Madrasah Pertama untuk Transgender Muslim Dibuka di Bangladesh
Sabtu, 07 November 2020 - 13:57 WIB
loading...
A
A
A
"Kami Muslim, namun kami tidak bisa pergi ke masjid," kata Akhter. "Kami bahkan tidak bisa bergaul dengan anggota masyarakat lainnya."
Sekelompok ulama yang dipimpin oleh Abdur Rahman Azad mengubah lantai atas gedung tiga lantai menjadi sekolah dengan dana dari badan amal setempat. (Baca juga: Pangeran Arab Saudi: Jika Jadi Presiden, Biden seperti Trump Pro-Israel )
Tim Azad sudah menawarkan pelajaran Al-Qur'an kepada tujuh kelompok transgender di Dhaka dan mengatakan madrasah tumbuh dari kebutuhan akan basis permanen bagi komunitas.
Hingga 150 pelajar—hampir semua orang dewasa—akan mendapatkan pelajaran yang serupa dengan madrasah tradisional, di mana Al-Qur'an diajarkan bersama dengan filsafat Islam, Bahasa Bengali, Bahasa Inggris, matematika dan ilmu sosial.
Azad mengatakan kaum transgender, yang dikenal sebagai Hijra di Bangladesh, sudah terlalu menderita.
"Sudah terlalu lama mereka menjalani hidup yang sengsara. Mereka tidak bisa bersekolah, madrasah atau masjid. Mereka menjadi korban diskriminasi. Kita, masyarakat dan negara yang harus disalahkan atas hal ini," ujarnya.
Sekelompok ulama yang dipimpin oleh Abdur Rahman Azad mengubah lantai atas gedung tiga lantai menjadi sekolah dengan dana dari badan amal setempat. (Baca juga: Pangeran Arab Saudi: Jika Jadi Presiden, Biden seperti Trump Pro-Israel )
Tim Azad sudah menawarkan pelajaran Al-Qur'an kepada tujuh kelompok transgender di Dhaka dan mengatakan madrasah tumbuh dari kebutuhan akan basis permanen bagi komunitas.
Hingga 150 pelajar—hampir semua orang dewasa—akan mendapatkan pelajaran yang serupa dengan madrasah tradisional, di mana Al-Qur'an diajarkan bersama dengan filsafat Islam, Bahasa Bengali, Bahasa Inggris, matematika dan ilmu sosial.
Azad mengatakan kaum transgender, yang dikenal sebagai Hijra di Bangladesh, sudah terlalu menderita.
"Sudah terlalu lama mereka menjalani hidup yang sengsara. Mereka tidak bisa bersekolah, madrasah atau masjid. Mereka menjadi korban diskriminasi. Kita, masyarakat dan negara yang harus disalahkan atas hal ini," ujarnya.
Lihat Juga :