Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
Kamis, 16 Juli 2026 - 12:22 WIB
loading...
AS jual senjata ke Arab Saudi dan peralatan militer ke Kuwait dengan total nilai Rp36,2 triliun ketika perang AS melawan Iran meluas ke negara-negara Arab. Foto/BAE Systems
A
A
A
WASHINGTON - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyetujui potensi penjualan senjata senilai USD1,96 miliar (Rp35,4 triliun) ke Arab Saudi dan paket peralatan militer senilai USD484 juta (Rp8,7 triliun) ke Kuwait.
Penjulan senjata dengan total nilai Rp36,2 triliun ini terjadi ketika perang AS melawan Iran meluas ke negara-negara Arab di Timur Tengah.
Baca Juga: AS Perluas Serangan terhadap Iran, Pengeboman 90 Menit Sebabkan Ledakan di Mana-mana
Penjualan yang diusulkan ke Arab Saudi mencakup hingga 10.000 bagian pemandu udara-ke-udara Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS-II) dan hingga 10.000 bagian pemandu udara-ke-darat APKWS-II.
Menurut Departemen Luar Negeri AS, paket tersebut juga mencakup peluncur, hulu ledak, motor roket, sumbu, suku cadang dan komponen perbaikan, dokumentasi teknis, peralatan pelatihan, dan layanan dukungan logistik.
Kontraktor utama untuk penjualan ke Arab Saudi adalah BAE Systems, yang berbasis di Nashua, New Hampshire.
Secara terpisah, Washington menyetujui kemungkinan Penjualan Militer Asing senilai USD484 juta ke Kuwait untuk Pemeliharaan C-17 dan peralatan terkait.
Paket Kuwait mencakup komponen pesawat, suku cadang dan aksesori, peralatan modifikasi dan dukungan, suku cadang dan komponen perbaikan, peralatan penanganan darat, peralatan komunikasi, dukungan perangkat lunak, dokumentasi teknis, pelatihan, dan layanan logistik.
“Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu utama non-NATO yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk,” kata Departemen Luar Negeri Amerika dalam sebuah pemberitahuan, yang dikutip Al Arabiya English, Kamis (16/7/2026).
Penjualan ini, lanjut departemen tersebut, juga akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk mencegah ancaman saat ini dan di masa mendatang dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS, dan pasukan regional dan NATO lainnya.
"Penjualan yang diusulkan juga akan menambah pesawat operasional Arab Saudi dan meningkatkan kemampuan pertahanan diri udara-ke-udara dan udara-ke-daratnya," paparnya.
Sementara itu, AS memperluas serangannya terhadap Iran dalam gelombang serangan terbaru pada Kamis (16/7/2026) dini hari. Komando Pusat AS atau CENTCOM mengonfirmasi serangan diluncurkan selama 90 menit.
Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa provinsi, termasuk di dekat Teheran.
CENTCOM mengatakan serangan terbaru dimulai Rabu pukul 21.00 malam Waktu Timur AS atau Kamis pukul 01.00 dini hari GMT.
"Pasukan AS menyerang pusat komando Iran, situs pertahanan udara, kemampuan rudal dan drone, dan fasilitas pengawasan pantai untuk lebih melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelaut tak berdosa yang menjadi awak kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz," kata CENTCOM dalam unggahan di X.
"Pasukan AS menggunakan amunisi presisi untuk menghantam target di beberapa lokasi termasuk Bandar Abbas. Pagi ini, pasukan Amerika menyerang situs pertahanan pantai dan rudal jelajah di Pulau Greater Tunb selama gelombang serangan 90 menit. Militer AS meminta pertanggungjawaban Iran atas arahan Panglima Tertinggi," imbuh CENTCOM.
Pertahanan udara Iran dilaporkan diaktifkan di beberapa bagian selatan dan timur laut Teheran, dengan ledakan dilaporkan di dekat Parchin dan Pakdasht—area yang strategis di tenggara ibu kota.
Parchin adalah kompleks militer utama Iran yang terkait dengan amunisi, produksi rudal, dan aktivitas terkait nuklir di masa lalu.
Lokasi serangan di selatan Iran, termasuk di Chabahar, Konarak, telah dikonfirmasi media pemerintah Iran, video, dan laporan Barat. Serangan AS juga menghantam infrastruktur pelabuhan Chabahar.
Menurut laporan Gulf News, serangan dan ledakan serentak terjadi di Khorramabad, Provinsi Lorestan, kemudian di Ahvaz, Provinsi Khuzestan, dan di Chabahar, Provinsi Sistan dan Baluchestan.
Penjulan senjata dengan total nilai Rp36,2 triliun ini terjadi ketika perang AS melawan Iran meluas ke negara-negara Arab di Timur Tengah.
Baca Juga: AS Perluas Serangan terhadap Iran, Pengeboman 90 Menit Sebabkan Ledakan di Mana-mana
Penjualan yang diusulkan ke Arab Saudi mencakup hingga 10.000 bagian pemandu udara-ke-udara Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS-II) dan hingga 10.000 bagian pemandu udara-ke-darat APKWS-II.
Menurut Departemen Luar Negeri AS, paket tersebut juga mencakup peluncur, hulu ledak, motor roket, sumbu, suku cadang dan komponen perbaikan, dokumentasi teknis, peralatan pelatihan, dan layanan dukungan logistik.
Kontraktor utama untuk penjualan ke Arab Saudi adalah BAE Systems, yang berbasis di Nashua, New Hampshire.
Secara terpisah, Washington menyetujui kemungkinan Penjualan Militer Asing senilai USD484 juta ke Kuwait untuk Pemeliharaan C-17 dan peralatan terkait.
Paket Kuwait mencakup komponen pesawat, suku cadang dan aksesori, peralatan modifikasi dan dukungan, suku cadang dan komponen perbaikan, peralatan penanganan darat, peralatan komunikasi, dukungan perangkat lunak, dokumentasi teknis, pelatihan, dan layanan logistik.
“Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu utama non-NATO yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk,” kata Departemen Luar Negeri Amerika dalam sebuah pemberitahuan, yang dikutip Al Arabiya English, Kamis (16/7/2026).
Penjualan ini, lanjut departemen tersebut, juga akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk mencegah ancaman saat ini dan di masa mendatang dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS, dan pasukan regional dan NATO lainnya.
"Penjualan yang diusulkan juga akan menambah pesawat operasional Arab Saudi dan meningkatkan kemampuan pertahanan diri udara-ke-udara dan udara-ke-daratnya," paparnya.
Sementara itu, AS memperluas serangannya terhadap Iran dalam gelombang serangan terbaru pada Kamis (16/7/2026) dini hari. Komando Pusat AS atau CENTCOM mengonfirmasi serangan diluncurkan selama 90 menit.
Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa provinsi, termasuk di dekat Teheran.
CENTCOM mengatakan serangan terbaru dimulai Rabu pukul 21.00 malam Waktu Timur AS atau Kamis pukul 01.00 dini hari GMT.
"Pasukan AS menyerang pusat komando Iran, situs pertahanan udara, kemampuan rudal dan drone, dan fasilitas pengawasan pantai untuk lebih melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelaut tak berdosa yang menjadi awak kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz," kata CENTCOM dalam unggahan di X.
"Pasukan AS menggunakan amunisi presisi untuk menghantam target di beberapa lokasi termasuk Bandar Abbas. Pagi ini, pasukan Amerika menyerang situs pertahanan pantai dan rudal jelajah di Pulau Greater Tunb selama gelombang serangan 90 menit. Militer AS meminta pertanggungjawaban Iran atas arahan Panglima Tertinggi," imbuh CENTCOM.
Pertahanan udara Iran dilaporkan diaktifkan di beberapa bagian selatan dan timur laut Teheran, dengan ledakan dilaporkan di dekat Parchin dan Pakdasht—area yang strategis di tenggara ibu kota.
Parchin adalah kompleks militer utama Iran yang terkait dengan amunisi, produksi rudal, dan aktivitas terkait nuklir di masa lalu.
Lokasi serangan di selatan Iran, termasuk di Chabahar, Konarak, telah dikonfirmasi media pemerintah Iran, video, dan laporan Barat. Serangan AS juga menghantam infrastruktur pelabuhan Chabahar.
Menurut laporan Gulf News, serangan dan ledakan serentak terjadi di Khorramabad, Provinsi Lorestan, kemudian di Ahvaz, Provinsi Khuzestan, dan di Chabahar, Provinsi Sistan dan Baluchestan.
(mas)
Lihat Juga :