Iran Makin Dekat Peroleh Bom Nuklir, PM Israel dan Netanyahu Saling Menyalahkan
Kamis, 15 Juli 2021 - 14:26 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintahan Donald Trump meninggalkan JCPOA pada 2018, sebagai gantinya memilih sanksi berat untuk menekan Iran. Namun, pemerintahan Joe Biden memulai pembicaraan dengan Iran di Wina pada April untuk kembali ke JCPOA.
Putaran keenam negosiasi tidak langsung AS-Iran berakhir pada awal Juni, sebelum pemilu presiden di Iran. Ebrahim Raisi, seorang hakim yang bertanggung jawab atas ribuan eksekusi dan dijatuhi sanksi oleh AS atas pelanggaran hak asasi manusia, memenangkan pemilu tersebut.
Tanggal dimulainya kembali negosiasi, dan apakah Raisi akan memilih untuk melanjutkannya, masih belum jelas.
“Sampai hari ini, tidak seorang pun, termasuk orang Iran, yang memiliki jawaban kapan pembicaraan akan dilanjutkan," kata Duta Besar Rusia untuk IAEA di Wina, Mikhail Ulyanov, kepada surat kabar Kommersant.
Partai Likud yang dipimpin Netanyahu menanggapi Bennett dengan mengutip pernyataan yang dia buat tiga tahun lalu; "Masa depan anak-anak dan cucu kita jauh lebih aman hari ini daripada kemarin, dan saya pikir mereka yang mengejek dan mengkritik Netanyahu tentang masalah Iran harus berterima kasih padanya.”
Juru bicara Likud menambahkan: “Daripada berbohong dan merengek, Bennett akan lebih baik membatalkan kebijakan 'tidak ada kejutan' hari ini, yang menjadi komitmen Perdana Menteri Alternatif Yair Lapid, dan memulai kampanye untuk opini publik Amerika terhadap kembalinya AS ke kesepakatan [nuklir] Iran yang berbahaya.”
Putaran keenam negosiasi tidak langsung AS-Iran berakhir pada awal Juni, sebelum pemilu presiden di Iran. Ebrahim Raisi, seorang hakim yang bertanggung jawab atas ribuan eksekusi dan dijatuhi sanksi oleh AS atas pelanggaran hak asasi manusia, memenangkan pemilu tersebut.
Tanggal dimulainya kembali negosiasi, dan apakah Raisi akan memilih untuk melanjutkannya, masih belum jelas.
“Sampai hari ini, tidak seorang pun, termasuk orang Iran, yang memiliki jawaban kapan pembicaraan akan dilanjutkan," kata Duta Besar Rusia untuk IAEA di Wina, Mikhail Ulyanov, kepada surat kabar Kommersant.
Partai Likud yang dipimpin Netanyahu menanggapi Bennett dengan mengutip pernyataan yang dia buat tiga tahun lalu; "Masa depan anak-anak dan cucu kita jauh lebih aman hari ini daripada kemarin, dan saya pikir mereka yang mengejek dan mengkritik Netanyahu tentang masalah Iran harus berterima kasih padanya.”
Juru bicara Likud menambahkan: “Daripada berbohong dan merengek, Bennett akan lebih baik membatalkan kebijakan 'tidak ada kejutan' hari ini, yang menjadi komitmen Perdana Menteri Alternatif Yair Lapid, dan memulai kampanye untuk opini publik Amerika terhadap kembalinya AS ke kesepakatan [nuklir] Iran yang berbahaya.”
(min)
Lihat Juga :