Trump Ancam Iran, Dua Pembom B-52 AS Berkeliaran di Teluk
Kamis, 31 Desember 2020 - 05:38 WIB
loading...
Pesawat pembom B-52H Angkatan Udara Amerika Serikat. Foto/REUTERS
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) menerbangkan dua pesawat pembom strategis B-52 di atas Teluk pada Rabu untuk kedua kalinya dalam bulan ini. Sepasang pesawat berbahaya itu berkeliaran setelah sebelumnya Presiden Donald Trump mengancam Iran sebagai respons atas rentetan serangan roket di kompleks Kedutaan AS di Irak pekan lalu.
Seorang perwira senior militer AS mengatakan penerbangan dua pembom B-52 Angkatan Udara itu sebagai tanggapan atas sinyal bahwa Iran mungkin merencanakan serangan terhadap target AS dan sekutunya di Irak atau di tempat lain di kawasan itu dalam beberapa hari mendatang, bahkan ketika Presiden terpilih Joe Biden bersiap untuk menjabat. (Baca: Erdogan Diminta Bantu Bebaskan Tentara Israel yang Ditahan di Gaza )
Petugas itu tidak berwenang untuk secara terbuka membahas penilaian internal berdasarkan intelijen sensitif dan berbicara kepada The Associated Press dengan syarat anonim.
Misi pembom B-52—yang diterbangkan pulang pergi dari pangkalan Angkatan Udara di North Dakota—mencerminkan kekhawatiran yang meningkat di Washington pada minggu-minggu terakhir pemerintahan Presiden Donald Trump. Kekhawatiran yang dimaksud adalah bahwa Iran akan memerintahkan pembalasan militer lebih lanjut atas pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani oleh pesawat nirawak AS di Baghdad pada 3 Januari lalu.
Respons awal Iran—lima hari setelah serangan pesawat tak berawak AS yang mematikan— adalah serangan rudal balistik di pangkalan militer di Irak yang menyebabkan cedera gegar otak pada sekitar 100 tentara Amerika.
Seorang perwira senior militer AS mengatakan penerbangan dua pembom B-52 Angkatan Udara itu sebagai tanggapan atas sinyal bahwa Iran mungkin merencanakan serangan terhadap target AS dan sekutunya di Irak atau di tempat lain di kawasan itu dalam beberapa hari mendatang, bahkan ketika Presiden terpilih Joe Biden bersiap untuk menjabat. (Baca: Erdogan Diminta Bantu Bebaskan Tentara Israel yang Ditahan di Gaza )
Petugas itu tidak berwenang untuk secara terbuka membahas penilaian internal berdasarkan intelijen sensitif dan berbicara kepada The Associated Press dengan syarat anonim.
Misi pembom B-52—yang diterbangkan pulang pergi dari pangkalan Angkatan Udara di North Dakota—mencerminkan kekhawatiran yang meningkat di Washington pada minggu-minggu terakhir pemerintahan Presiden Donald Trump. Kekhawatiran yang dimaksud adalah bahwa Iran akan memerintahkan pembalasan militer lebih lanjut atas pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani oleh pesawat nirawak AS di Baghdad pada 3 Januari lalu.
Respons awal Iran—lima hari setelah serangan pesawat tak berawak AS yang mematikan— adalah serangan rudal balistik di pangkalan militer di Irak yang menyebabkan cedera gegar otak pada sekitar 100 tentara Amerika.
Lihat Juga :