Kejahatan Anti Asia di AS Melonjak, China Geram Sekaligus Sedih
Jum'at, 19 Maret 2021 - 05:39 WIB
loading...
A
A
A
"Kekejaman seperti itu juga dikecam oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Kami berharap pihak AS akan mendengarkan tangisan rakyatnya sendiri dan komunitas internasional," sambungnya.
Pernyataan Zhao muncul dua hari setelah seorang pria kulit putih menembak mati delapan orang, enam di antaranya wanita Asia-Amerika, di tiga spa di Atlanta, Georgia. Sementara otoritas lokal belum secara resmi mengaitkan pembunuhan itu dengan rasisme, sejumlah selebritas, anggota parlemen, dan pejabat sejak itu mengeluarkan pernyataan yang mengaitkan pembantaian itu dengan gelombang kejahatan rasial anti-Asia yang lebih besar.
Baca juga: Delapan Tewas dalam Penembakan di 3 Spa AS, 6 Diantaranya Wanita Asia
Dalam komentarnya, Zhao menyalahkan pemerintahan sebelumnya dari mantan Presiden Donald Trump, yang sering menyebut penyakit COVID-19 sebagai "virus China" dan dengan istilah lain yang merendahkan, serta istilah lain di AS yang mendorong narasi politik anti-China.
"Saya harus menunjukkan bahwa beberapa politisi di pemerintahan AS terakhir dan beberapa kekuatan anti-China di AS, yang berpegang pada pola pikir zero-sum game dan prasangka ideologis mereka, telah mengarang dan menyebarkan kebohongan dan disinformasi tentang China, mengipasi rasisme dan kebencian, memaafkan perilaku diskriminatif terhadap warga negara China di AS termasuk mahasiswa China, dan bahkan memata-matai, melecehkan, memeriksa silang, dan menangkap mereka tanpa alasan sama sekali," tutur Zhao.
Dia mendesak kepemimpinan AS saat ini untuk mengambil tindakan perbaikan, dan melindungi warga Chinanya.
"Pihak China sangat prihatin atas hal ini," cetus Zhao.
Pernyataan Zhao muncul dua hari setelah seorang pria kulit putih menembak mati delapan orang, enam di antaranya wanita Asia-Amerika, di tiga spa di Atlanta, Georgia. Sementara otoritas lokal belum secara resmi mengaitkan pembunuhan itu dengan rasisme, sejumlah selebritas, anggota parlemen, dan pejabat sejak itu mengeluarkan pernyataan yang mengaitkan pembantaian itu dengan gelombang kejahatan rasial anti-Asia yang lebih besar.
Baca juga: Delapan Tewas dalam Penembakan di 3 Spa AS, 6 Diantaranya Wanita Asia
Dalam komentarnya, Zhao menyalahkan pemerintahan sebelumnya dari mantan Presiden Donald Trump, yang sering menyebut penyakit COVID-19 sebagai "virus China" dan dengan istilah lain yang merendahkan, serta istilah lain di AS yang mendorong narasi politik anti-China.
"Saya harus menunjukkan bahwa beberapa politisi di pemerintahan AS terakhir dan beberapa kekuatan anti-China di AS, yang berpegang pada pola pikir zero-sum game dan prasangka ideologis mereka, telah mengarang dan menyebarkan kebohongan dan disinformasi tentang China, mengipasi rasisme dan kebencian, memaafkan perilaku diskriminatif terhadap warga negara China di AS termasuk mahasiswa China, dan bahkan memata-matai, melecehkan, memeriksa silang, dan menangkap mereka tanpa alasan sama sekali," tutur Zhao.
Dia mendesak kepemimpinan AS saat ini untuk mengambil tindakan perbaikan, dan melindungi warga Chinanya.
"Pihak China sangat prihatin atas hal ini," cetus Zhao.
Lihat Juga :