Mertua Tak Tahu Kondisi Mojtaba Khamenei: Dia Tak Berkomunikasi dengan Orang Mana Pun
Selasa, 28 Juli 2026 - 12:41 WIB
loading...
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Dia belum muncul di depan publik sejak terpilih menggantikan ayahnya. Foto/Mehr News Agency
A
A
A
TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei tidak berkomunikasi dengan pihak atau orang mana pun sehingga tak ada yang tahu kondisinya terkini. Pengungkapan ini disampaikan oleh ayah mertua Mojtaba, Gholam-Ali Haddad-Adel.
"[Mojtaba] Khamenei tidak berkomunikasi dengan pihak atau individu mana pun karena alasan tertentu,” katanya dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita ISNA. Namun, dia tidak memberikan detail lebih lanjut.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei kepada Hizbullah: Tak Ada Jalan Lain Selain Jihad Melawan AS dan Israel
Haddad-Adel mengungkapkan bahwa Mojtaba sama seperti ayahnya, mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dalam segala hal. Dia berharap Mojtaba dalam kesehatan yang baik karena dia tidak mengetahui kondisi menantunya tersebut.
Ayatollah Ali Khamenei, yang memerintah Iran selama hampir 36 tahun, meninggal dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari. Setelah itu, Mojtaba diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu. Namun, dia belum terlihat di depan umum sejak terpilih.
Bulan lalu, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang mencakup gencatan senjata, setelah mediasi Qatar dan Pakistan—sebagai pendahuluan guna mencapai kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik.
Namun, situasi memburuk pada 8 Juli, ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir di tengah aksi saling serang kedua pihak.
Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Mojtaba mendukung konfrontasi terbaru Hizbullah melawan Israel, menggambarkan keteguhan kelompok bersenjata Lebanon itu sebagai simbol harapan dan pembebasan bagi orang-orang tertindas di seluruh dunia.
Dalam sebuah surat balasan untuk Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem, Mojataba menyampaikan pesan: “Saat ini, ketika bangsa-bangsa di dunia telah lelah dengan tirani dan penindasan pemerintah AS dan Zionis kriminal, yang merupakan penghancur kehidupan dan generasi, tidak ada jalan lain selain jihad dan perlawanan."
Dia menegaskan bahwa kampanye Hizbullah yang berkelanjutan berfungsi sebagai pesan inspiratif bagi bangsa-bangsa bebas di dunia dalam upaya mereka untuk membebaskan diri dari penindasan dan tirani kesombongan global dan proksinya.
Dia memotivasi para milisi Hizbullah dengan mengenang warisan Imam Khomeini bersama almarhum Ayatollah Ali Khamenei. “Sejalan dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemimpin Revolusi Islam yang agung dan gugur sebagai syahid, Imam Seyyed Ali Khamenei, Republik Islam Iran menganggap pembelaan terhadap para pejuang yang tertindas namun kuat ini sebagai mandat strategisnya,” paparnya, seperti dikutip dari Tasnim News Agency, Selasa (28/7/2026).
"[Mojtaba] Khamenei tidak berkomunikasi dengan pihak atau individu mana pun karena alasan tertentu,” katanya dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita ISNA. Namun, dia tidak memberikan detail lebih lanjut.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei kepada Hizbullah: Tak Ada Jalan Lain Selain Jihad Melawan AS dan Israel
Haddad-Adel mengungkapkan bahwa Mojtaba sama seperti ayahnya, mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dalam segala hal. Dia berharap Mojtaba dalam kesehatan yang baik karena dia tidak mengetahui kondisi menantunya tersebut.
Ayatollah Ali Khamenei, yang memerintah Iran selama hampir 36 tahun, meninggal dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari. Setelah itu, Mojtaba diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu. Namun, dia belum terlihat di depan umum sejak terpilih.
Bulan lalu, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang mencakup gencatan senjata, setelah mediasi Qatar dan Pakistan—sebagai pendahuluan guna mencapai kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik.
Namun, situasi memburuk pada 8 Juli, ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir di tengah aksi saling serang kedua pihak.
Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Mojtaba mendukung konfrontasi terbaru Hizbullah melawan Israel, menggambarkan keteguhan kelompok bersenjata Lebanon itu sebagai simbol harapan dan pembebasan bagi orang-orang tertindas di seluruh dunia.
Dalam sebuah surat balasan untuk Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem, Mojataba menyampaikan pesan: “Saat ini, ketika bangsa-bangsa di dunia telah lelah dengan tirani dan penindasan pemerintah AS dan Zionis kriminal, yang merupakan penghancur kehidupan dan generasi, tidak ada jalan lain selain jihad dan perlawanan."
Dia menegaskan bahwa kampanye Hizbullah yang berkelanjutan berfungsi sebagai pesan inspiratif bagi bangsa-bangsa bebas di dunia dalam upaya mereka untuk membebaskan diri dari penindasan dan tirani kesombongan global dan proksinya.
Dia memotivasi para milisi Hizbullah dengan mengenang warisan Imam Khomeini bersama almarhum Ayatollah Ali Khamenei. “Sejalan dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemimpin Revolusi Islam yang agung dan gugur sebagai syahid, Imam Seyyed Ali Khamenei, Republik Islam Iran menganggap pembelaan terhadap para pejuang yang tertindas namun kuat ini sebagai mandat strategisnya,” paparnya, seperti dikutip dari Tasnim News Agency, Selasa (28/7/2026).
(mas)
Lihat Juga :