Bikin Perjanjian dengan Setan demi Menang Lotere, Remaja Ini Bunuh 2 Saudaranya
Rabu, 07 Juli 2021 - 15:29 WIB
loading...
A
A
A
Hussein membantah terlibat pembunuhan, mengeklaim itu adalah konspirasi yang rumit. Namun, hakim di pengadilan Old Bailey London memutuskan dia bersalah atas pembunuhan tersebut. Dia akan dijatuhi hukuman suatu hari nanti.
Polisi mengatakan tidak jelas bagaimana dia menjadi terpesona dengan okultisme. Petugas polisi tahu dia telah mengakses situs web gelap, tetapi tidak bisa mendapatkan akses ke akunnya karena dia menolak memberikan kata sandinya. Dia juga memiliki iPad yang tidak bisa mereka buka.
Polisi mengatakan materi yang bisa dilihat menunjukkan dia mengobrol dengan orang lain secara online, tetapi ini lebih berkaitan dengan mantra cinta.
Harding menggambarkan Hussein, yang telah merencanakan untuk pergi ke perkemahan musim panas di Amerika Serikat, sebagai “pemuda yang sangat arogan” tetapi terlihat biasa-biasa saja. Dia telah didiagnosis dengan autisme, tetapi tidak memiliki keterlibatan dengan layanan kesehatan mental.
Remaja itu, yang menurut para detektif telah menunjukkan bukti dari beberapa pemikiran kelompok sayap kanan, dirujuk oleh sekolahnya pada tahun 2017 ke program kontra-ekstremisme Inggris tetapi diberhentikan tanpa kekhawatiran yang menonjol pada tahun berikutnya.
Untuk menambah penderitaan para korban, dua petugas polisi didakwa melakukan pelanggara karena mengambil foto yang "tidak pantas" di lokasi pembunuhan dan membagikannya di WhatsApp.
Ibu para korban, Mina Smallman, seorang pensiunan diakon agung Gereja Inggris, berterima kasih kepada polisi pada hari Selasa (6/7/2021) karena membantu membawa Hussein ke pengadilan.
“Hari ini kita mengingat gadis-gadis kita sebagai wanita kuat yang luar biasa. Kami berharap ada kebaikan yang akan keluar dari kisah mengerikan ini,” katanya kepada wartawan.
Polisi mengatakan tidak jelas bagaimana dia menjadi terpesona dengan okultisme. Petugas polisi tahu dia telah mengakses situs web gelap, tetapi tidak bisa mendapatkan akses ke akunnya karena dia menolak memberikan kata sandinya. Dia juga memiliki iPad yang tidak bisa mereka buka.
Polisi mengatakan materi yang bisa dilihat menunjukkan dia mengobrol dengan orang lain secara online, tetapi ini lebih berkaitan dengan mantra cinta.
Harding menggambarkan Hussein, yang telah merencanakan untuk pergi ke perkemahan musim panas di Amerika Serikat, sebagai “pemuda yang sangat arogan” tetapi terlihat biasa-biasa saja. Dia telah didiagnosis dengan autisme, tetapi tidak memiliki keterlibatan dengan layanan kesehatan mental.
Remaja itu, yang menurut para detektif telah menunjukkan bukti dari beberapa pemikiran kelompok sayap kanan, dirujuk oleh sekolahnya pada tahun 2017 ke program kontra-ekstremisme Inggris tetapi diberhentikan tanpa kekhawatiran yang menonjol pada tahun berikutnya.
Untuk menambah penderitaan para korban, dua petugas polisi didakwa melakukan pelanggara karena mengambil foto yang "tidak pantas" di lokasi pembunuhan dan membagikannya di WhatsApp.
Ibu para korban, Mina Smallman, seorang pensiunan diakon agung Gereja Inggris, berterima kasih kepada polisi pada hari Selasa (6/7/2021) karena membantu membawa Hussein ke pengadilan.
“Hari ini kita mengingat gadis-gadis kita sebagai wanita kuat yang luar biasa. Kami berharap ada kebaikan yang akan keluar dari kisah mengerikan ini,” katanya kepada wartawan.
(min)
Lihat Juga :