Dituduh sebagai Agen Mossad, Profesor Ini Hampir Mati di Penjara Iran
Jum'at, 19 Maret 2021 - 08:49 WIB
loading...
A
A
A
"Dia telah ditahan di sel isolasi yang berkepanjangan selama lebih dari 100 hari dengan risiko terus-menerus dari eksekusi yang akan segera terjadi," lanjut mereka dalam sebuah pernyataan hari Kamis yang dilansir Times of Israel, Jumat (19/3/2021).
“Hanya ada satu kata untuk menggambarkan perlakuan buruk fisik dan psikologis yang parah di Djalali, dan itu adalah penyiksaan.”
Djalali, sebelumnya berbasis di Stockholm di mana dia bekerja di Karolinska Institute, sebuah universitas kedokteran, ditangkap saat berkunjung ke Iran pada April 2016.
Dia kemudian dinyatakan bersalah karena menyampaikan informasi tentang dua ilmuwan nuklir Iran ke badan intelijen Israel; Mossad, yang menyebabkan pembunuhan mereka. Profesor itu kemudian dijatuhi hukuman mati pada tahun 2017 atas tuduhan spionase.
Djalali mengeklaim dia dihukum karena menolak jadi mata-mata untuk Iran saat bekerja di Eropa.
"Tuduhan terhadapnya sama sekali tidak berdasar dan dia harus diizinkan kembali ke keluarganya di Swedia secepat mungkin," kata para pakar HAM PBB.
“Hanya ada satu kata untuk menggambarkan perlakuan buruk fisik dan psikologis yang parah di Djalali, dan itu adalah penyiksaan.”
Djalali, sebelumnya berbasis di Stockholm di mana dia bekerja di Karolinska Institute, sebuah universitas kedokteran, ditangkap saat berkunjung ke Iran pada April 2016.
Dia kemudian dinyatakan bersalah karena menyampaikan informasi tentang dua ilmuwan nuklir Iran ke badan intelijen Israel; Mossad, yang menyebabkan pembunuhan mereka. Profesor itu kemudian dijatuhi hukuman mati pada tahun 2017 atas tuduhan spionase.
Djalali mengeklaim dia dihukum karena menolak jadi mata-mata untuk Iran saat bekerja di Eropa.
"Tuduhan terhadapnya sama sekali tidak berdasar dan dia harus diizinkan kembali ke keluarganya di Swedia secepat mungkin," kata para pakar HAM PBB.
Lihat Juga :