Seorang Pangeran Arab Saudi Tewas di Hotel Kensington usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
Jum'at, 24 Juli 2026 - 10:12 WIB
loading...
Marriott Hotel di Kensington, London barat, tempat Pangeran Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi al-Saud ditemukan tewas. Foto/The Telegraph
A
A
A
LONDON - Seorang pangeran Kerajaan Arab Saudi ditemukan tewas di sebuah hotel di Kensington, Inggris, setelah mengonsumsi campuran narkoba dan alkohol.
Pangeran Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi al-Saud memiliki hampir tiga kali lipat batas kadar alkohol dalam darah saat mengemudi. Dia juga memiliki jejak gamma-hydroxybutyrate (GHB), ganja, dan Xanax dalam tubuhnya.
Baca Juga: Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
Jenazahnya ditemukan di kamar mandinya di Marriott Hotel di Kensington, London barat, pada 25 November tahun lalu. Namun, kematiannya baru diungkap media-media Inggris pada Kamis (23/7/2026). Tarif kamar hotel tempat Pangeran Abdullah ditemukan tewas adalah £600 per malam.
Pengadilan setempat mendengar kesaksian bahwa almarhum telah berjuang melawan kecanduan alkohol dan Xanax.
Tiga bulan sebelumnya, dia dirawat inap di Priory Clinic di Roehampton, London barat daya, di mana biaya perawatan bisa mencapai £35.000 per minggu.
Di sana, dia menjalani detoksifikasi dari alkohol, benzodiazepin, dan obat anti-kecemasan pregabalin.
Pemeriksaan di Pengadilan Koroner London Barat Dalam diketahui bahwa pangeran berusia 29 tahun itu telah check-in ke hotel pada 19 November untuk menginap selama seminggu.
Pangeran Abdullah terakhir terlihat di CCTV pada malam sebelum kematiannya keluar untuk merokok.
Seorang petugas kebersihan kemudian menemukannya terbaring dengan pakaian lengkap di lantai kamar mandinya yang terkunci di lantai lima.
Paramedis tidak dapat menyelamatkannya dan dia dinyatakan meninggal.
Laporan toksikologi menunjukkan bahwa bangsawan muda itu memiliki konsentrasi etanol dalam darah sebesar 222 mg alkohol per 100 ml darah. Batas mengemudi dalam keadaan mabuk adalah 80 mg.
Kadar gamma-hydroxybutyrate (GHB), yang disebut sebagai "obat pesta", yang berpotensi fatal juga ditemukan dalam tubuhnya, serta jejak ganja, obat anti-kecemasan alprazolam, yang lebih dikenal sebagai Xanax, dan obat anti-kecemasan lainnya.
Dr Victoria Chamorro, seorang psikiater konsultan, mengatakan bahwa dia telah berpartisipasi dengan baik dalam perawatan detoksifikasi di Priory, yang berjalan tanpa efek samping fisik.
"Dia suportif dan baik kepada teman-temannya, menjalin pertemanan," katanya dalam sebuah pernyataan. "Dia dinilai memiliki gejala suasana hati yang rendah dan kecemasan saat masuk," ujarnya, seperti dikutip The Telegraph, Jumat (24/7/2026).
"Ketika dia dipulangkan, dia dianggap tidak berisiko bunuh diri. Dia dipulangkan bersama seorang teman tetapi kemudian gagal menghadiri janji temu Zoom yang dijadwalkan," paparnya.
“Meskipun demikian, tidak ada kekhawatiran terhadapnya. Dia menjalani perawatan dengan baik dan menyelesaikan pengobatannya," imbuh dia.
Setelah meninggalkan Priory, pangeran tersebut menjalani perawatan lebih lanjut di klinik swasta Rainford Hall di St Helens, Merseyside, dengan biaya £7.000 per minggu, di mana dia juga didiagnosis menderita infeksi saluran pernapasan bagian atas.
Dia pulih dan meninggalkan fasilitas tersebut pada 14 Oktober.
Pemeriksaan post-mortem menemukan bahwa bangsawan tersebut, yang merupakan keturunan dari kakek buyut Raja Salman tidak memiliki penyakit akut atau kronis, tetapi mengalami serangan jantung akibat kombinasi obat-obatan dan alkohol.
Jean Harkin, asisten koroner, mengatakan bahwa dia tidak percaya bahwa pangeran tersebut bermaksud untuk bunuh diri, mencatat bahwa laporan dari Priory dan Rainford Hall mengatakan tidak ada kekhawatiran, bahwa dia tidak memberi tahu siapa pun bahwa dia ingin bunuh diri, dan tidak ada catatan di kamarnya.
Tidak ada pula bukti keterlibatan pihak ketiga, dengan rekaman CCTV menunjukkan bahwa dia sendirian pada malam sebelum kematiannya.
Harkin mencatat vonis kematian akibat insiden dengan penyebab kematian berupa konsumsi berbagai macam obat.
Dia menambahkan: “Saya ingin menyampaikan belasungkawa tulus saya kepada keluarga Abdullah.”
Pangeran Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi al-Saud memiliki hampir tiga kali lipat batas kadar alkohol dalam darah saat mengemudi. Dia juga memiliki jejak gamma-hydroxybutyrate (GHB), ganja, dan Xanax dalam tubuhnya.
Baca Juga: Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
Jenazahnya ditemukan di kamar mandinya di Marriott Hotel di Kensington, London barat, pada 25 November tahun lalu. Namun, kematiannya baru diungkap media-media Inggris pada Kamis (23/7/2026). Tarif kamar hotel tempat Pangeran Abdullah ditemukan tewas adalah £600 per malam.
Pengadilan setempat mendengar kesaksian bahwa almarhum telah berjuang melawan kecanduan alkohol dan Xanax.
Tiga bulan sebelumnya, dia dirawat inap di Priory Clinic di Roehampton, London barat daya, di mana biaya perawatan bisa mencapai £35.000 per minggu.
Di sana, dia menjalani detoksifikasi dari alkohol, benzodiazepin, dan obat anti-kecemasan pregabalin.
Pemeriksaan di Pengadilan Koroner London Barat Dalam diketahui bahwa pangeran berusia 29 tahun itu telah check-in ke hotel pada 19 November untuk menginap selama seminggu.
Pangeran Abdullah terakhir terlihat di CCTV pada malam sebelum kematiannya keluar untuk merokok.
Seorang petugas kebersihan kemudian menemukannya terbaring dengan pakaian lengkap di lantai kamar mandinya yang terkunci di lantai lima.
Paramedis tidak dapat menyelamatkannya dan dia dinyatakan meninggal.
Laporan toksikologi menunjukkan bahwa bangsawan muda itu memiliki konsentrasi etanol dalam darah sebesar 222 mg alkohol per 100 ml darah. Batas mengemudi dalam keadaan mabuk adalah 80 mg.
Kadar gamma-hydroxybutyrate (GHB), yang disebut sebagai "obat pesta", yang berpotensi fatal juga ditemukan dalam tubuhnya, serta jejak ganja, obat anti-kecemasan alprazolam, yang lebih dikenal sebagai Xanax, dan obat anti-kecemasan lainnya.
Tidak Dianggap Berisiko Bunuh Diri
Dr Victoria Chamorro, seorang psikiater konsultan, mengatakan bahwa dia telah berpartisipasi dengan baik dalam perawatan detoksifikasi di Priory, yang berjalan tanpa efek samping fisik.
"Dia suportif dan baik kepada teman-temannya, menjalin pertemanan," katanya dalam sebuah pernyataan. "Dia dinilai memiliki gejala suasana hati yang rendah dan kecemasan saat masuk," ujarnya, seperti dikutip The Telegraph, Jumat (24/7/2026).
"Ketika dia dipulangkan, dia dianggap tidak berisiko bunuh diri. Dia dipulangkan bersama seorang teman tetapi kemudian gagal menghadiri janji temu Zoom yang dijadwalkan," paparnya.
“Meskipun demikian, tidak ada kekhawatiran terhadapnya. Dia menjalani perawatan dengan baik dan menyelesaikan pengobatannya," imbuh dia.
Setelah meninggalkan Priory, pangeran tersebut menjalani perawatan lebih lanjut di klinik swasta Rainford Hall di St Helens, Merseyside, dengan biaya £7.000 per minggu, di mana dia juga didiagnosis menderita infeksi saluran pernapasan bagian atas.
Dia pulih dan meninggalkan fasilitas tersebut pada 14 Oktober.
Pemeriksaan post-mortem menemukan bahwa bangsawan tersebut, yang merupakan keturunan dari kakek buyut Raja Salman tidak memiliki penyakit akut atau kronis, tetapi mengalami serangan jantung akibat kombinasi obat-obatan dan alkohol.
Jean Harkin, asisten koroner, mengatakan bahwa dia tidak percaya bahwa pangeran tersebut bermaksud untuk bunuh diri, mencatat bahwa laporan dari Priory dan Rainford Hall mengatakan tidak ada kekhawatiran, bahwa dia tidak memberi tahu siapa pun bahwa dia ingin bunuh diri, dan tidak ada catatan di kamarnya.
Tidak ada pula bukti keterlibatan pihak ketiga, dengan rekaman CCTV menunjukkan bahwa dia sendirian pada malam sebelum kematiannya.
Harkin mencatat vonis kematian akibat insiden dengan penyebab kematian berupa konsumsi berbagai macam obat.
Dia menambahkan: “Saya ingin menyampaikan belasungkawa tulus saya kepada keluarga Abdullah.”
(mas)
Lihat Juga :