New York Times: Pembunuh Khashoggi Terima Pelatihan Paramiliter di AS

Rabu, 23 Juni 2021 - 14:46 WIB
loading...
New York Times: Pembunuh...
Laporan New York Times menyebut pembunuh Jamal Khashoggi mendapatkan pelatihan paramiliter di AS. Foto/Yahoo
A A A
WASHINGTON - Empat warga Arab Saudi yang terlibat dalam pembunuhan jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi pada 2018 menerima pelatihan paramiliter di Amerika Serikat (AS) setahun sebelumnya di bawah kontrak yang disetujui oleh Departemen Luar Negeri. Begitu laporan yang diturunkan oleh New York Times.

"Pelatihan tersebut diberikan oleh Tier 1 Group, yang dimiliki oleh perusahaan ekuitas swasta Cerberus Capital Management, dan bersifat defensif dan dirancang untuk melindungi para pemimpin Saudi," bunyi laporan New York Times yang disitir Al Jazeera, Rabu (23/6/2021).

Menurut New York Times, eksekutif senior Cerberus Louis Bremer mengkonfirmasi peran perusahaannya dalam pelatihan empat anggota tim pembunuh Khashoggi tahun lalu dalam jawaban tertulis atas pertanyaan dari anggota Kongres sebagai bagian dari pencalonannya untuk pekerjaan senior Pentagon dalam pemerintahan mantan Presiden Donald Trump.

Tetapi anggota parlemen tidak pernah menerima jawaban karena pemerintahan Trump tampaknya tidak mengirim mereka ke Kongres sebelum menarik pencalonan Bremer, menurut Times, yang mengatakan Bremer memberikan dokumen itu.

"Bremer mengatakan Departemen Luar Negeri AS dan lembaga pemerintah lainnya bertanggung jawab untuk memeriksa pasukan asing yang dilatih di wilayah AS," New York Times melaporkan.

Baca juga: Kepala Intelijen Mesir Diduga Terlibat Pembunuhan Khashoggi

Laporan New York Times mengatakan tidak ada bukti bahwa pejabat Amerika yang menyetujui pelatihan, atau eksekutif Tier 1 Grup, yang mengetahui bahwa para pelaku terlibat dalam tindakan keras di Arab Saudi.

Tetapi ia menambahkan bahwa kasus yang melibatkan Khashoggi menunjukkan seberapa erat terjalin hubungan AS dengan Arab Saudi bahkan ketika agen-agennya melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan.

Laporan itu mengatakan bahwa lisensi untuk memberikan pelatihan paramiliter kepada Pengawal Kerajaan Arab Saudi pertama kali dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri pada tahun 2014, pada masa pendahulu Trump, Barack Obama.

Pelatihan kemudian berlanjut setidaknya sampai tahun pertama masa jabatan Trump.

Sebuah laporan Yahoo News baru-baru ini oleh jurnalis investigasi Michael Isikoff juga mengungkapkan bahwa tim pembunuh Arab Saudi yang diduga membunuh Khashoggi dilaporkan berhenti di Ibu Kota Mesir untuk mengambil obat yang mereka gunakan untuk membunuh pembangkang.

Laporan itu mengatakan sebuah jet Gulfstream berhenti di Kairo pada 2 Oktober 2018, sebelum akhirnya mendarat di Istanbul.

Laporan itu tidak menyebutkan jenis obat apa yang digunakan untuk membunuh Khashoggi, atau siapa yang memberikannya kepada para pembunuh.

Baca juga: Investigasi Yahoo: Tim Algojo Khashoggi Mampir Kairo Angkut Narkoba Mematikan

Cerberus tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Menanggapi laporan Times, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan di bawah undang-undang bahwa departemen tidak dapat berkomentar pada salah satu aktivitas lisensi ekspor pertahanan berlisensi yang dituduhkan dalam pelaporan media.

Price juga mengatakan kebijakan AS terhadap Arab Saudi akan memprioritaskan supremasi hukum dan menghormati hak asasi manusia.

Khashoggi, seorang warga AS yang menulis kolom untuk Washington Post yang kritis terhadap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman, dibunuh dan dipotong-potong oleh tim operasi yang terkait dengan sang pangeran, di konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018.

Sebuah laporan intelijen AS pada Februari mengatakan putra mahkota telah menyetujui operasi untuk menangkap atau membunuh wartawan itu.

Baca juga: Intelijen AS: Putra Mahkota Arab Saudi Setuju Tangkap atau Bunuh Khashoggi
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Diduga Terlibat dalam...
Diduga Terlibat dalam Skandal Seks, Bill Gates Hadapi Sidang di DPR AS
Bagaimana AS Kehilangan...
Bagaimana AS Kehilangan Helikopter Apache Pertama dalam Perang dengan Iran?
China Luncurkan Alat...
China Luncurkan Alat Pelacak Kapal Selam Nuklir, Bakal Ubah Perang Masa Depan
Drone Iran Gempur Armada...
Drone Iran Gempur Armada Kelima AS di Bahrain
Suara Ledakan Terdengar...
Suara Ledakan Terdengar di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, Iran Segera Balas Serangan AS
Trump Akui AS Balas...
Trump Akui AS Balas Penembakan Helikopter oleh Iran, Meski Awalnya Meremehkan
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Trump Peringatkan Netanyahu:...
Trump Peringatkan Netanyahu: Anda Akan Sendirian jika Terus Serang Iran
Prajurit Angkatan Laut...
Prajurit Angkatan Laut AS Tewas Ditembak Temannya di Kapal Induk USS John F Kennedy
Rekomendasi
DPRD Kota Tangerang...
DPRD Kota Tangerang Matangkan Raperda Penyelenggaraan Transportasi
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Poco F8 Ultra Kembali...
Poco F8 Ultra Kembali Dijual di Indonesia: HP Gaming Buas dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5
Berita Terkini
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Kehancuran di Pangkalan Udara Israel Akibat Serangan Iran
Kerusuhan Meluas di...
Kerusuhan Meluas di Irlandia Utara, Rumah dan Mobil Dibakar
Diduga Terlibat dalam...
Diduga Terlibat dalam Skandal Seks, Bill Gates Hadapi Sidang di DPR AS
Pakar Militer Klaim...
Pakar Militer Klaim Iran Ingin Memulihkan Daya Tolak Terhadap Serangan AS
Bagaimana AS Kehilangan...
Bagaimana AS Kehilangan Helikopter Apache Pertama dalam Perang dengan Iran?
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved