AS Butuh Rudal Nuklir Baru Biayanya Rp1.411 Triliun

loading...
AS Butuh Rudal Nuklir Baru Biayanya Rp1.411 Triliun
Rudal balistik antarbenua Minuteman III Amerika Serikat saat diuji coba. AS Butuh rudal-rudal nuklir baru untuk gantikan rudal Minuteman III. Foto/REUTERS
A+ A-
WASHINGTON - Pentagon telah menaikkan perkiraan biaya hingga USD95,8 miliar (Rp1.411 triliun)untuk menerjunkan armada baru rudal nuklir berbasis darat Amerika Serikat (AS). Senjata-senjata berbahaya itu diperlukan untuk menggantikan persenjataan rudal Minuteman III yang telah beroperasi terus menerus selama 50 tahun.

Mengutip laporan AP, Selasa (20/10/2020), perkiraan biaya itu naik sekitar USD10 miliar dari empat tahun lalu. (Baca: Pembom H-6N China Terlihat Bawa Rudal Jelajah Hipersonik Misterius)

Senjata, yang dikenal sebagai rudal balistik antarbenua atau ICBM, dimaksudkan sebagai bagian dari hampir total penggantian kekuatan nuklir Amerika selama beberapa dekade mendatang dengan total biaya lebih dari USD1,2 triliun.

Beberapa pihak, termasuk mantan Menteri Pertahanan William J. Perry, berpendapat bahwa keamanan nasional AS dapat dijamin tanpa ICBM. Namun, Pentagon mengatakan bahwa ICBM penting untuk mencegah perang.



Pemerintahan Donald Trump menegaskan komitmennya untuk menerjunkan generasi baru ICBM dalam tinjauan kebijakan nuklir 2018. (Baca: AS Marah karena Turki Jajal Sistem Rudal S-400 Rusia)

"Pasukan ICBM sangat dapat bertahan melawan apapun kecuali serangan nuklir skala besar," bunyi tinjauan tersebut. "Untuk menghancurkan ICBM AS di darat, musuh perlu meluncurkan serangan yang terkoordinasi secara tepat dengan ratusan hulu ledak berkekuatan tinggi dan akurat. Ini adalah tantangan yang tidak dapat diatasi bagi setiap musuh potensial saat ini, kecuali Rusia."

Armada saat ini yang terdiri dari 400 rudal Minuteman, masing-masing dipersenjatai dengan satu hulu ledak nuklir, berbasis di silo bawah tanah di Montana, North Dakota, Colorado, Wyoming dan Nebraska. Jumlah mereka diatur sebagian oleh perjanjian New START 2010 dengan Rusia, yang akan berakhir pada Februari 2021.



Rusia ingin memperpanjang perjanjian New START, tetapi pemerintahan Trump telah menetapkan persyaratan yang tidak diterima oleh Moskow. (Baca juga: China Tempatkan Rudal Canggih Dekat Taiwan, Dikhawatirkan Persiapan Perang)
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top