Houthi Ancam Serang Infrastruktur Minyak Saudi jika Perang Terus Berlanjut
Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:40 WIB
loading...
Houthi ancam serang infrastruktur minyak Arab Saudi. Foto/X
A
A
A
SANAA - Hizam al-Assad, seorang pejabat senior dari gerakan perlawanan Ansarullah Yaman atau gerakan Houthi menyatakan bahwa semua minyak Saudi dan fasilitas penting lainnya akan menjadi sasaran rudal dan drone jika Arab Saudi melancarkan agresi komprehensif terhadap negara Arab tersebut.
Hizam al-Assad, anggota biro politik Ansarullah, menyampaikan peringatan tersebut dalam sebuah unggahan yang dipublikasikan di platform media sosial X pada Sabtu pagi.
“Rezim Saudi bertanggung jawab atas konsekuensi lingkungan yang diakibatkan oleh pembakaran sumur minyak, jalur transmisi, kapal tanker, kilang minyak, pelabuhan ekspor minyak, stasiun pengisian bahan bakar, dan pabrik petrokimia, serta segala penderitaan yang akan diderita penduduk setempat akibat kobaran api yang hebat dan kepulan asap [hitam tebal],” tulis Assad, dilansir Press TV.
Ia menambahkan bahwa rakyat Yaman, dengan rahmat Tuhan, akan merebut kembali hak-hak mereka, mematahkan pengepungan ketat yang dikenakan pada tanah air mereka, dan membalas darah suci para martir dan hati yang hancur yang telah menanggung banyak penderitaan selama 11 tahun agresi dan blokade.
Ketegangan meningkat pada hari Senin ketika Arab Saudi menyerang Bandara Internasional Sana'a untuk mencegah pesawat Iran mendarat di ibu kota Yaman.
Pesawat tersebut membawa delegasi Ansarullah yang melakukan perjalanan ke Teheran untuk upacara perpisahan dan pemakaman Pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Pesawat tersebut dialihkan setelah bandara Sana'a dibom, dan mendarat dengan selamat di kota pelabuhan strategis Hudaydah.
Arab Saudi dan sekutu Arabnya melancarkan blokade terhadap Yaman sebagai bagian dari perang skala penuh pada 26 Maret 2015, dengan dukungan militer, politik, dan logistik dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya.
Perang tersebut telah menewaskan puluhan ribu warga Yaman, sementara secara konsisten gagal mencapai tujuan utamanya yaitu mengembalikan kekuasaan kepada rezim Yaman yang sebelumnya bersahabat dengan Riyadh.
Setelah gencatan senjata yang rapuh yang dimediasi PBB pada tahun 2022, Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Israel melakukan berbagai tindakan agresi terhadap Yaman untuk melumpuhkan kemampuan Sana'a dalam melancarkan serangan solidaritas terhadap target Israel sebagai tanggapan terhadap perang genosida Tel Aviv di Jalur Gaza.
Hizam al-Assad, anggota biro politik Ansarullah, menyampaikan peringatan tersebut dalam sebuah unggahan yang dipublikasikan di platform media sosial X pada Sabtu pagi.
“Rezim Saudi bertanggung jawab atas konsekuensi lingkungan yang diakibatkan oleh pembakaran sumur minyak, jalur transmisi, kapal tanker, kilang minyak, pelabuhan ekspor minyak, stasiun pengisian bahan bakar, dan pabrik petrokimia, serta segala penderitaan yang akan diderita penduduk setempat akibat kobaran api yang hebat dan kepulan asap [hitam tebal],” tulis Assad, dilansir Press TV.
Ia menambahkan bahwa rakyat Yaman, dengan rahmat Tuhan, akan merebut kembali hak-hak mereka, mematahkan pengepungan ketat yang dikenakan pada tanah air mereka, dan membalas darah suci para martir dan hati yang hancur yang telah menanggung banyak penderitaan selama 11 tahun agresi dan blokade.
Ketegangan meningkat pada hari Senin ketika Arab Saudi menyerang Bandara Internasional Sana'a untuk mencegah pesawat Iran mendarat di ibu kota Yaman.
Pesawat tersebut membawa delegasi Ansarullah yang melakukan perjalanan ke Teheran untuk upacara perpisahan dan pemakaman Pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Pesawat tersebut dialihkan setelah bandara Sana'a dibom, dan mendarat dengan selamat di kota pelabuhan strategis Hudaydah.
Arab Saudi dan sekutu Arabnya melancarkan blokade terhadap Yaman sebagai bagian dari perang skala penuh pada 26 Maret 2015, dengan dukungan militer, politik, dan logistik dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya.
Perang tersebut telah menewaskan puluhan ribu warga Yaman, sementara secara konsisten gagal mencapai tujuan utamanya yaitu mengembalikan kekuasaan kepada rezim Yaman yang sebelumnya bersahabat dengan Riyadh.
Setelah gencatan senjata yang rapuh yang dimediasi PBB pada tahun 2022, Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Israel melakukan berbagai tindakan agresi terhadap Yaman untuk melumpuhkan kemampuan Sana'a dalam melancarkan serangan solidaritas terhadap target Israel sebagai tanggapan terhadap perang genosida Tel Aviv di Jalur Gaza.
(ahm)
Lihat Juga :