Publik Qatar Boikot Produk Prancis: 'Ini Senjata Terkuat Kami'
Rabu, 28 Oktober 2020 - 11:45 WIB
loading...
A
A
A
Selain Qatar, seruan boikot produk-produk Prancis juga menggema di Arab Saudi, Kuwait, Aljazair, Sudan, Palestina, Maroko, Bangladesh, Pakistan dan Turki. (Baca: Cover Charlie Hebdo Kartun Erdogan Cabul, Begini Reaksi Turki )
Sebelumnya, Duta Besar (Dubes) Prancis untuk Swedia, Etienne de Gonneville, mengatakan negaranya adalah negara Muslim. Komentar mengejutkan ini muncul ketika gerakan produk-produk Prancis marak di negara-negara Arab dan Muslim sebagai protes atas kartun-kartun yang menghina Nabi Muhammad. (Baca: Inilah Daftar Produk Prancis yang Berpotensi Diboikot Dunia Muslim )
Negara yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron itu jadi sorotan dunia Muslim setelah guru sejarah bernama Samuel Paty mempertontonkan kartun yang menghina Nabi Muhammad kepada murid-muridnya dalam diskusi kebebasan berekspresi di kelas. Guru itu dibunuh dan dipenggal pengungsi Chechnya di pinggiran Paris ketika korban sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah tempat dia mengajar pada 16 Oktober lalu.
Polemik soal kartun jadi melebar ketika Presiden Emmanuel Macron membela penerbitannya oleh majalah Charlie Hebdo dan menyebut pemenggal Paty sebagai "Islamis". Sebelumnya, Macron juga menyebut Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Komentar itu memicu kemarahan negara-negara Muslim, termasuk Turki.
Dubes de Gonneville menyebut Prancis sebagai negara Muslim saat dalam wawancara dengan penyiar SVT di Swedia. (Baca juga: Imbas Macron Hina Islam: Website Prancis Diretas, Produknya Diboikot di Mana-mana )
Sebelumnya, Duta Besar (Dubes) Prancis untuk Swedia, Etienne de Gonneville, mengatakan negaranya adalah negara Muslim. Komentar mengejutkan ini muncul ketika gerakan produk-produk Prancis marak di negara-negara Arab dan Muslim sebagai protes atas kartun-kartun yang menghina Nabi Muhammad. (Baca: Inilah Daftar Produk Prancis yang Berpotensi Diboikot Dunia Muslim )
Negara yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron itu jadi sorotan dunia Muslim setelah guru sejarah bernama Samuel Paty mempertontonkan kartun yang menghina Nabi Muhammad kepada murid-muridnya dalam diskusi kebebasan berekspresi di kelas. Guru itu dibunuh dan dipenggal pengungsi Chechnya di pinggiran Paris ketika korban sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah tempat dia mengajar pada 16 Oktober lalu.
Polemik soal kartun jadi melebar ketika Presiden Emmanuel Macron membela penerbitannya oleh majalah Charlie Hebdo dan menyebut pemenggal Paty sebagai "Islamis". Sebelumnya, Macron juga menyebut Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Komentar itu memicu kemarahan negara-negara Muslim, termasuk Turki.
Dubes de Gonneville menyebut Prancis sebagai negara Muslim saat dalam wawancara dengan penyiar SVT di Swedia. (Baca juga: Imbas Macron Hina Islam: Website Prancis Diretas, Produknya Diboikot di Mana-mana )
Lihat Juga :