AS: China Kucurkan Uang untuk Rudal Pembunuh Kapal Induk, Belum Tentu Menang Perang

loading...
AS: China Kucurkan Uang untuk Rudal Pembunuh Kapal Induk, Belum Tentu Menang Perang
DF-21D, senjata China yang dijuluki sebagai pembunuh kapal induk. Foto/USNI News
WASHINGTON - Beijing dapat terus membelanjakan uangnya untuk rudal balistik anti-kapal yang dijuluki sebagai "pembunuh kapal induk", tetapi itu bukan kemampuan yang dibutuhkan untuk menang jika perang pecah antara China dan Amerika Serikat (AS). Hal itu disampaikan seorang pejabat yang mengawasi intelijen Angkatan Laut Amerika .

Baca juga : Iran Tolak Permintaan AS Ambil Langkah Pertama Kembali ke Kesepakatan Nuklir

Wakil Laksamana Jeffrey Trussler, wakil kepala operasi angkatan laut untuk perang informasi (OPNAV N2 / N6), mengatakan Angkatan Laut AS memantau program rudal China, termasuk rudal balistik anti-kapal DF-21D. Rudal itulah yang dijuluki sebagai misil "pembunuh kapal induk".

Baca juga: China Pertajam Ancaman pada Taiwan: Kemerdekaan Berarti Perang

Trussler mengatakan dia tidak dapat mengatakan apakah China telah "menerjunkan sepenuhnya" rudal DF-21D, tetapi dia menekankan bahwa Angkatan Laut Amerika mengawasi kemampuan yang dapat memengaruhi apa yang dilakukannya di laut.



Baca juga : Saima Mohsin Bakal Jadi Muslimah Pertama Menjabat Jaksa di AS

"Saya tidak akan membahas lebih banyak detail tentang apa yang kita ketahui dan tidak ketahui tentangnya. Tapi mereka mengeluarkan banyak uang untuk kemampuan yang pada dasarnya melingkari pantai mereka di Laut China Selatan dengan kemampuan rudal anti-kapal. Ini adalah upaya destabilisasi di Laut China Selatan, di Laut China Timur, semua wilayah itu. Saat klaim mereka atas beberapa pulau yang diperebutkan ini—mereka memiliterisasi wilayah tersebut," kata Trussler pada acara virtual yang diselenggarakan oleh Intelligence and National Security Alliance yang dilansir USNI News, Kamis (28/1/2021).

Baca juga : Situs Masjid Era Generasi setelah Nabi Muhammad SAW Ditemukan di Israel

“Itu adalah sesuatu yang akan kami perhatikan dengan saksama. Itu adalah sesuatu yang membingungkan tatanan internasional dan menjadi perhatian sekutu di kawasan. Itu salah satu alasan kami bekerja untuk menjaga global commons tetap terbuka dan arus lalu lintas yang bebas," ujarnya.

Baca juga : Jika Taiwan Merdeka China Nyatakan Perang, AS Siap Bantu Taipei



"Tapi jika Anda melihatnya—itu adalah perkembangan yang meresahkan. Mereka mungkin ditujukan dan dikembangkan secara khusus untuk Angkatan Laut Amerika Serikat. Jadi kami memperhatikan mereka dengan sangat cermat. Saya berharap mereka terus menuangkan uang untuk hal semacam itu. Itu mungkin bukan cara kami memenangkan perang berikutnya," paparnya.

Baca juga: Israel Berencana Serang Iran, Ini Perbandingan Militer Keduanya

Menurut laporan South China Morning Post, China pada Agustus lalu menembakkan DF-26B dan DF-21D ke Laut China Selatan.

Trussler mengatakan Angkatan Laut juga memantau DF-26, yang dilaporkan memiliki jangkauan 4.000 kilometer.

Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China telah mencari kemampuan rudal yang dapat menyulitkan AS untuk beroperasi dalam rantai pulau pertama di Laut China Selatan karena jangkauan rudal China.

Angkatan Laut dan Korps Marinir AS—dalam upaya mempersiapkan kemungkinan konflik di Indo-Pasifik dengan China—telah menekankan perlunya layanan tersebut beroperasi secara terdistribusi, termasuk antara pangkalan ekspedisi di pulau-pulau di wilayah tersebut.

Baca juga: Kapal Induk AS Masuk Laut China Selatan, Tantang China untuk Menembaknya?

Korps Marinir sedang dalam proses menambahkan senjata anti-kapal berbasis darat—yang dapat dipasang pada Joint Light Tactical Vehicle (Kendaraan Taktis Ringan Bersama)—ke gudang senjatanya dan membayangkan menggunakan kemampuan saat beroperasi di pangkalan ekspedisi tersebut.
(min)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top