AS Serang Iran Lagi untuk Ketiga Kalinya
Minggu, 12 Juli 2026 - 07:50 WIB
loading...
Militer AS kembali menyerang wilayah Iran untuk ketiga kalinya dalam pekan ini. Foto/X @CENTCOM
A
A
A
TEHERAN - Militer Amerika Serikat (AS) kembali menyerang wilayah Iran pada Minggu (12/7/2026) dini hari. Ini merupakan serangan putaran ketiga terhadap Republik Islam dalam minggu ini.
Alasan Amerika menyerang wilayah Iran kali ini adalah karena Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyerang M/V GFS Galaxy, sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz usai Serang Kapal Tak Berizin
Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan seorang anggota kru sipil hilang dan kapal yang diserang IRGC tidak dapat melanjutkan pelayarannya karena mengalami kebakaran dan kerusakan signifikan di ruang mesin.
“Sebagai tanggapan, Amerika Serikat memberikan kerugian besar dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat tersebut. Serangan-serangan ini dilakukan atas arahan Panglima Tertinggi,” tulis CENTCOM di X.
"Pada pukul 19.15 ET hari ini, pasukan Komando Pusat AS mulai melancarkan serangan putaran ketiga minggu ini terhadap Iran setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam secara terang-terangan menyerang M/V GFS Galaxy, sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz," imbuh CENTCOM.
Seorang pejabat senior AS mengatakan serangan Amerika menargetkan radar pengawasan udara Iran, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, situs peluncuran rudal dan UAV, radar pengawasan maritim, dan peluncur rudal permukaan-ke-udara.
Menteri Perang AS Pete Hegseth membenarkan bahwa Amerika kembali menyerang wilayah Iran. "Iran telah membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayarnya," tulis Hegseth di X.
Media Iran, IRIB, melaporkan bahwa tiga ledakan terdengar di Bandar Abbas dan dua ledakan di Sirik, keduanya di Iran selatan.
Sementara itu, Iran mengumumkan telah menutup Selat Hormuz setelah pasukannya menyerang sebuah kapal yang melakukan perjalanan melalui rute yang tidak diizinkan. Teheran memperingatkan bahwa setiap pembalasan atas insiden tersebut akan ditanggapi dengan respons yang keras.
"Sebuah kapal yang membahayakan keamanan maritim dengan mematikan sistemnya telah diserang dan dihentikan," kata Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dalam sebuah pernyataan, tanpa memberikan detail tentang kapal yang diserang.
Pernyataan itu mengatakan beberapa kapal mencoba melewati jalur perairan tersebut melalui "rute yang tidak sah" dan mengabaikan peringatan untuk memperbaiki haluan mereka.
"Selat tersebut ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut" kata Angkatan Laut IRGC. "Sampai berakhirnya campur tangan Amerika Serikat di wilayah ini," katanya lagi.
"Tindakan agresi terhadap Iran akan ditanggapi dengan keras, dan pangkalan musuh baru di wilayah tersebut akan menjadi sasaran," imbuh pernyataan tersebut.
AS telah menuntut agar Iran secara terbuka menyatakan akan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, dan bahwa semua jalur akan dibuka tanpa biaya tol melalui jalur perairan tersebut, kata para pejabat senior AS kepada wartawan pada hari Jumat.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa AS dan Iran telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan meskipun terjadi peningkatan permusuhan minggu ini, sekaligus menyatakan berakhirnya gencatan senjata.
Sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran, AS, Qatar, dan Pakistan telah sepakat untuk bernegosiasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah berada di Oman.
"Araghchi dan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi bertemu di Oman untuk bertukar pandangan tentang mekanisme yang tepat untuk jalur aman kapal melalui Selat Hormuz," kata Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan.
Kantor berita negara Oman kemudian mengatakan bahwa para negosiator Oman dan Iran akan melanjutkan pembicaraan pada tingkat teknis dan politik.
Oman membantu menengahi pengakhiran perang yang telah menggoyahkan stabilitas Teluk dan menaikkan harga minyak di seluruh dunia sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz sebelum perang, dan blokade efektif Iran terhadap jalur perairan tersebut telah menyebabkan harga energi melonjak, sehingga memicu inflasi global.
CNN melaporkan pada hari Sabtu bahwa Oman telah membuat rancangan proposal untuk selat tersebut, termasuk navigasi bebas melalui koridor selatannya di perairan teritorial Oman.
Rencana tersebut menyerukan agar kapal-kapal yang melintasi koridor utara melalui perairan teritorial Iran memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari Iran, meskipun tidak akan dikenakan biaya tol.
Alasan Amerika menyerang wilayah Iran kali ini adalah karena Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyerang M/V GFS Galaxy, sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz usai Serang Kapal Tak Berizin
Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan seorang anggota kru sipil hilang dan kapal yang diserang IRGC tidak dapat melanjutkan pelayarannya karena mengalami kebakaran dan kerusakan signifikan di ruang mesin.
“Sebagai tanggapan, Amerika Serikat memberikan kerugian besar dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat tersebut. Serangan-serangan ini dilakukan atas arahan Panglima Tertinggi,” tulis CENTCOM di X.
"Pada pukul 19.15 ET hari ini, pasukan Komando Pusat AS mulai melancarkan serangan putaran ketiga minggu ini terhadap Iran setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam secara terang-terangan menyerang M/V GFS Galaxy, sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz," imbuh CENTCOM.
Seorang pejabat senior AS mengatakan serangan Amerika menargetkan radar pengawasan udara Iran, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, situs peluncuran rudal dan UAV, radar pengawasan maritim, dan peluncur rudal permukaan-ke-udara.
Menteri Perang AS Pete Hegseth membenarkan bahwa Amerika kembali menyerang wilayah Iran. "Iran telah membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayarnya," tulis Hegseth di X.
Media Iran, IRIB, melaporkan bahwa tiga ledakan terdengar di Bandar Abbas dan dua ledakan di Sirik, keduanya di Iran selatan.
Sementara itu, Iran mengumumkan telah menutup Selat Hormuz setelah pasukannya menyerang sebuah kapal yang melakukan perjalanan melalui rute yang tidak diizinkan. Teheran memperingatkan bahwa setiap pembalasan atas insiden tersebut akan ditanggapi dengan respons yang keras.
"Sebuah kapal yang membahayakan keamanan maritim dengan mematikan sistemnya telah diserang dan dihentikan," kata Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dalam sebuah pernyataan, tanpa memberikan detail tentang kapal yang diserang.
Pernyataan itu mengatakan beberapa kapal mencoba melewati jalur perairan tersebut melalui "rute yang tidak sah" dan mengabaikan peringatan untuk memperbaiki haluan mereka.
"Selat tersebut ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut" kata Angkatan Laut IRGC. "Sampai berakhirnya campur tangan Amerika Serikat di wilayah ini," katanya lagi.
"Tindakan agresi terhadap Iran akan ditanggapi dengan keras, dan pangkalan musuh baru di wilayah tersebut akan menjadi sasaran," imbuh pernyataan tersebut.
AS telah menuntut agar Iran secara terbuka menyatakan akan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, dan bahwa semua jalur akan dibuka tanpa biaya tol melalui jalur perairan tersebut, kata para pejabat senior AS kepada wartawan pada hari Jumat.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa AS dan Iran telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan meskipun terjadi peningkatan permusuhan minggu ini, sekaligus menyatakan berakhirnya gencatan senjata.
Sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran, AS, Qatar, dan Pakistan telah sepakat untuk bernegosiasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah berada di Oman.
"Araghchi dan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi bertemu di Oman untuk bertukar pandangan tentang mekanisme yang tepat untuk jalur aman kapal melalui Selat Hormuz," kata Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan.
Kantor berita negara Oman kemudian mengatakan bahwa para negosiator Oman dan Iran akan melanjutkan pembicaraan pada tingkat teknis dan politik.
Oman membantu menengahi pengakhiran perang yang telah menggoyahkan stabilitas Teluk dan menaikkan harga minyak di seluruh dunia sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz sebelum perang, dan blokade efektif Iran terhadap jalur perairan tersebut telah menyebabkan harga energi melonjak, sehingga memicu inflasi global.
CNN melaporkan pada hari Sabtu bahwa Oman telah membuat rancangan proposal untuk selat tersebut, termasuk navigasi bebas melalui koridor selatannya di perairan teritorial Oman.
Rencana tersebut menyerukan agar kapal-kapal yang melintasi koridor utara melalui perairan teritorial Iran memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari Iran, meskipun tidak akan dikenakan biaya tol.
(mas)
Lihat Juga :