PBB Minta UEA Jelaskan Nasib Putri Penguasa Dubai yang ‘Disandera’

Kamis, 18 Februari 2021 - 02:02 WIB
loading...
PBB Minta UEA Jelaskan...
Putri Latifa dan ayahnya, Penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Foto/BBC
A A A
NEW YORK - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan mengangkat masalah penahanan Putri Latifa dengan Uni Emirat Arab (UEA).

Putri Latifa merupakan putri Penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Putri Latifa menuduh ayahnya menyanderanya di Dubai sejak dia mencoba melarikan diri dari kota pada 2018.

Dalam video yang direkam secara rahasia yang dibagikan dengan BBC, Putri Latifa mengatakan dia mengkhawatirkan nyawanya.

Baca juga: Putri Penguasa Dubai Kirim Pesan Rahasia, Mengaku Ditahan di Vila

Rekaman itu memicu seruan global untuk penyelidikan PBB, sementara Inggris mengatakan video itu "sangat mengganggu".

Baca juga: Meresahkan, Inggris Minta Bukti Putri Penguasa Dubai Masih Hidup

"Kami prihatin tentang itu," ujar Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab pada Rabu (17/2).

Baca juga: Heboh Video Putri Latifa Dipenjara di Vila, Penguasa Dubai Bungkam

Raab mengatakan, “Video tersebut menunjukkan seorang wanita muda dalam kesusahan yang mendalam. Inggris akan mengamati setiap perkembangan dari PBB dengan sangat dekat.”

Tetapi ketika ditanya apakah sanksi dapat dijatuhkan oleh Inggris, Raab berkata, "Tidak jelas bagi saya bahwa akan ada bukti yang mendukung itu."

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson juga mengatakan, “Pemerintah prihatin tetapi akan menunggu dan melihat bagaimana (PBB) melanjutkan penyelidikan mereka.”

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengatakan akan segera meminta penjelasan UEA tentang Putri Latifa.

"Kami pasti akan mengangkat berbagai perkembangan baru ini dengan UEA. Bagian lain dari sistem hak asasi manusia PBB dengan mandat yang relevan juga dapat terlibat setelah mereka menganalisis materi baru," papar juru bicara Rupert Colville.

Sementara itu, seorang juru bicara mengatakan Kelompok Kerja PBB untuk Penahanan Sewenang-wenang dapat melakukan penyelidikan setelah video Putri Latifa dianalisis.

"Kami berharap (penyelidikan PBB) akan akhirnya membebaskan Putri Latifa," ujar Rodney Dixon, pengacara yang menyerahkan kasus itu ke PBB.

"PBB perlu melakukan pertemuan yang sangat serius secara langsung dengan mereka yang menahan (dia) dan memastikan kesepakatan tercapai sehingga dia bisa dibebaskan," papar dia.

Dixon menambahkan, "PBB sebagai badan internasional yang bertanggung jawab untuk menerapkan hukum internasional dapat memastikan bahwa itulah yang terjadi."

Ayah Putri Latifa, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, adalah salah satu kepala negara terkaya di dunia, penguasa Dubai dan wakil presiden UEA.

UEA memiliki hubungan dekat dengan sejumlah negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang menganggapnya sebagai sekutu strategis.

Sheikh Mohammed telah membangun kota yang sangat sukses tetapi para aktivis hak asasi mengatakan tidak ada toleransi terhadap perbedaan pendapat dan sistem peradilan dapat mendiskriminasi perempuan.

Dengan bantuan teman-temannya, Putri Latifa mencoba kabur dari Dubai untuk memulai hidup baru pada Februari 2018.

"Saya tidak diizinkan mengemudi, saya tidak diizinkan bepergian atau meninggalkan Dubai sama sekali," papar dia dalam video yang direkam sebelum dia melarikan diri.

Namun beberapa hari kemudian, sang putri ditangkap pasukan komando di atas perahu di Samudra Hindia. Dia diterbangkan kembali ke Dubai, tempat dia tinggal sejak itu.

Ayahnya mengatakan dia bertindak untuk kepentingan terbaiknya. Dubai dan UEA sebelumnya mengatakan Putri Latifa aman dalam perawatan keluarga.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Diduga Terlibat dalam...
Diduga Terlibat dalam Skandal Seks, Bill Gates Hadapi Sidang di DPR AS
Bagaimana AS Kehilangan...
Bagaimana AS Kehilangan Helikopter Apache Pertama dalam Perang dengan Iran?
China Luncurkan Alat...
China Luncurkan Alat Pelacak Kapal Selam Nuklir, Bakal Ubah Perang Masa Depan
Drone Iran Gempur Armada...
Drone Iran Gempur Armada Kelima AS di Bahrain
Suara Ledakan Terdengar...
Suara Ledakan Terdengar di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, Iran Segera Balas Serangan AS
Trump Akui AS Balas...
Trump Akui AS Balas Penembakan Helikopter oleh Iran, Meski Awalnya Meremehkan
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Iran Tembakkan 7 Rudal...
Iran Tembakkan 7 Rudal Balistik ke Kuwait, Balas Serangan AS di Pulau Qeshm dan Goruk
Korban Tewas Gempa M7,8...
Korban Tewas Gempa M7,8 Filipina Jadi 37 Orang, 400 Lebih Luka
Rekomendasi
Bacok Pelajar di Jakbar,...
Bacok Pelajar di Jakbar, 2 Pelaku Ditangkap Polsek Palmerah
Astra Masuk Daftar Tempat...
Astra Masuk Daftar Tempat Kerja Terbaik di Asia, Borong 3 Penghargaan Sekaligus
Dibully Sampai Hidupnya...
Dibully Sampai Hidupnya Hancur, Ini Balas Dendam Anna di Microdrama V+Short She Was Never Gone
Berita Terkini
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Kehancuran di Pangkalan Udara Israel Akibat Serangan Iran
Kerusuhan Meluas di...
Kerusuhan Meluas di Irlandia Utara, Rumah dan Mobil Dibakar
Diduga Terlibat dalam...
Diduga Terlibat dalam Skandal Seks, Bill Gates Hadapi Sidang di DPR AS
Pakar Militer Klaim...
Pakar Militer Klaim Iran Ingin Memulihkan Daya Tolak Terhadap Serangan AS
Bagaimana AS Kehilangan...
Bagaimana AS Kehilangan Helikopter Apache Pertama dalam Perang dengan Iran?
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved