Jet Tempur Su-57 Rusia Berpotensi Jadi Pemicu Baru Ketegangan Turki dan AS
Senin, 15 Maret 2021 - 07:15 WIB
loading...
A
A
A
Menteri Industri dan Teknologi Turki Mustafa Varank baru-baru ini mengatakan bahwa Turki tidak akan ragu untuk berdiskusi dengan Rusia tentang pembelian Su-35 dan Su-57.
“Kami menentang pesawat negara X, kami menentang pesawat negara Y. Jika ada pesawat di Rusia untuk kebutuhan kami saat ini dan tidak akan sulit untuk memasukkannya ke dalam sistem kami dan mengoperasikannya, tentu saja kami bisa beli pesawat ini dari Rusia atau negara lain di Eropa,” katanya kepada Sputniknews pada 11 Maret.
"Ini adalah wacana serupa yang digunakan pejabat Turki pada akhir 2016 dan awal 2017 ketika masalah pengadaan S-400 mulai muncul," kata Caglar Kurc, seorang peneliti pertahanan dan angkatan bersenjata, kepada Arab News.
"Meskipun Varank tidak memiliki tanggung jawab resmi dalam keputusan pengadaan, saya pikir Turki kembali mencoba memanfaatkan kartu Rusia terhadap AS, sementara Rusia mungkin mencari penjualan lain," katanya. Namun, Kurc mengatakan saat ini posisi AS sangat jelas.
“Tidak ada pesan campur aduk seperti selama pemerintahan Trump. Lebih lanjut, pemerintahan Biden sudah mengisyaratkan bahwa hubungan Turki-Amerika akan lebih transaksional, artinya AS tidak akan malu untuk meningkatkan tekanan jika Turki terus menjalin kerjasama industri-militer yang signifikan dengan Rusia,” katanya.
Menurut Sezer, kebijakan luar negeri Turki baru-baru ini telah mengganggu pembuat kebijakan Rusia.
"Ankara berjanji untuk membeli batch kedua S-400 tahun lalu, tetapi sejak dua bulan tidak ada upaya dari Ankara untuk menegosiasikannya seolah tiba-tiba melupakan semua komitmen sebelumnya," katanya.
“Kami menentang pesawat negara X, kami menentang pesawat negara Y. Jika ada pesawat di Rusia untuk kebutuhan kami saat ini dan tidak akan sulit untuk memasukkannya ke dalam sistem kami dan mengoperasikannya, tentu saja kami bisa beli pesawat ini dari Rusia atau negara lain di Eropa,” katanya kepada Sputniknews pada 11 Maret.
"Ini adalah wacana serupa yang digunakan pejabat Turki pada akhir 2016 dan awal 2017 ketika masalah pengadaan S-400 mulai muncul," kata Caglar Kurc, seorang peneliti pertahanan dan angkatan bersenjata, kepada Arab News.
"Meskipun Varank tidak memiliki tanggung jawab resmi dalam keputusan pengadaan, saya pikir Turki kembali mencoba memanfaatkan kartu Rusia terhadap AS, sementara Rusia mungkin mencari penjualan lain," katanya. Namun, Kurc mengatakan saat ini posisi AS sangat jelas.
“Tidak ada pesan campur aduk seperti selama pemerintahan Trump. Lebih lanjut, pemerintahan Biden sudah mengisyaratkan bahwa hubungan Turki-Amerika akan lebih transaksional, artinya AS tidak akan malu untuk meningkatkan tekanan jika Turki terus menjalin kerjasama industri-militer yang signifikan dengan Rusia,” katanya.
Menurut Sezer, kebijakan luar negeri Turki baru-baru ini telah mengganggu pembuat kebijakan Rusia.
"Ankara berjanji untuk membeli batch kedua S-400 tahun lalu, tetapi sejak dua bulan tidak ada upaya dari Ankara untuk menegosiasikannya seolah tiba-tiba melupakan semua komitmen sebelumnya," katanya.
(min)
Lihat Juga :