Kado Ultah, Wanita Israel Ini Donorkan Ginjalnya untuk Bocah Gaza
Kamis, 29 Juli 2021 - 15:31 WIB
loading...
A
A
A
Untuk sesaat, ada keheningan. Dan kemudian ayahnya berbicara.
"Yah," katanya, "dia juga membutuhkan kehidupan."
Baca juga: Marahnya Israel Diboikot Es Krim Ben & Jerry's, Menyebutnya Terorisme
Israel telah mempertahankan blokade ketat atas Gaza sejak Hamas, sebuah kelompok militan Islam yang menentang keberadaan Israel, menguasai wilayah itu pada 2007.
Dua musuh bebuyutan tersebut telah berperang empat kali sejak itu, dan hanya sedikit warga Gaza yang diizinkan memasuki Israel. Dengan sistem perawatan kesehatan Gaza yang dirusak oleh konflik dan blokade selama bertahun-tahun, Israel memberikan izin masuk kepada sejumlah kecil pasien medis yang membutuhkan perawatan serius atas dasar kemanusiaan.
Matnat Chaim, sebuah organisasi non-pemerintah di Yerusalem, mengoordinasikan pertukaran itu, kata kepala eksekutif kelompok itu, Sharona Sherman.
"Kasus bocah Gaza itu rumit. Untuk mempercepat prosesnya, ayahnya, yang tidak cocok dengan putranya, diberitahu oleh rumah sakit bahwa jika dia akan mendonorkan ginjalnya ke penerima dari Israel, bocah itu akan segera masuk ke daftar teratas,” ungkap Sherman.
Pada hari yang sama putranya menerima ginjal baru, sang ayah menyumbangkan salah satu ginjalnya sendiri — kepada seorang ibu dua anak Israel berusia 25 tahun.
Di beberapa negara, timbal balik tidak diperbolehkan karena menimbulkan pertanyaan apakah donor telah dipaksa. Seluruh etika donasi organ didasarkan pada prinsip bahwa donor harus memberikan atas kehendak bebas mereka sendiri dan tidak mendapatkan imbalan apa pun.
Di Israel, sumbangan ayah dipandang sebagai insentif untuk meningkatkan kumpulan donor.
"Yah," katanya, "dia juga membutuhkan kehidupan."
Baca juga: Marahnya Israel Diboikot Es Krim Ben & Jerry's, Menyebutnya Terorisme
Israel telah mempertahankan blokade ketat atas Gaza sejak Hamas, sebuah kelompok militan Islam yang menentang keberadaan Israel, menguasai wilayah itu pada 2007.
Dua musuh bebuyutan tersebut telah berperang empat kali sejak itu, dan hanya sedikit warga Gaza yang diizinkan memasuki Israel. Dengan sistem perawatan kesehatan Gaza yang dirusak oleh konflik dan blokade selama bertahun-tahun, Israel memberikan izin masuk kepada sejumlah kecil pasien medis yang membutuhkan perawatan serius atas dasar kemanusiaan.
Matnat Chaim, sebuah organisasi non-pemerintah di Yerusalem, mengoordinasikan pertukaran itu, kata kepala eksekutif kelompok itu, Sharona Sherman.
"Kasus bocah Gaza itu rumit. Untuk mempercepat prosesnya, ayahnya, yang tidak cocok dengan putranya, diberitahu oleh rumah sakit bahwa jika dia akan mendonorkan ginjalnya ke penerima dari Israel, bocah itu akan segera masuk ke daftar teratas,” ungkap Sherman.
Pada hari yang sama putranya menerima ginjal baru, sang ayah menyumbangkan salah satu ginjalnya sendiri — kepada seorang ibu dua anak Israel berusia 25 tahun.
Di beberapa negara, timbal balik tidak diperbolehkan karena menimbulkan pertanyaan apakah donor telah dipaksa. Seluruh etika donasi organ didasarkan pada prinsip bahwa donor harus memberikan atas kehendak bebas mereka sendiri dan tidak mendapatkan imbalan apa pun.
Di Israel, sumbangan ayah dipandang sebagai insentif untuk meningkatkan kumpulan donor.
(ian)
Lihat Juga :