Iran Peringatkan AS dan Israel Jangan Serang Prosesi Pemakaman Khamenei!
Jum'at, 03 Juli 2026 - 11:55 WIB
loading...
Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang meninggal pada hari pertama agresi AS dan Israel 28 Februari. Foto/IRNA
A
A
A
TEHERAN - Iran telah memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel agar tidak melakukan serangan apa pun selama prosesi pemakaman almarhum Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 9 Juli mendatang. Teheran telah bersiap untuk upcacara berkabung yang dijaga ketat selama beberapa hari ke depan.
Khamenei meninggal pada hari pertama serangan gabungan AS-Israel 28 Februari, yang memicu perang meluas di Timur Tengah. Perang saat ini memasuki fase gencatan senjata, di mana AS dan Iran sedang bernegosiasi damai.
Baca Juga: Islam Melarang Pembalseman, Bagaimana Iran Mengawetkan Jenazah Khamenei sejak Februari?
Prosesi pemakaman Khamenei dijadwalkan dimulai di Teheran pada 4 Juli dan berakhir pada 9 Juli dengan pemakamannya di kota kelahirannya; Mashhad, dengan upacara tambahan yang direncanakan di Qom dan negara tetangga; Irak.
“Kami memperingatkan musuh-musuh Iran, terutama AS dan rezim Zionis, untuk menghindari kesalahan perhitungan dan memikirkan pembalasan keras yang akan dilakukan angkatan bersenjata kami terhadap setiap ancaman dan agresi terhadap negara kami,” kata komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ali Abdollahi, pada hari Kamis.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengeklaim pada hari Senin bahwa Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Ayatollah Mojtaba Khamenei, juga “ditargetkan untuk mati" seperti ayahnya.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan pada hari Rabu bahwa Teheran akan memberikan respons segera dan kuat terhadap setiap ancaman terhadap rakyat atau kepemimpinannya.
Peringatan Iran muncul ketika perundingan tidak langsung AS-Iran dilaporkan telah dihentikan sementara hingga setelah pemakaman Khamenei. Putaran diskusi terbaru di Doha minggu ini berfokus pada lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz dan pelepasan dana Iran yang dibekukan, tetapi tidak ada tanda-tanda kemajuan besar menuju perdamaian abadi.
Israel telah menjadikan pembunuhan terarah terhadap para pemimpin Iran sebagai bagian sentral dari strategi perangnya sejak awal. Konflik dimulai pada 28 Februari dengan serangan Israel yang menewaskan Khamenei dan beberapa pejabat tinggi lainnya, berdasarkan intelijen AS.
Israel kemudian membunuh beberapa tokoh yang diharapkan Washington untuk diajak bernegosiasi, termasuk Ali Larijani, pejabat keamanan nasional tertinggi Iran, dan Kamal Kharazi, mantan menteri luar negeri.
Meskipun Trump sendiri berulang kali membual tentang serangan yang "memenggal kepala" tersebut, para pejabat AS khawatir Israel dapat mencoba membunuh negosiator utama Iran, Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, seperti yang dilaporkan New York Times pada hari Kamis.
Kekhawatiran itu begitu tinggi sehingga Washington diduga bahkan meminta perantara regional untuk memperingatkan Teheran.
Pada bulan Juni, Washington dan Teheran mencapai kesepakatan kerangka kerja yang bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menetapkan garis besar untuk pembicaraan lanjutan tentang program nuklir Iran, pencabutan sanksi, aset yang dibekukan, dan penyelesaian jangka panjang.
Israel dengan keras menentang proses tersebut, dengan alasan bahwa kesepakatan itu menggagalkannya untuk mencapai tujuan perang, termasuk perubahan rezim di Teheran, penghancuran sekutu regional Iran, dan kerusakan permanen pada kemampuan rudal dan nuklir Iran. Pejabat Iran menuduh Israel berupaya menyabotase negosiasi dengan operasi tempur yang sedang berlangsung di Lebanon.
Khamenei meninggal pada hari pertama serangan gabungan AS-Israel 28 Februari, yang memicu perang meluas di Timur Tengah. Perang saat ini memasuki fase gencatan senjata, di mana AS dan Iran sedang bernegosiasi damai.
Baca Juga: Islam Melarang Pembalseman, Bagaimana Iran Mengawetkan Jenazah Khamenei sejak Februari?
Prosesi pemakaman Khamenei dijadwalkan dimulai di Teheran pada 4 Juli dan berakhir pada 9 Juli dengan pemakamannya di kota kelahirannya; Mashhad, dengan upacara tambahan yang direncanakan di Qom dan negara tetangga; Irak.
“Kami memperingatkan musuh-musuh Iran, terutama AS dan rezim Zionis, untuk menghindari kesalahan perhitungan dan memikirkan pembalasan keras yang akan dilakukan angkatan bersenjata kami terhadap setiap ancaman dan agresi terhadap negara kami,” kata komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ali Abdollahi, pada hari Kamis.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengeklaim pada hari Senin bahwa Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Ayatollah Mojtaba Khamenei, juga “ditargetkan untuk mati" seperti ayahnya.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan pada hari Rabu bahwa Teheran akan memberikan respons segera dan kuat terhadap setiap ancaman terhadap rakyat atau kepemimpinannya.
Peringatan Iran muncul ketika perundingan tidak langsung AS-Iran dilaporkan telah dihentikan sementara hingga setelah pemakaman Khamenei. Putaran diskusi terbaru di Doha minggu ini berfokus pada lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz dan pelepasan dana Iran yang dibekukan, tetapi tidak ada tanda-tanda kemajuan besar menuju perdamaian abadi.
Israel telah menjadikan pembunuhan terarah terhadap para pemimpin Iran sebagai bagian sentral dari strategi perangnya sejak awal. Konflik dimulai pada 28 Februari dengan serangan Israel yang menewaskan Khamenei dan beberapa pejabat tinggi lainnya, berdasarkan intelijen AS.
Israel kemudian membunuh beberapa tokoh yang diharapkan Washington untuk diajak bernegosiasi, termasuk Ali Larijani, pejabat keamanan nasional tertinggi Iran, dan Kamal Kharazi, mantan menteri luar negeri.
Meskipun Trump sendiri berulang kali membual tentang serangan yang "memenggal kepala" tersebut, para pejabat AS khawatir Israel dapat mencoba membunuh negosiator utama Iran, Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, seperti yang dilaporkan New York Times pada hari Kamis.
Kekhawatiran itu begitu tinggi sehingga Washington diduga bahkan meminta perantara regional untuk memperingatkan Teheran.
Pada bulan Juni, Washington dan Teheran mencapai kesepakatan kerangka kerja yang bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menetapkan garis besar untuk pembicaraan lanjutan tentang program nuklir Iran, pencabutan sanksi, aset yang dibekukan, dan penyelesaian jangka panjang.
Israel dengan keras menentang proses tersebut, dengan alasan bahwa kesepakatan itu menggagalkannya untuk mencapai tujuan perang, termasuk perubahan rezim di Teheran, penghancuran sekutu regional Iran, dan kerusakan permanen pada kemampuan rudal dan nuklir Iran. Pejabat Iran menuduh Israel berupaya menyabotase negosiasi dengan operasi tempur yang sedang berlangsung di Lebanon.
(mas)
Lihat Juga :