Inilah Pangeran Hamzah yang Dituduh Perencana Kudeta Kerajaan Yordania

Senin, 05 April 2021 - 08:30 WIB
loading...
Inilah Pangeran Hamzah...
Pangeran Hamzah bin Hussein dari Kerajaan Yordania bersama istrinya, Putri Basmah. Foto/Yousef Allan/Royal Palace/REUTERS
A A A
AMMAN - Pangeran Hamzah bin Hussein telah ditangkap oleh pasukan Kerajaan Yordania dan berstatus sebagai tahanan rumah. Mantan putra mahkota tersebut dituduh merencanakan kudeta dengan berusaha memobilisasi para pemimpin suku untuk melawan pemerintah.

"Pangeran Hamzah bin Hussein bekerja dengan entitas asing untuk mengguncang negara," kata Wakil Perdana Menteri Ayman Safadi.



Pangeran yang ditangkap itu sebelumnya merilis dua video ke BBC, mengeklaim bahwa dia ditahan di bawah tahanan rumah.

Dia membantah konspirasi, tetapi menuduh para pemimpin Yordania melakukan korupsi dan ketidakmampuan mengurus negara.

Sebanyak 16 orang, termasuk mantan penasihat Raja Abdullah II dan anggota keluarga kerajaan lainnya, ditangkap pada Sabtu karena diduga mengancam keamanan negara.

Dalam videonya, Pangeran Hamzah—saudara tiri Raja Abdullah II, mengatakan dia telah diberitahu bahwa dia tidak dapat keluar atau berkomunikasi dengan orang-orang.

Langkah tersebut diduga menyusul kunjungan Pangeran Hamzah ke para pemimpin suku, di mana dia dikatakan telah mengumpulkan beberapa dukungan.

Ibunya, Ratu Noor yang kelahiran Amerika Serikat (AS), mengatakan dia berdoa untuk putranya, yang dia sebut sebagai korban tak bersalah dari "fitnah jahat".

Siapakah Pangeran Hamzah?

Dia adalah putra tertua almarhum Raja Hussein dan istri kesayangannya Ratu Noor. Pangeran Hamzah adalah lulusan Harrow School Inggris dan Royal Military Academy di Sandhurst. Dia juga kuliah di Universitas Harvard di AS dan pernah bertugas di Angkatan Bersenjata Yordania.



Dia dinobatkan sebagai putra mahkota Yordania pada 1999 dan merupakan pangeran favorit Raja Hussein, yang sering menggambarkannya di depan umum sebagai "kesenangan mataku".

Namun, dia dipandang terlalu muda dan tidak berpengalaman untuk diangkat menjadi penerus raja pada saat kematian Raja Hussein.

Alih-alih jadi raja, faktanya justru kakak tirinya; Abdullah II, yang naik takhta dan mencopot gelar putra mahkota Hamzah pada tahun 2004. Raja Abdullah II justri memberikan gelar putra mahkota itu kepada putranya sendiri.

Langkah itu dipandang sebagai pukulan bagi Ratu Noor, yang berharap putra tertuanya menjadi raja.

Siapa Lagi yang Ditangkap?

Tokoh lainnya yang ditahan pada hari Sabtu termasuk Bassem Awadallah, mantan menteri keuangan, dan Sharif Hassan Bin Zaid, anggota keluarga kerajaan.

Awadallah, seorang ekonom yang dididik di AS, telah menjadi kepercayaan raja dan kekuatan berpengaruh dalam reformasi ekonomi Yordania.

Para pengamat mengatakan Awadallah sering mendapati dirinya diadu dengan birokrasi pemerintah yang mengakar yang menolak rencananya.

Tidak ada anggota Angkatan Bersenjata yang dilaporkan termasuk di antara mereka yang ditahan atas dugaan plot tersebut.

Apa yang Dituduhkan pada Pangeran Hamzah?

Menanggapi dampak buruk pada hari Minggu, Wakil PM Safadi mengatakan Pangeran Hamzah telah menggunakan video tersebut untuk memutarbalikkan fakta dan memicu empati. Komentar Safadi itu dilansir kantor berita negara setempat, Petra yang dilansir BBC, Senin (5/4/2021).

Dia mengatakan pada konferensi pers bahwa Pangeran Hamzah telah berhubungan dengan pihak asing tentang destabilisasi negara dan telah diawasi selama beberapa waktu.

Pangeran yang gagal jadi raja itu dituduh berusaha memobilisasi "pemimpin suku" untuk melawan pemerintah.

"Tapi plot itu telah dihentikan sejak awal," kata Safadi.

Safadi melanjutkan dengan menuduh bahwa seorang pria yang memiliki hubungan dengan dinas keamanan asing telah menawari istri Pangeran Hamzah, Putri Basmah, penerbangan dari Yordania. Dia tidak merinci dinas keamanan luar negeri mana yang terlibat.

Safadi mengatakan para pejabat telah mencoba untuk mencegah dari tindakan mengambil langkah hukum terhadap Pangeran Hamzah, tetapi pangeran tersebut telah merespons secara negatif". Dia mencatat bahwa dialog sedang berlangsung.

Kekuatan regional termasuk Mesir, Turki, dan Arab Saudi telah menyuarakan dukungan untuk Raja Abdullah II setelah dugaan upaya kudeta tersebut.

Amerika Serikat, yang bersekutu dengan Yordania dalam kampanyenya melawan kelompok ISIS menggambarkan Raja Abdullah II sebagai mitra kunci yang mendapat dukungan penuh.

Inggris juga mendukung Raja Abdullah II. "Kerajaan Yordania Hashemite adalah mitra yang sangat berharga bagi Inggris," kata James Cleverly, menteri untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

Ada Apa di Balik Gonjang-ganjing Ini?

Ketegangan di dalam rumah tangga kerajaan telah terlihat selama beberapa waktu, demikian laporan jurnalis Yordania Rana Sweis kepada BBC.

"Mantan putra mahkota juga dipandang populer. Dia sangat mirip dengan ayahnya, Raja Hussein, dan dia juga sangat populer di kalangan suku-suku setempat," katanya.

Anggota lain dari keluarga kerajaan mengomentari perselisihan itu di Twitter pada Minggu malam, menyerang Ratu Noor dan menyatakan bahwa itu adalah perselisihan tentang hak suksesi.

"Ambisi Ratu Noor dan putra-putranya yang tampaknya buta adalah delusi, sia-sia, tidak layak, dan merasa berhak palsu. Mereka semua harus tahu lebih baik. Seperti akta suksesi konstitusi, ayah hingga putra sulung, berpengalaman dengan catatan dinas tak terputus," tulis akun Twitter @FiryalOfJordan pada 4 April 2021.

Tetapi beberapa komentator mengatakan kritik Pangeran Hamzah terhadap korupsi di kerajaan menyentuh hati banyak orang di negara itu.

"Apa yang dikatakan Pangeran Hamzah berulang kali terdengar di rumah-rumah setiap orang Yordania," kata Ahmad Hasan al Zoubi, seorang kolumnis terkemuka.

Yordania memiliki sedikit sumber daya alam dan ekonominya terpukul parah oleh pandemi COVID-19. Kerajaan itu juga telah menyerap gelombang pengungsi dari perang saudara di negara tetangga; Suriah.

Namun, penangkapan politik tingkat tinggi jarang terjadi. Badan intelijen yang kuat negara itu telah memperoleh kekuatan ekstra sejak pandemi dimulai, yang menuai kritik dari kelompok hak asasi manusia.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Yordania Usulkan Pengasingan...
Yordania Usulkan Pengasingan 3.000 Anggota Hamas dari Gaza untuk Akhiri Genosida Israel
Yordania Usul 3.000...
Yordania Usul 3.000 Anggota Hamas Diasingkan dari Gaza untuk Akhiri Perang Israel
Siapa Mohammad Al-Tawil?...
Siapa Mohammad Al-Tawil? Pemuda Yordania yang Dipenjara 4 Tahun karena Unggah Surat Wasiat tentang Perlawanan terhadap Israel
Mesir Klaim Rencananya...
Mesir Klaim Rencananya untuk Gaza Didukung Trump usai Diyakinkan Raja Yordania
Trump dan Netanyahu...
Trump dan Netanyahu Berisiko Hancurkan Perjanjian Damai Israel dengan 2 Negara Arab
Raja Yordania Abdullah...
Raja Yordania Abdullah bertemu Trump, Apa Saja Hasilnya?
Raja Yordania Berani...
Raja Yordania Berani Tolak Pencaplokan Gaza Langsung di Depan Trump
Negara-Negara Arab Nyatakan...
Negara-Negara Arab Nyatakan Tolak Bantu AS Serang Iran
Reaksi Pemimpin Dunia...
Reaksi Pemimpin Dunia atas Penerapan Tarif Trump, dari Uni Eropa hingga Prabowo
Rekomendasi
Dituduh Pindah Warganegara...
Dituduh Pindah Warganegara Singapura, Pendiri ByteDance Zhang Yiming Angkat Bicara
Pemeran Film Biopik...
Pemeran Film Biopik The Beatles Diumumkan, Harris Dickinson sebagai John Lennon
5 Adab Bersilaturahmi...
5 Adab Bersilaturahmi saat Idulfitri, Apa Saja? Simak Ya!
Berita Terkini
Siapa Sultan Qaboos?...
Siapa Sultan Qaboos? Penguasa Oman yang Berkuasa 50 Tahun setelah Menggulingkan Ayahnya dalam Kudeta Istana
51 menit yang lalu
Denmark dan Greenland...
Denmark dan Greenland Bentuk Front Perlawanan untuk Melawan AS
1 jam yang lalu
Israel Serang Sekolah...
Israel Serang Sekolah di Gaza, 27 Orang Tewas
2 jam yang lalu
Demi Keamanan Nasional,...
Demi Keamanan Nasional, Staf Kedubes AS di China Dilarang Berkencan dengan Penduduk Lokal
3 jam yang lalu
Meski Bersitegang, AS...
Meski Bersitegang, AS Tidak Akan Tinggalkan NATO, Berikut 3 Alasannya
4 jam yang lalu
Taiwan Lawan Tekanan...
Taiwan Lawan Tekanan China di PBB, Tegaskan Status sebagai Negara Berdaulat
5 jam yang lalu
Infografis
4 Amalan Idulfitri yang...
4 Amalan Idulfitri yang Setara Pahala Perang Badar
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved