China Tembakkan Rudal Balistik Antarbenua Berkemampuan Nuklir, 6 Negara Protes
Selasa, 07 Juli 2026 - 13:54 WIB
loading...
China uji tembak rudal balistik antarbenua dari kapal selam bertenaga nuklir di Samudra Pasifik pada hari Senin (6/7/2026). Manuver ini diprotes enam negara. Foto/Kementerian Pertahanan Nasional China via CNN
A
A
A
JAKARTA - China telah menguji tembak rudal balistik antarbenua (ICBM) dari kapal selam bertenaga nuklir di Samudra Pasifik pada hari Senin. Manuver ICBM yang mampu membawa hulu ledak nuklir tersebut telah diprotes enam negara di kawasan Pasifik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam sebuah pernyataan yang diunggah di situs web resmi pemerintah, mengatakan: "Uji peluncuran tersebut merupakan bagian rutin dari pelatihan militer tahunan China, sesuai dengan hukum dan praktik internasional, dan tidak ditujukan terhadap negara atau target tertentu."
Baca Juga: AS Ketar-ketir dengan Senjata Nuklir China usai Kapal Selam Beijing Tembakkan Rudal Antarbenua
“Negara-negara terkait telah diberitahu sebelumnya, dan hal itu sesuai dengan hukum dan praktik internasional. Aktivitas peluncuran dilakukan dengan aman, sistematis, dan profesional. Kami berharap negara-negara terkait tidak akan menafsirkannya secara berlebihan," katanya.
Beijing tidak menyebutkan jenis rudal apa yang diuji coba.
Sekadar diketahui, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengoperasikan dua jenis rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam, yaitu JL-2 dan JL-3. Menurut para pakar rudal, JL-3 memiliki jangkauan yang cukup untuk mencapai daratan Amerika Serikat dari perairan lepas pantai China, termasuk Laut China Selatan.
Kapal selam rudal balistik utama China adalah Type 094, juga dikenal sebagai kelas Jin, yang dioperasikan sebanyak enam unit.
Beijing jarang melaporkan uji coba rudalnya, tetapi menurut Missile Defense Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS), JL-3 pertama kali diuji pada tahun 2018 dan kemudian sekali lagi setahun kemudian.
Meski China menyatakan tindakannya sebagai latihan rutin, namun ada enam negara yang protes atas manuver ICBM tersebut.
Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters mengatakan China menembakkan rudal tersebut ke perairan Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan, yang didirikan pada tahun 1986 oleh Perjanjian Rarotonga. China menandatangani protokol II dan III dari pakta tersebut pada tahun 1987.
Protokol II menyerukan kepada para penandatangan untuk tidak menggunakan atau mengancam untuk menggunakan senjata nuklir terhadap negara lain atau wilayah mereka di dalam zona tersebut. Protokol III melarang uji coba nuklir di zona tersebut.
“Hari ini, China memberi tahu kami tentang rencananya untuk meluncurkan rudal balistik jarak jauh ke Pasifik Selatan,” kata Peters pada hari Senin, yang dikutip CNN, Selasa (7/7/2026).
“Selandia Baru menganggap ini sebagai perkembangan yang tidak diinginkan dan mengkhawatirkan. Kami, seperti tetangga kami di negara-negara Pasifik lainnya, tidak tertarik pada China yang menggunakan Pasifik Selatan sebagai lokasi uji coba kemampuan rudal,” kata Peters.
“Kita sebagai kawasan tidak boleh hanya duduk diam dan membiarkan uji coba semacam itu menjadi hal yang biasa atau rutin,” imbuh Peters.
Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese mengatakan uji coba senjata China di Pasifik berisiko memicu proliferasi nuklir yang berbahaya, dengan ICBM yang ditembakkan pada hari Senin mampu menyebabkan "kerusakan yang cukup besar" jika dilengkapi hulu ledak.
Berbicara selama kunjungan ke Kepulauan Solomon, pemimpin Australia itu mengatakan dia prihatin bahwa uji coba itu, yang dilakukan setelah aliansi perjanjian Pasifik baru dibentuk, dapat merusak perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut.
“Fakta bahwa ini adalah uji coba rudal balistik antarbenua berkemampuan nuklir, yang ditembakkan dari kapal selam bertenaga nuklir, itu benar-benar mengkhawatirkan,” katanya.
“Yang kita butuhkan adalah senjata nuklir yang lebih sedikit, tentu bukan lebih banyak," imbuh dia.
“Sebagian dari kekhawatiran yang akan kami sampaikan adalah sifat senjata yang diuji yang jelas memiliki kemampuan untuk mencapai jarak jauh dan menyebabkan kerusakan yang sangat besar jika dilengkapi hulu ledak," paparnya.
Perdana Menteri Kepulauan Solomon Matthew Wale menggambarkan manuver rudal China tersebut sebagai "bukti lebih lanjut akan perlunya" pakta keamanan regional baru karena Beijing berupaya memperluas pengaruhnya di seluruh Pasifik.
Wale mengatakan dia telah menyampaikan protes keras langsung kepada duta besar China dalam perannya sebagai ketua Forum Kepulauan Pasifik.
“China adalah teman baik Kepulauan Solomon. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh seorang teman," katanya.
“Kami tidak ingin melihat negara lain—China, Amerika, siapa pun—menguji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) mereka di wilayah Kepulauan Pasifik. Intinya adalah, jadilah teman kami tetapi jangan mengancam kami," paparnya.
Pemerintah Jepang, dalam sebuah pernyataan, ikut prihatin dengan manuver rudal China.
"Jepang menyatakan kekhawatiran serius mengenai aktivitas militer China yang semakin aktif," katanya. Tokyo mendesak Beijing untuk mempertimbangkan kembali uji coba rudal balistik.
Taiwan, pulau yang memerintah sendiri selama puluhan tahun tapi masih diklaim China sebagai wilayahnya, juga mengkritik peluncuran ICBM dari kapal selam bertenaga nuklir China.
Juru bicara kepresidenan Karen Kuo mengatakan, "Tindakan Beijing telah menyebabkan keresahan di kawasan."
Dia lebih lanjut menyoroti ambisi China yang semakin jelas untuk ekspansi di Pasifik Barat.
Joseph Wu, Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan, mem-posting di media sosial sebuah peta yang diduga menunjukkan jalur rudal yang bergerak ke arah tenggara China, melewati Mikronesia dan Palau, dan mendarat di selatan Nauru.
“Ini adalah provokasi yang menggoyahkan Indo-Pasifik. China baru saja membuktikan dirinya lagi sebagai pengganggu di kawasan ini,” tulisnya.
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyuarakan keprihatinan atas uji ICBM dari kapal selam bertenaga nuklir China di Samudra Pasifik.
"Pada saat Amerika Serikat bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk mencegah proliferasi nuklir, China melakukan hal sebaliknya," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott.
"Peningkatan senjata nuklir Beijing yang cepat dan tidak transparan sangat mengkhawatirkan bagi kawasan dan dunia," lanjut Pigott.
Amerika Serikat pada bulan Februari membiarkan berakhirnya New START, pakta pengendalian senjata utama terakhir dengan Rusia, karena bersikeras pada perjanjian baru yang juga mencakup China.
Upaya tersebut telah ditolak oleh China, yang persenjataan nuklirnya jauh lebih kecil daripada Rusia tetapi telah berkembang pesat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam sebuah pernyataan yang diunggah di situs web resmi pemerintah, mengatakan: "Uji peluncuran tersebut merupakan bagian rutin dari pelatihan militer tahunan China, sesuai dengan hukum dan praktik internasional, dan tidak ditujukan terhadap negara atau target tertentu."
Baca Juga: AS Ketar-ketir dengan Senjata Nuklir China usai Kapal Selam Beijing Tembakkan Rudal Antarbenua
“Negara-negara terkait telah diberitahu sebelumnya, dan hal itu sesuai dengan hukum dan praktik internasional. Aktivitas peluncuran dilakukan dengan aman, sistematis, dan profesional. Kami berharap negara-negara terkait tidak akan menafsirkannya secara berlebihan," katanya.
Beijing tidak menyebutkan jenis rudal apa yang diuji coba.
Sekadar diketahui, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengoperasikan dua jenis rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam, yaitu JL-2 dan JL-3. Menurut para pakar rudal, JL-3 memiliki jangkauan yang cukup untuk mencapai daratan Amerika Serikat dari perairan lepas pantai China, termasuk Laut China Selatan.
Kapal selam rudal balistik utama China adalah Type 094, juga dikenal sebagai kelas Jin, yang dioperasikan sebanyak enam unit.
Beijing jarang melaporkan uji coba rudalnya, tetapi menurut Missile Defense Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS), JL-3 pertama kali diuji pada tahun 2018 dan kemudian sekali lagi setahun kemudian.
Meski China menyatakan tindakannya sebagai latihan rutin, namun ada enam negara yang protes atas manuver ICBM tersebut.
1. Selandia Baru
Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters mengatakan China menembakkan rudal tersebut ke perairan Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan, yang didirikan pada tahun 1986 oleh Perjanjian Rarotonga. China menandatangani protokol II dan III dari pakta tersebut pada tahun 1987.
Protokol II menyerukan kepada para penandatangan untuk tidak menggunakan atau mengancam untuk menggunakan senjata nuklir terhadap negara lain atau wilayah mereka di dalam zona tersebut. Protokol III melarang uji coba nuklir di zona tersebut.
“Hari ini, China memberi tahu kami tentang rencananya untuk meluncurkan rudal balistik jarak jauh ke Pasifik Selatan,” kata Peters pada hari Senin, yang dikutip CNN, Selasa (7/7/2026).
“Selandia Baru menganggap ini sebagai perkembangan yang tidak diinginkan dan mengkhawatirkan. Kami, seperti tetangga kami di negara-negara Pasifik lainnya, tidak tertarik pada China yang menggunakan Pasifik Selatan sebagai lokasi uji coba kemampuan rudal,” kata Peters.
“Kita sebagai kawasan tidak boleh hanya duduk diam dan membiarkan uji coba semacam itu menjadi hal yang biasa atau rutin,” imbuh Peters.
2. Australia
Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese mengatakan uji coba senjata China di Pasifik berisiko memicu proliferasi nuklir yang berbahaya, dengan ICBM yang ditembakkan pada hari Senin mampu menyebabkan "kerusakan yang cukup besar" jika dilengkapi hulu ledak.
Berbicara selama kunjungan ke Kepulauan Solomon, pemimpin Australia itu mengatakan dia prihatin bahwa uji coba itu, yang dilakukan setelah aliansi perjanjian Pasifik baru dibentuk, dapat merusak perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut.
“Fakta bahwa ini adalah uji coba rudal balistik antarbenua berkemampuan nuklir, yang ditembakkan dari kapal selam bertenaga nuklir, itu benar-benar mengkhawatirkan,” katanya.
“Yang kita butuhkan adalah senjata nuklir yang lebih sedikit, tentu bukan lebih banyak," imbuh dia.
“Sebagian dari kekhawatiran yang akan kami sampaikan adalah sifat senjata yang diuji yang jelas memiliki kemampuan untuk mencapai jarak jauh dan menyebabkan kerusakan yang sangat besar jika dilengkapi hulu ledak," paparnya.
3. Kepulauan Solomon
Perdana Menteri Kepulauan Solomon Matthew Wale menggambarkan manuver rudal China tersebut sebagai "bukti lebih lanjut akan perlunya" pakta keamanan regional baru karena Beijing berupaya memperluas pengaruhnya di seluruh Pasifik.
Wale mengatakan dia telah menyampaikan protes keras langsung kepada duta besar China dalam perannya sebagai ketua Forum Kepulauan Pasifik.
“China adalah teman baik Kepulauan Solomon. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh seorang teman," katanya.
“Kami tidak ingin melihat negara lain—China, Amerika, siapa pun—menguji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) mereka di wilayah Kepulauan Pasifik. Intinya adalah, jadilah teman kami tetapi jangan mengancam kami," paparnya.
4. Jepang
Pemerintah Jepang, dalam sebuah pernyataan, ikut prihatin dengan manuver rudal China.
"Jepang menyatakan kekhawatiran serius mengenai aktivitas militer China yang semakin aktif," katanya. Tokyo mendesak Beijing untuk mempertimbangkan kembali uji coba rudal balistik.
5. Taiwan
Taiwan, pulau yang memerintah sendiri selama puluhan tahun tapi masih diklaim China sebagai wilayahnya, juga mengkritik peluncuran ICBM dari kapal selam bertenaga nuklir China.
Juru bicara kepresidenan Karen Kuo mengatakan, "Tindakan Beijing telah menyebabkan keresahan di kawasan."
Dia lebih lanjut menyoroti ambisi China yang semakin jelas untuk ekspansi di Pasifik Barat.
Joseph Wu, Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan, mem-posting di media sosial sebuah peta yang diduga menunjukkan jalur rudal yang bergerak ke arah tenggara China, melewati Mikronesia dan Palau, dan mendarat di selatan Nauru.
“Ini adalah provokasi yang menggoyahkan Indo-Pasifik. China baru saja membuktikan dirinya lagi sebagai pengganggu di kawasan ini,” tulisnya.
6. Amerika Serikat
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyuarakan keprihatinan atas uji ICBM dari kapal selam bertenaga nuklir China di Samudra Pasifik.
"Pada saat Amerika Serikat bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk mencegah proliferasi nuklir, China melakukan hal sebaliknya," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott.
"Peningkatan senjata nuklir Beijing yang cepat dan tidak transparan sangat mengkhawatirkan bagi kawasan dan dunia," lanjut Pigott.
Amerika Serikat pada bulan Februari membiarkan berakhirnya New START, pakta pengendalian senjata utama terakhir dengan Rusia, karena bersikeras pada perjanjian baru yang juga mencakup China.
Upaya tersebut telah ditolak oleh China, yang persenjataan nuklirnya jauh lebih kecil daripada Rusia tetapi telah berkembang pesat.
(mas)
Lihat Juga :