Terungkap, Gempa Dahsyat Sumatra Sebabkan Singapura Tenggelam Secara Bertahap
Senin, 13 Juli 2026 - 14:43 WIB
loading...
A
A
A
Mencatat bahwa penurunan kumulatif Singapura berada pada skala sentimeter, Ng mengatakan masih ada waktu bagi para pembuat kebijakan untuk bertindak.
“Selalu lebih baik untuk memasukkan model-model ini ke dalam rencana adaptasi lebih awal daripada menanggung biaya dengan melakukan perbaikan (infrastruktur) di kemudian hari,” imbuh dia.
Hingga saat ini, Ng mencatat bahwa penggabungan perubahan ketinggian daratan akibat tektonik ke dalam penilaian permukaan laut lokal masih dalam tahap awal, dengan negara-negara seperti Selandia Baru dan Amerika Serikat termasuk di antara negara-negara yang mulai memperhitungkan efek ini.
Menanggapi pertanyaan media, Layanan Meteorologi Singapura (MSS) di bawah Badan Lingkungan Nasional, yang membantu mendanai penelitian tersebut, menyatakan bahwa potensi pengaruh pergerakan tanah vertikal akibat gempa bumi terhadap permukaan laut lokal masih merupakan bidang penelitian yang sedang berkembang.
Oleh karena itu, temuan ini tidak dipertimbangkan dalam proyeksi kenaikan permukaan laut terbaru Singapura yang diterbitkan pada Januari 2024.
“Pusat Penelitian Iklim Singapura terus bekerja sama dengan komunitas penelitian untuk meningkatkan pemahaman ilmiah tentang faktor-faktor yang dapat memengaruhi perubahan permukaan laut lokal,” kata pihak juru bicara MSS.
Pada akhirnya, Ng berharap studi ini akan mengubah cara pandang masyarakat Singapura terhadap dampak jangka panjang gempa bumi di wilayah tersebut.
“Di masa lalu, banyak orang berpikir bahwa Singapura terlalu jauh dari Sumatra untuk terpengaruh oleh gempa bumi di sana,” katanya.
“Tetapi yang ingin kami sampaikan adalah meskipun kita sangat jauh, kita memiliki lapisan mantel yang lemah yang perlahan menyesuaikan diri di bawah kita setelah gempa bumi di Sumatra. Itulah mengapa kita masih akan mengalami dampaknya," imbuhnya.
“Selalu lebih baik untuk memasukkan model-model ini ke dalam rencana adaptasi lebih awal daripada menanggung biaya dengan melakukan perbaikan (infrastruktur) di kemudian hari,” imbuh dia.
Hingga saat ini, Ng mencatat bahwa penggabungan perubahan ketinggian daratan akibat tektonik ke dalam penilaian permukaan laut lokal masih dalam tahap awal, dengan negara-negara seperti Selandia Baru dan Amerika Serikat termasuk di antara negara-negara yang mulai memperhitungkan efek ini.
Menanggapi pertanyaan media, Layanan Meteorologi Singapura (MSS) di bawah Badan Lingkungan Nasional, yang membantu mendanai penelitian tersebut, menyatakan bahwa potensi pengaruh pergerakan tanah vertikal akibat gempa bumi terhadap permukaan laut lokal masih merupakan bidang penelitian yang sedang berkembang.
Oleh karena itu, temuan ini tidak dipertimbangkan dalam proyeksi kenaikan permukaan laut terbaru Singapura yang diterbitkan pada Januari 2024.
“Pusat Penelitian Iklim Singapura terus bekerja sama dengan komunitas penelitian untuk meningkatkan pemahaman ilmiah tentang faktor-faktor yang dapat memengaruhi perubahan permukaan laut lokal,” kata pihak juru bicara MSS.
Pada akhirnya, Ng berharap studi ini akan mengubah cara pandang masyarakat Singapura terhadap dampak jangka panjang gempa bumi di wilayah tersebut.
“Di masa lalu, banyak orang berpikir bahwa Singapura terlalu jauh dari Sumatra untuk terpengaruh oleh gempa bumi di sana,” katanya.
“Tetapi yang ingin kami sampaikan adalah meskipun kita sangat jauh, kita memiliki lapisan mantel yang lemah yang perlahan menyesuaikan diri di bawah kita setelah gempa bumi di Sumatra. Itulah mengapa kita masih akan mengalami dampaknya," imbuhnya.
(mas)
Lihat Juga :