikir Aspen Institute di Washington.

"Jadi saya tidak berpikir, Anda akan melihat sesuatu yang tidak disengaja terjadi dari mereka. Itu bisa, tetapi saya tidak berpikir itu sangat mungkin. Mereka memiliki kontrol yang sangat-sangat ketat atas sistem mereka," tambahnya.

Milley mencatat hal-hal buruk bisa terjadi dengan cepat di Semenanjung Korea dengan 70 persen militer Korut dikerahkan "dalam jarak bermil-mil" dari perbatasan antar-Korea, yang disebut Zona Demiliterisasi (DMZ).

Baca: Ekonomi Sengsara, Rakyat Kim Jong-un Disuruh Makan Angsa Hitam

"Semenanjung adalah salah satu daerah yang sangat termiliterisasi. Tujuh puluh persen militer Korut berada dalam jarak bermil-mil dari DMZ, dalam beberapa mil dari Seoul. Jadi, hal-hal buruk bisa terjadi di semenanjung Korea dalam waktu yang relatif singkat. Jadi, kami selalu menjaga kesiapan yang sangat, sangat tinggi sehubungan dengan semenanjung Korea," tambahnya.

Milley mengatakan, niat sebenarnya dari Korut mungkin sulit untuk diketahui. Tetapi, AS dan Korea Selatan tetap siap untuk melawan setiap agresi dari Utara kapan saja. "Korut adalah salah satu negara tersulit di dunia untuk mengetahui niat mereka karena banyak alasan. Terutama karena mereka adalah masyarakat totaliter yang sangat-sangat tertutup," kata Milley.

"Tetapi, militer Korsel sangat mampu. Militer kami sangat mampu. Jadi, saya yakin bahwa pasukan gabungan AS dan Republik Korea dapat menangani apa pun yang ada dalam pikiran Korut," tambahnya.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Analis Israel: Kesepakatan...
Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
14 Poin Perdamaian Iran...
14 Poin Perdamaian Iran dan AS, Ada Dana Rekonstruksi Senilai Rp5.316 Triliun yang Dibayar Negara-negara Arab
Trump Marahi Netanyahu:...
Trump Marahi Netanyahu: 'Mengapa Harus Lakukan Serangan Sialan Itu?'
Pesawat Terjun Payung...
Pesawat Terjun Payung Jatuh di AS, 12 Orang Tewas
Eks PM Israel Serukan...
Eks PM Israel Serukan Netanyahu Digulingkan dengan Tongkat dan Batu
Kapten Iran: Perang...
Kapten Iran: Perang Merampas Euforia Piala Dunia 2026
Presiden Jerman Akan...
Presiden Jerman Akan Kunjungi Jakarta 15 Juni, Boyong Delegasi Bisnis dan Peneliti
Putin Akui Ekonomi Rusia...
Putin Akui Ekonomi Rusia Hancur akibat Serangan Ukraina: Tapi Kami Cepat Pulih
Rekomendasi
Ceferin Bilang Piala...
Ceferin Bilang Piala Dunia 2026 Tak Menarik, 13 Negara Murka
Istana Wapres Sebut...
Istana Wapres Sebut Tidak Ada Kesepakatan soal Tenggat Waktu Realisasikan Tuntutan Mahasiswa
Janji Tesla 10 Tahun...
Janji Tesla 10 Tahun Lalu Diwujudkan Xiaomi: Robot Charger EV Otomatis
Berita Terkini
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
Dunia Sambut Positif...
Dunia Sambut Positif Perdamaian AS dan Iran, Hanya Israel yang Marah
Perdamaian Segera Terwujud,...
Perdamaian Segera Terwujud, Militer Iran: Keinginan Rakyat Sudah Dipaksakan kepada Musuh
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved