Menang Lagi, Kekuasaan Presiden Deby Nyaris Saingi Soeharto

loading...
Menang Lagi, Kekuasaan Presiden Deby Nyaris Saingi Soeharto
Presiden Chad Idriss Deby Itno. Foto/REUTERS/Ammar Awad/File Photo
NDJAMENA - Presiden Chad Idriss Deby Itno kembali memenangkan pemilihan presiden (pilpres) untuk masa jabatan keenam. Kemenangan ini akan memperpanjang kekuasaannya menjadi 30 tahun, nyaris menyaingi lamanya kekuasaan mantan presiden Indonesia Soeharto 31 tahun.

Deby telah berkampanye untuk perdamaian dan keamanan di negaranya yang dilanda kekerasan. Pilpres diadakan pada 11 April dan memiliki jumlah pemilih di bawah 65%.

Baca juga: Eks Jenderal Israel Akui Sulit Menghancurkan Program Nuklir Iran

Hasil sementara pilpres yang dirilis Komisi Pemilu menunjukkan presiden petahana Chad; Idriss Deby Itno, meraih 79,32% suara.

Mantan perdana menteri Albert Pahimi Padacke berada di urutan kedua dengan 10,32% suara, sementara calon presiden wanita pertama Chad, Lydie Beassemda, mendapatkan 3,16%.



Pilpres tersebut diboikot oleh para pemimpin oposisi. Hasil resmi pilpres belum dikonfirmasi oleh Mahkamah Agung.

Chad, sebuah negara di Afrika tengah, seringkali identik dengan kekerasan dan ketidakstabilan. Itu tetap menjadi salah satu negara termiskin di dunia—meskipun ada simpanan minyak yang besar.

Deby, 68, sedianya akan memberikan pidato kemenangan, tetapi direktur kampanyenya mengatakan dia malah mengunjungi tentara Chad yang memerangi pemberontak yang bergerak maju ke ibu kota, N'Djamena.

"Kandidat akan senang berada di sini untuk merayakan...tapi sekarang, dia bersama pasukan pertahanan dan keamanan kami yang gagah berani untuk melawan teroris yang mengancam wilayah kami," kata direktur kampanyenya, Mahamat Zen Bada, seperti dikutip DW.com, Selasa (20/4/2021).

Deby berkuasa melalui pemberontakan pada tahun 1990. Deby telah berkampanye dengan janji meciptakan perdamaian dan keamanan yang telah dicengkeram oleh pemberontakan dan kekerasan selama bertahun-tahun.



Sementara itu, tentara Chad mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah menewaskan sekitar 300 pemberontak dan menahan 150 orang.

Menurut juru bicara militer Jenderal Azem Bermandoa Agouna, pemberontak bersenjata berat yang berjuang untuk Front for Change and Concord in Chad (FACT) memasuki Chad utara dari Libya dan melewati provinsi Kanem sebelum mendekati ibu kota.

Menurutnya, lima tentara tewas dan 36 lainnya luka-luka dalam bentrokan antara pasukan dan pemberontak.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top