Terancam oleh China, Taiwan Bangun 8 Kapal Selam Mulai Minggu Depan
Sabtu, 21 November 2020 - 00:00 WIB
loading...
Kapal selam diesel-listrik Hai Lung SS-793 muncul dari bawah laut selama latihan di dekat pangkalan Angkatan Laut Yilan, Taiwan, 13 April 2018. Foto/REUTERS/Tyrone Siu
A
A
A
TAIPEI - Taiwan akan mulai bekerja minggu depan untuk membangun delapan kapal selam yang dikembangkan di dalam negeri. Pulau itu merasa perlu memiliki armada kapal selam untuk membela diri karena ada ancaman dari militer China .
Kantor Kepresidenan Taiwan pada Jumat (20/11/2020) mengumumkan dimulainya proyek tersebut.
Juru bicara kantor kepresidenan Xavier Chang mengatakan proyek tersebut akan mencakup delapan kapal selam dan akan memperkuat pertahanan pulau itu. "Ini merupakan tonggak baru dalam rencana pembuatan kapal selam nasional," kata Chang, seperti dikutip Russia Today. (Baca: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan )
Presiden Tsai Ing-wen akan menghadiri upacara Selasa depan untuk memulai proyek pembangunan kapal selam.
Program ini adalah bagian dari modernisasi militer dan rencana swasembada pemerintah Tsai. Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan pada bulan September—meskipun tanpa menyebut China—bahwa pulau itu memiliki hak untuk membela diri dan melakukan serangan balik "di tengah frekuensi tinggi gangguan dan ancaman dari kapal perang dan pesawat musuh tahun ini".
Kantor Kepresidenan Taiwan pada Jumat (20/11/2020) mengumumkan dimulainya proyek tersebut.
Juru bicara kantor kepresidenan Xavier Chang mengatakan proyek tersebut akan mencakup delapan kapal selam dan akan memperkuat pertahanan pulau itu. "Ini merupakan tonggak baru dalam rencana pembuatan kapal selam nasional," kata Chang, seperti dikutip Russia Today. (Baca: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan )
Presiden Tsai Ing-wen akan menghadiri upacara Selasa depan untuk memulai proyek pembangunan kapal selam.
Program ini adalah bagian dari modernisasi militer dan rencana swasembada pemerintah Tsai. Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan pada bulan September—meskipun tanpa menyebut China—bahwa pulau itu memiliki hak untuk membela diri dan melakukan serangan balik "di tengah frekuensi tinggi gangguan dan ancaman dari kapal perang dan pesawat musuh tahun ini".
Lihat Juga :