Krisis Air Diprediksi Jadi Sumber Perang, Kerusuhan, dan Migrasi di Masa Depan
Minggu, 11 Oktober 2020 - 04:40 WIB
loading...
Ilustrasi
A
A
A
AMSTERDAM - Dari Yaman hingga India, dan sebagian Amerika Tengah hingga Sahel Afrika, sekitar seperempat penduduk dunia menghadapi kekurangan air yang ekstrim. Kondisi ini diprediksi dapat memicu konflik, kerusuhan sosial, dan migrasi. Hal itu diungkap oleh World Resources Institute (WRI), sebuah kelompok penelitian yang berbasis di Amerika Serikat (AS).
WRI menuturkan, dengan meningkatnya populasi dunia dan perubahan iklim yang membawa curah hujan yang tidak menentu, termasuk kekeringan parah, persaingan untuk mendapatkan air yang lebih langka meningkat. Ini dinilai akan memiliki konsekuensi yang serius.
(Baca: Krisis Air di Bojonegoro Warga Antre Bantuan Air Bersih )
Menurut WRI, 17 negara menghadapi tingkat tekanan air yang sangat tinggi, sementara lebih dari dua miliar orang tinggal di negara-negara yang mengalami tekanan air tinggi. Satu dari empat anak di seluruh dunia, jelas WRI, akan tinggal di daerah dengan tekanan air yang sangat tinggi pada tahun 2040.
Peter Gleick, salah satu pendiri Institut Pasifik yang berbasis di California, yang bersama-sama membuat laporan dengan WRI dan Water, Peace and Security Partnership, menuturkan perselisihan atas air selama ribuan tahun telah menjadi titik nyala, mendorong ketidakstabilan politik dan konflik.
WRI menuturkan, dengan meningkatnya populasi dunia dan perubahan iklim yang membawa curah hujan yang tidak menentu, termasuk kekeringan parah, persaingan untuk mendapatkan air yang lebih langka meningkat. Ini dinilai akan memiliki konsekuensi yang serius.
(Baca: Krisis Air di Bojonegoro Warga Antre Bantuan Air Bersih )
Menurut WRI, 17 negara menghadapi tingkat tekanan air yang sangat tinggi, sementara lebih dari dua miliar orang tinggal di negara-negara yang mengalami tekanan air tinggi. Satu dari empat anak di seluruh dunia, jelas WRI, akan tinggal di daerah dengan tekanan air yang sangat tinggi pada tahun 2040.
Peter Gleick, salah satu pendiri Institut Pasifik yang berbasis di California, yang bersama-sama membuat laporan dengan WRI dan Water, Peace and Security Partnership, menuturkan perselisihan atas air selama ribuan tahun telah menjadi titik nyala, mendorong ketidakstabilan politik dan konflik.
Lihat Juga :