AS Gempur 90 Target di Iran, Teheran Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
Kamis, 09 Juli 2026 - 11:40 WIB
loading...
AS klaim serang 90 target di Iran. Teheran membalas dengan membombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, Kamis (9/7/2026). Foto/Screenshot video CNN
A
A
A
TEHERAN - Militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan pada hari Kamis (9/7/2026) bahwa mereka telah mengakhiri serangan udara terbaru yang menargetkan Iran setelah menghantam sekitar 90 target. Sebaliknya, Teheran menyatakan telah membalas dengan membombardir pangkalan militer Amerika di Kuwait dan Bahrain.
Komando Pusat AS atau CENTCOM merilis rekaman hitam-putih yang menunjukkan serangan udara terhadap landasan pacu bandara dan peluncur rudal di Iran.
Baca Juga: Imbas AS Serang Iran: Qatar, Bahrain, dan Kuwait Panik
“Pasukan AS tetap waspada, mematikan, dan siap untuk melaksanakan operasi yang diarahkan oleh Panglima Tertinggi,” tulis CENTCOM di X.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan telah menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai pembalasan atas gelombang serangan terbaru AS.
Dalam pernyataan yang diterbitkan oleh IRIB, IRGC mengatakan Angkatan Laut dan Angkatan Udara-nya telah meluncurkan serangan gabungan drone dan rudal terhadap infrastruktur dan fasilitas AS, termasuk Kamp Arifjan dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait; dan Pangkalan Udara Shaikh Isa dan Juffair di Bahrain.
PangkalanJuffair adalah rumah bagi Naval Support Activity, pangkalan utama Angkatan Laut AS di Teluk Persia, yang menjadi markas Armada Kelima AS.
Laporan lain dari AP menyebutkan pangkalan AS di Qatar juga diserang IRGC, namun pihak Doha belum memberikan konfirmasi.
Sirene peringatan serangan udara telah meraung-raung di Bahrain dan Kuwait pada Kamis pagi. Angkatan Darat Kuwait mengatakan pertahanan udaranya telah merespons ancaman rudal dan drone musuh.
Belum jelas dampak serangan balasan Iran terhadap pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain.
Serangan terbaru AS terjadi beberapa jam setelah Presiden Amerika Donald Trump mengatakan serangan Iran baru-baru ini terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz menandai berakhirnya gencatan senjata yang rapuh.
AS sebelumnya menyerang berbagai situs militer dan fasilitas pelabuhan Iran pada Rabu pagi setelah Teheran menargetkan beberapa kapal komersial di lepas pantai Oman. Serangan Amerika pada hari Rabu juga memicu serangan balasan dari Iran.
Trump, setelah meninggalkan KTT NATO di Turki, meunggah beberapa video di situs media sosialnya yang menurutnya adalah ledakan di Iran dan mengeluarkan peringatan lain kepada Republik Islam tersebut.
“Ini sebagai pembalasan atas pengeboman kapal kemarin oleh Iran. Jika itu terjadi lagi, situasinya akan jauh lebih buruk!” tulis Trump.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa saling serang terbaru antara AS dan Iran tidak akan menghasilkan aksi militer jangka panjang.
“Apa pun yang terjadi akan terjadi dengan sangat cepat,” kata Trump, meskipun dia juga mengisyaratkan bahwa militer AS mungkin "hanya akan menyelesaikan pekerjaan".
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menjadi negosiator kunci dalam perundingan yang bertujuan untuk mengakhiri perang secara permanen, menunjukkan sikap menantang dalam sebuah unggahan di X pada Kamis pagi. “Amerika masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji bukanlah hal yang bebas lagi. Izinkan saya mengatakannya dengan jelas: jika Anda menyerang, Anda akan terkena serangan balik," tulis Ghalibaf.
Komando Pusat AS atau CENTCOM merilis rekaman hitam-putih yang menunjukkan serangan udara terhadap landasan pacu bandara dan peluncur rudal di Iran.
Baca Juga: Imbas AS Serang Iran: Qatar, Bahrain, dan Kuwait Panik
“Pasukan AS tetap waspada, mematikan, dan siap untuk melaksanakan operasi yang diarahkan oleh Panglima Tertinggi,” tulis CENTCOM di X.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan telah menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai pembalasan atas gelombang serangan terbaru AS.
Dalam pernyataan yang diterbitkan oleh IRIB, IRGC mengatakan Angkatan Laut dan Angkatan Udara-nya telah meluncurkan serangan gabungan drone dan rudal terhadap infrastruktur dan fasilitas AS, termasuk Kamp Arifjan dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait; dan Pangkalan Udara Shaikh Isa dan Juffair di Bahrain.
PangkalanJuffair adalah rumah bagi Naval Support Activity, pangkalan utama Angkatan Laut AS di Teluk Persia, yang menjadi markas Armada Kelima AS.
Laporan lain dari AP menyebutkan pangkalan AS di Qatar juga diserang IRGC, namun pihak Doha belum memberikan konfirmasi.
Sirene peringatan serangan udara telah meraung-raung di Bahrain dan Kuwait pada Kamis pagi. Angkatan Darat Kuwait mengatakan pertahanan udaranya telah merespons ancaman rudal dan drone musuh.
Belum jelas dampak serangan balasan Iran terhadap pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain.
Serangan terbaru AS terjadi beberapa jam setelah Presiden Amerika Donald Trump mengatakan serangan Iran baru-baru ini terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz menandai berakhirnya gencatan senjata yang rapuh.
AS sebelumnya menyerang berbagai situs militer dan fasilitas pelabuhan Iran pada Rabu pagi setelah Teheran menargetkan beberapa kapal komersial di lepas pantai Oman. Serangan Amerika pada hari Rabu juga memicu serangan balasan dari Iran.
Trump, setelah meninggalkan KTT NATO di Turki, meunggah beberapa video di situs media sosialnya yang menurutnya adalah ledakan di Iran dan mengeluarkan peringatan lain kepada Republik Islam tersebut.
“Ini sebagai pembalasan atas pengeboman kapal kemarin oleh Iran. Jika itu terjadi lagi, situasinya akan jauh lebih buruk!” tulis Trump.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa saling serang terbaru antara AS dan Iran tidak akan menghasilkan aksi militer jangka panjang.
“Apa pun yang terjadi akan terjadi dengan sangat cepat,” kata Trump, meskipun dia juga mengisyaratkan bahwa militer AS mungkin "hanya akan menyelesaikan pekerjaan".
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menjadi negosiator kunci dalam perundingan yang bertujuan untuk mengakhiri perang secara permanen, menunjukkan sikap menantang dalam sebuah unggahan di X pada Kamis pagi. “Amerika masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji bukanlah hal yang bebas lagi. Izinkan saya mengatakannya dengan jelas: jika Anda menyerang, Anda akan terkena serangan balik," tulis Ghalibaf.
(mas)
Lihat Juga :