Presiden Israel Ingin Berdamai dengan Arab Saudi: Saya Menghormati Mohammed bin Salman
Jum'at, 17 Juli 2026 - 14:32 WIB
loading...
Presiden Israel Isaac Herzog ingin negaranya berdamai dengan Kerajaan Arab Saudi. Foto/Screenshot/Al Arabiya
A
A
A
TEL AVIV - Presiden Isaac Herzog duduk di kantornya di Yerusalem untuk wawancara dengan stasiun televisi Al Arabiya milik Kerajaan Arab Saudi yang ditayangkan Kamis malam. Dia mengatakan bahwa mimpinya adalah melihat perdamaian antara kedua negara.
Dia juga menyampaikan kesedihannya atas jumlah korban jiwa dalam perang di Gaza, mengatakan hatinya hancur melihat warga sipil yang tewas dalam konflik tersebut.
Baca Juga: Sekutu Trump: Pangeran MBS Bisa Akui Israel Hari Ini, Masalahnya Ada di Raja Salman
“Saya sangat menghormati Putra Mahkota Mohammed Bin Salman,” kata Herzog tentang pemimpin de facto Arab Saudi tersebut. “Hal yang paling kami inginkan di Israel adalah melihat adanya rekonsiliasi antara kedua negara," katanya lagi, yang dikutip Times of Israel, Jumat (17/7/2026).
Dia mengatakan bahwa dirinya berharap dapat bertemu dengan pimpinan Arab Saudi secara resmi pada saatnya.
“Impian saya adalah melihat perdamaian antara Israel dan Arab Saudi,” katanya, menyarankan agar kedua negara bernegosiasi secara langsung, dengan dukungan dari Amerika Serikat.
Pada tahun 2023, Arab Saudi terlibat dalam pembicaraan tentatif tentang normalisasi hubungan, tetapi tiba-tiba menarik diri ketika perang di Gaza pecah setelah serangan yang dipimpin Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober. Para pejabat Arab Saudi berulang kali mengatakan bahwa mereka tidak akan mengakui Israel tanpa jalan menuju negara Palestina merdeka, yang ditentang oleh pemerintah Israel saat ini.
“Saya percaya kita berada pada momen dialog antara Yerusalem dan Makkah,” kata Herzog. “Saya percaya bahwa ada momen dialog antara orang-orang dari semua agama di kawasan ini, dan saya mencoba untuk mewujudkannya dengan cara saya sendiri," paparnya.
Selain menormalisasi hubungan dengan Riyadh, Herzog mengatakan dia ingin Israel menjalin kesepakatan perdamaian dengan Lebanon dan Suriah.
Menurutnya, Israel dan Lebanon telah terlibat dalam pembicaraan langsung bersejarah yang bertujuan untuk mengakhiri pertempuran yang sedang berlangsung, sementara Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa telah menunjukkan keterbukaan terhadap hubungan, meskipun ketegangan tetap ada terkait pasukan Israel di wilayah Suriah.
“Impian saya adalah naik mobil dan berkendara ke Beirut," katanya. “Impian saya adalah pergi ke Damaskus,” lanjut dia.
“Kami percaya kawasan ini harus bergerak menuju perdamaian, bukan perlombaan senjata, ancaman, dan sebagainya," imbuh dia.
"Tujuan besar Israel selanjutnya seharusnya perdamaian dengan Suriah, perdamaian dengan Lebanon dan bukan memiringkan keseimbangan ke arah berbagai elemen yang dapat mengalihkan dan mengubah persamaan di kawasan ini dalam keseimbangan, yang cukup sensitif," sambung Herzog.
Beralih ke konflik regional yang lebih luas, Herzog mengatakan dia tidak terkejut bahwa nota kesepahaman AS-Iran tentang mengakhiri pertempuran yang ditandatangani bulan lalu telah gagal, mengingat perilaku Iran di masa lalu.
“Tidak mungkin untuk membuat kesepakatan dengan Iran," katanya. “Mereka selalu melanggar. Mereka memiliki cara sendiri untuk menafsirkan hal-hal yang sangat, sangat jelas.”
Pada saat yang sama, katanya, dia sepenuhnya mempercayai Presiden AS Donald Trump dan percaya pada solusi diplomatik untuk konflik tersebut. "Tetapi kami memiliki kekhawatiran yang sah, kami telah menyampaikannya, dan sekarang Anda melihatnya di depan mata Anda dengan perilaku Iran," ujarnya.
“Saya menghormati Presiden Donald Trump, dan saya menghormati Wakil Presiden JD Vance,” tegas Herzog, setelah Vance pekan ini menyalahkan Israel karena mencoba merusak pembicaraan dengan Iran, menambahkan: “[Saya] senang bahwa reaksi AS [terhadap pelanggaran Iran] tegas dan jelas.”
Herzog juga mengatakan bahwa “hatinya sakit” untuk setiap warga sipil Palestina yang tidak bersalah yang terbunuh. “Karena ini bukanlah tujuan atau keinginan kami sama sekali," klaimnya.
Dia mengatakan bahwa rakyat Gaza berhak atas kehidupan yang baik. "Kami menginginkan kehidupan yang baik untuk mereka," katanya.
Dia juga menyampaikan kesedihannya atas jumlah korban jiwa dalam perang di Gaza, mengatakan hatinya hancur melihat warga sipil yang tewas dalam konflik tersebut.
Baca Juga: Sekutu Trump: Pangeran MBS Bisa Akui Israel Hari Ini, Masalahnya Ada di Raja Salman
“Saya sangat menghormati Putra Mahkota Mohammed Bin Salman,” kata Herzog tentang pemimpin de facto Arab Saudi tersebut. “Hal yang paling kami inginkan di Israel adalah melihat adanya rekonsiliasi antara kedua negara," katanya lagi, yang dikutip Times of Israel, Jumat (17/7/2026).
Dia mengatakan bahwa dirinya berharap dapat bertemu dengan pimpinan Arab Saudi secara resmi pada saatnya.
“Impian saya adalah melihat perdamaian antara Israel dan Arab Saudi,” katanya, menyarankan agar kedua negara bernegosiasi secara langsung, dengan dukungan dari Amerika Serikat.
Pada tahun 2023, Arab Saudi terlibat dalam pembicaraan tentatif tentang normalisasi hubungan, tetapi tiba-tiba menarik diri ketika perang di Gaza pecah setelah serangan yang dipimpin Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober. Para pejabat Arab Saudi berulang kali mengatakan bahwa mereka tidak akan mengakui Israel tanpa jalan menuju negara Palestina merdeka, yang ditentang oleh pemerintah Israel saat ini.
“Saya percaya kita berada pada momen dialog antara Yerusalem dan Makkah,” kata Herzog. “Saya percaya bahwa ada momen dialog antara orang-orang dari semua agama di kawasan ini, dan saya mencoba untuk mewujudkannya dengan cara saya sendiri," paparnya.
Selain menormalisasi hubungan dengan Riyadh, Herzog mengatakan dia ingin Israel menjalin kesepakatan perdamaian dengan Lebanon dan Suriah.
Menurutnya, Israel dan Lebanon telah terlibat dalam pembicaraan langsung bersejarah yang bertujuan untuk mengakhiri pertempuran yang sedang berlangsung, sementara Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa telah menunjukkan keterbukaan terhadap hubungan, meskipun ketegangan tetap ada terkait pasukan Israel di wilayah Suriah.
“Impian saya adalah naik mobil dan berkendara ke Beirut," katanya. “Impian saya adalah pergi ke Damaskus,” lanjut dia.
“Kami percaya kawasan ini harus bergerak menuju perdamaian, bukan perlombaan senjata, ancaman, dan sebagainya," imbuh dia.
"Tujuan besar Israel selanjutnya seharusnya perdamaian dengan Suriah, perdamaian dengan Lebanon dan bukan memiringkan keseimbangan ke arah berbagai elemen yang dapat mengalihkan dan mengubah persamaan di kawasan ini dalam keseimbangan, yang cukup sensitif," sambung Herzog.
Beralih ke konflik regional yang lebih luas, Herzog mengatakan dia tidak terkejut bahwa nota kesepahaman AS-Iran tentang mengakhiri pertempuran yang ditandatangani bulan lalu telah gagal, mengingat perilaku Iran di masa lalu.
“Tidak mungkin untuk membuat kesepakatan dengan Iran," katanya. “Mereka selalu melanggar. Mereka memiliki cara sendiri untuk menafsirkan hal-hal yang sangat, sangat jelas.”
Pada saat yang sama, katanya, dia sepenuhnya mempercayai Presiden AS Donald Trump dan percaya pada solusi diplomatik untuk konflik tersebut. "Tetapi kami memiliki kekhawatiran yang sah, kami telah menyampaikannya, dan sekarang Anda melihatnya di depan mata Anda dengan perilaku Iran," ujarnya.
“Saya menghormati Presiden Donald Trump, dan saya menghormati Wakil Presiden JD Vance,” tegas Herzog, setelah Vance pekan ini menyalahkan Israel karena mencoba merusak pembicaraan dengan Iran, menambahkan: “[Saya] senang bahwa reaksi AS [terhadap pelanggaran Iran] tegas dan jelas.”
Herzog juga mengatakan bahwa “hatinya sakit” untuk setiap warga sipil Palestina yang tidak bersalah yang terbunuh. “Karena ini bukanlah tujuan atau keinginan kami sama sekali," klaimnya.
Dia mengatakan bahwa rakyat Gaza berhak atas kehidupan yang baik. "Kami menginginkan kehidupan yang baik untuk mereka," katanya.
(mas)
Lihat Juga :