Para Pelayat Ayatollah Ali Khamenei: 'Balas Dendam, Balaskan Darah Pemimpin Kita!'
Minggu, 05 Juli 2026 - 05:42 WIB
loading...
A
A
A
Peti mati, yang dibungkus bendera Iran, diresmikan di atas panggung dari balik tirai beludru biru tua setelah pembacaan Al-Quran. Peti mati itu berdiri di atas platform yang ditinggikan, ditemani oleh peti mati anggota keluarga Khamenei yang juga tewas dalam serangan AS-Israel.
Dua baris bendera Iran berjajar di atas panggung, sementara potret yang menggambarkan berbagai tahapan kehidupan Khamenei tergantung di dinding Grand Mosalla.
Beberapa pelayat membawa potret pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang telah menggantikan ayahnya tetapi tetap tidak terlihat di depan umum.
Terlihat juga di antara kerumunan adalah bendera kuning kelompok militan yang didukung Iran, Hizbullah, yang telah memerangi pasukan Israel di Lebanon selatan sejak perang regional pecah.
Hizbullah adalah bagian dari "Poros Perlawanan" yang bersekutu dengan Iran, sebuah jaringan kelompok di seluruh Timur Tengah yang menentang Israel dan Amerika Serikat.
"Kami datang karena kami berjanji kepada pemimpin tertinggi bahwa kami akan tetap bersamanya sampai akhir," kata Reza, seorang profesor universitas berusia 37 tahun, kepada AFP.
Dua baris bendera Iran berjajar di atas panggung, sementara potret yang menggambarkan berbagai tahapan kehidupan Khamenei tergantung di dinding Grand Mosalla.
Beberapa pelayat membawa potret pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang telah menggantikan ayahnya tetapi tetap tidak terlihat di depan umum.
Terlihat juga di antara kerumunan adalah bendera kuning kelompok militan yang didukung Iran, Hizbullah, yang telah memerangi pasukan Israel di Lebanon selatan sejak perang regional pecah.
Hizbullah adalah bagian dari "Poros Perlawanan" yang bersekutu dengan Iran, sebuah jaringan kelompok di seluruh Timur Tengah yang menentang Israel dan Amerika Serikat.
"Sampai Akhir"
"Kami datang karena kami berjanji kepada pemimpin tertinggi bahwa kami akan tetap bersamanya sampai akhir," kata Reza, seorang profesor universitas berusia 37 tahun, kepada AFP.
Lihat Juga :