KJRI Chicago Ulik Potensi Industri Kendaraan Listrik Nasional
Sabtu, 23 Mei 2020 - 07:15 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, dalam pengembangan industri kendaraan listrik (EV) penyediaan baterai menurutnya menjadi komponen utama yang krusial. Indonesia sebagai penghasil nikel terbesar di dunia sudah semestinya juga menjadi produsen baterai lithum terbesar di dunia.
Dua kawasan industri di Weda Bay Halmahera dan Morowali, Sulawesi Tengah diketahui memiliki kemampuan produksi nikel yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan bahan baku untuk pasar dalam negeri Indonesia, namun juga untuk kebutuhan ekspor.
Lebih lanjut Dubes Ngurah Swajaya menjelaskan, "Sekarang merupakan saat yang tepat untuk menarik investasi dan kerja sama guna menguatkan kapasitas industri kendaraan listrik nasional. Bermodal SDM yang handal, potensi pasar yang besar, kepastian hukum, insentif dan cadangan nikel yang melimpah sudah seharusnya Indonesia dapat menarik lebih banyak investasi Amerika Serikat. Berbicara mengenai investasi, maka yang dapat ditawarkan Indonesia tidak hanya akses ke pasar domestik Indonesia saja, tetapi juga potensi 600 juta penduduk dari pasar bersama ASEAN."
Narasumber pertama, Dr. Danet Suryatama sebagai pencipta kendaraan listrik menjelaskan teknologi yang dibutuhkan pasca pandemi Covid-19 adalah teknologi yang ramah lingkungan, termasuk di dalamnya pembangkit listrik dengan energi terbarukan, serta EV dan kendaraan hydrogen fuel cell.
Narasumber kedua, Profesor Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki ekosistem yang kondusif untuk EV, antara lain ketersediaan infrastruktur seperti charging station/stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), ketersediaan pasar, serta komponen industri, dan kualitas baterai yang bagus, dengan high power density dan kemampuan fast charging.
BPPT dalam persiapan ekosistem bagi kendaraan listrik ditugaskan secara khusus untuk menjadikan program tersebut sebagai flagship prioritas nasional.
Dua kawasan industri di Weda Bay Halmahera dan Morowali, Sulawesi Tengah diketahui memiliki kemampuan produksi nikel yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan bahan baku untuk pasar dalam negeri Indonesia, namun juga untuk kebutuhan ekspor.
Lebih lanjut Dubes Ngurah Swajaya menjelaskan, "Sekarang merupakan saat yang tepat untuk menarik investasi dan kerja sama guna menguatkan kapasitas industri kendaraan listrik nasional. Bermodal SDM yang handal, potensi pasar yang besar, kepastian hukum, insentif dan cadangan nikel yang melimpah sudah seharusnya Indonesia dapat menarik lebih banyak investasi Amerika Serikat. Berbicara mengenai investasi, maka yang dapat ditawarkan Indonesia tidak hanya akses ke pasar domestik Indonesia saja, tetapi juga potensi 600 juta penduduk dari pasar bersama ASEAN."
Narasumber pertama, Dr. Danet Suryatama sebagai pencipta kendaraan listrik menjelaskan teknologi yang dibutuhkan pasca pandemi Covid-19 adalah teknologi yang ramah lingkungan, termasuk di dalamnya pembangkit listrik dengan energi terbarukan, serta EV dan kendaraan hydrogen fuel cell.
Narasumber kedua, Profesor Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki ekosistem yang kondusif untuk EV, antara lain ketersediaan infrastruktur seperti charging station/stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), ketersediaan pasar, serta komponen industri, dan kualitas baterai yang bagus, dengan high power density dan kemampuan fast charging.
BPPT dalam persiapan ekosistem bagi kendaraan listrik ditugaskan secara khusus untuk menjadikan program tersebut sebagai flagship prioritas nasional.
Lihat Juga :