Mantan Mata-mata Saudi Klaim Anak-anaknya Disandera Putra Mahkota MBS

Sabtu, 23 Oktober 2021 - 01:59 WIB
loading...
Mantan Mata-mata Saudi...
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman dituduh menyandera anak-anak mantan pejabat intelijen Arab Saudi yang lari ke Kanada. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Seorang mantan pejabat tinggi intelijen pemerintah Arab Saudi menuduh Putra Mahkota Mohammad bin Salman (MBS) berencana untuk membunuhnya. Dia juga mengeklaim penguasa de facto kerajaan itu telah menyandera anak-anaknya.

Saad Aljabri melontarkan tuduhan ini dalam wawancara pertamanya dengan jurnalis CBS; Scott Pelley, yang akan disiarkan dalam program 60 Minutes pada Minggu (24/10/2021) waktu Amerika Serikat (AS).

Aljabri melarikan diri dari Arab Saudi pada 2017 dan saat ini tinggal di Kanada.

Baca juga: Cerita Gairah Seks Raja Juan Carlos Meledak-ledak, Tiduri Hampir 5.000 Wanita

Dia mengatakan Pangeran MBS pernah mengirim regu pembunuh ke Kanada beberapa hari setelah kolumnis Washington Post Jamal Khashoggi dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018. Komunitas intelijen AS mengatakan bahwa MBS menyetujui operasi terhadap Khashoggi.

Dua anak Aljabri, Sarah dan Omar, telah dicegah meninggalkan Arab Saudi sejak Pangeran MBS menjadi putra mahkota pada tahun 2017. Menurut Aljabri, kedua anaknya sekarang berada di penjara Arab Saudi, seperti juga menantunya. Semuanya dituduh melakukan kejahatan keuangan.

Aljabri mengajukan gugatan terhadap Putra Mahkota MBS di Amerika Serikat. Sebuah perusahaan Arab Saudi juga menggugat Aljabri di Kanada dengan mengklaim bahwa dia dan mantan bosnya, Pangeran Mohammed bin Nayef, mencuri miliaran dari perusahaan Arab Saudi. Mohammed bin Nayef digulingkan sebagai putra mahkota pada 2017 dan sepupunya, MBS menggantikan posisinya.

"Bin Salman telah mengambil anak-anak saya, Sarah dan Omar, sebagai sandera sebagai bagian dari plotnya," kata Aljabri, yang sebagian wawancaranya diterbitkan Jumat (22/10/2021).

Dalam wawancara itu Aljabri menunjukkan bahwa pasukan pembunuh bayaran dikirim pada saat mendiang jurnalis pembangkang Jamal Khashoggi terbunuh.

Putra Aljabri yang lain, Khalid, di media sosial mengumumkan bahwa ayahnya telah memutuskan untuk memecah kebisuannya. "Setelah menghabiskan setiap jalan untuk mengamankan kebebasan saudara-saudara saya," katanya.

"MBS mengambil Sarah dan Omar sebagai sandera untuk memeras ayah saya di hari pertamanya sebagai putra mahkota," kata Kahlid di Twitter.

Aljabri sebelumnya telah menuntut MBS karena berusaha membunuhnya saat berada di pengasingan di Kanada oleh pasukan yang sama yang membunuh Khashoggi.

Baca juga: NATO Ungkap Strategi Besar Kalahkan Rusia dalam Perang Nuklir Habis-habisan

MBS telah membantah klaim tersebut dan menuduh Aljabri menggelapkan dana perusahaan Saudi.

Aljabri adalah salah satu rekan dekat putra mahkota terguling Mohammed bin Nayef. Dia telah memegang peran keamanan yang signifikan dalam perang melawan al-Qaeda setelah serangan 11 September 2001 di AS.

Kedua anaknya ditangkap oleh pihak berwenang Saudi, dan dipenjara dalam sebuah langkah yang Aljabri katakan sebagai upaya untuk memerasnya dan menekannya untuk kembali ke kerajaan.

Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi di Washington mengeluarkan pernyataan untuk program 60 Minutes, yang sebagian berbunyi: "Saad Aljabri adalah mantan pejabat pemerintah yang didiskreditkan dengan sejarah panjang mengarang dan membuat gangguan untuk menyembunyikan kejahatan keuangan yang dia lakukan, yang jumlahnya miliaran dollar, untuk memberikan gaya hidup mewah untuk dirinya dan keluarganya. Dia tidak menyangkal kejahatannya, bahkan dia menyiratkan bahwa mencuri dapat diterima pada saat itu. Tapi itu dapat diterima atau legal saat itu, dan itu tidak untuk sekarang."
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Aktor Breaking Bad Giancarlo...
Aktor 'Breaking Bad' Giancarlo Esposito Masuk Islam saat Syuting di Arab Saudi
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
Iran Serang Kuwait,...
Iran Serang Kuwait, Arab Saudi: Itu Jahat!
Permudah Layanan Jemaah...
Permudah Layanan Jemaah Haji dan Umrah Indonesia, BSI Bakal Hadir di Arab Saudi
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
PM Belanda Rob Jetten...
PM Belanda Rob Jetten Minta Maaf kepada Tentara Maluku
Rekomendasi
MLSC All-Stars 2026:...
MLSC All-Stars 2026: 12 Tim Terbaik Siap Berebut Gelar Juara di Kudus
Dari Sopir Bus Mendadak...
Dari Sopir Bus Mendadak Jadi Pemimpin Negara? Ini Serunya Microdrama Love In A Fallen Nation di V+Short
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
Profil Gatot Nurmantyo,...
Profil Gatot Nurmantyo, Mantan Panglima TNI yang Masuk Bursa Menko Polkam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved