Di Tengah Ketegangan, Pesawat Mata-mata AS Terobos ADIZ China
Jum'at, 11 Desember 2020 - 07:58 WIB
loading...
A
A
A
Bulan lalu, data pelacak penerbangan menunjukkan dua pesawat pembom Angkatan Udara AS lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Anderson di Guam dan melakukan "serangan mendadak" ke ADIZ Laut China Timur. Kedatangan dua pesawat itu mendapat tanggapan dari sepasang jet pencegat Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China.
Menurut SCSPI kepada Newsweek Oktober lalu, Amerika Serikat hampir menggandakan jumlah misi pesawat mata-mata di dekat China sejak 2009. Angkatan Udara AS sekarang menerbangkan lebih dari 1.500 "serangan mendadak" setahun ke Laut China Selatan, sedangkan kapal-kapal Angkatan Laut AS tercatat melakukan manuver 1000 hari di wilayah tersebut selama periode yang sama.
Dalam laporan November, lembaga think tank tersebut mengatakan militer AS menyamarkan misi pengintaiannya dengan menerbangkan pesawat sipil, melakukan lebih dari 160 "serangan mendadak" ke Laut Kuning, serta perairan yang diperebutkan di Laut China Timur dan Laut China Selatan antara Maret hingga November.
Peningkatan aktivitas terjadi pada saat meningkatnya ketegangan militer antara China dan Taiwan, yang diklaim Beijing sebagai provinsinya yang memisahkan diri dan akan dipaksa bersatu kembali dengan China suatu hari nanti.
Namun Taiwan, di bawah kepemimpinan Presiden Tsai Ing-wen, semakin menjauh dari pengaruh Beijing.
Menurut SCSPI kepada Newsweek Oktober lalu, Amerika Serikat hampir menggandakan jumlah misi pesawat mata-mata di dekat China sejak 2009. Angkatan Udara AS sekarang menerbangkan lebih dari 1.500 "serangan mendadak" setahun ke Laut China Selatan, sedangkan kapal-kapal Angkatan Laut AS tercatat melakukan manuver 1000 hari di wilayah tersebut selama periode yang sama.
Dalam laporan November, lembaga think tank tersebut mengatakan militer AS menyamarkan misi pengintaiannya dengan menerbangkan pesawat sipil, melakukan lebih dari 160 "serangan mendadak" ke Laut Kuning, serta perairan yang diperebutkan di Laut China Timur dan Laut China Selatan antara Maret hingga November.
Peningkatan aktivitas terjadi pada saat meningkatnya ketegangan militer antara China dan Taiwan, yang diklaim Beijing sebagai provinsinya yang memisahkan diri dan akan dipaksa bersatu kembali dengan China suatu hari nanti.
Namun Taiwan, di bawah kepemimpinan Presiden Tsai Ing-wen, semakin menjauh dari pengaruh Beijing.
Lihat Juga :