Mojtaba Disebut Tak Akan Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Ini Alasannya
Jum'at, 03 Juli 2026 - 10:01 WIB
loading...
Jenazah Zahra Hadad-Adel, istri Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, tiba di Teheran. Mojtaba disebut tak akan hadiri pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, karena alasan keamanan. Foto/Iran Wire
A
A
A
TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei kemungkinan besar tidak akan tampil di depan umum pada pemakaman ayah sekaligus pendahulunya, almarhum Ayatollah Ali Khamenei, pada 9 Juli mendatang. Alasannya, pihak berwenang tidak dapat menjamin keselamatannya.
Hal itu disampaikan perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran di India, Ayatollah Hakim Elahi, dalam sebuah wawancara dengan India Today, yang dilansir Jumat (3/7/2026).
Baca Juga: Islam Melarang Pembalseman, Bagaimana Iran Mengawatkan Jenazah Khamenei sejak Februari?
Dalam wawancara sebelum berangkat pulang ke Teheran dari Bandara Internasional Indira Gandhi New Delhi, Elahi mengatakan keputusan itu sepenuhnya didorong oleh kekhawatiran keamanan karena Iran bersiap untuk serangkaian upacara pemakaman selama seminggu di bawah bayang-bayang meningkatnya ketegangan dengan Israel.
"Saya berada di Iran minggu lalu dan bertemu beberapa teman saya yang bertemu dengannya. Mereka mengatakan dia ingin keluar. Dia ingin bertemu orang-orang. Tetapi pihak keamanan tidak mengizinkannya untuk datang," kata Elahi.
"Mereka mengatakan 'itu sangat berbahaya dan kami tidak dapat memberikan keamanan untuknya'. Saya pikir dia tidak akan keluar," ujarnya.
Pernyataan Elahi muncul ketika para ulama penguasa Iran sedang mempersiapkan upacara pemakaman akbar untuk Ayatollah Ali Khamenei sebagai wujud pengabdian publik kepada Republik Islam dan bukti bahwa semangat revolusionernya masih membara. Ali Khamenei meninggal pada hari pertama agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, 28 Februari.
Menggambarkan sentimen di dalam Iran, Elahi mengatakan negara itu telah berduka sejak kematian Khamenei, dengan banyak pendukung yang memandang kehilangan itu sebagai sesuatu yang tidak akan pernah bisa digantikan.
"Ini adalah kehilangan yang sangat, sangat besar bagi mereka. Mereka merasa telah kehilangan semangat, jiwa mereka. Mereka percaya tidak ada yang bisa menggantikannya," katanya.
Elahi mengatakan orang-orang dari seluruh Iran dan luar negeri datang untuk menghadiri upacara pemakaman dan menyatakan solidaritas kepada almarhum pemimpin tersebut.
"Mereka datang untuk menunjukkan solidaritas mereka dan untuk mengatakan bahwa kami bersamamu, kami tidak akan pernah melupakanmu dan kami akan mengikuti jalanmu," katanya.
Upacara pemakaman akan menarik banyak orang sebagai wujud dukungan terhadap Republik Islam setelah perang. Acara berkabung diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari, dengan prosesi yang direncanakan di beberapa kota sebelum jenazah Khamenei dimakamkan.
Ditanya tentang ancaman Israel untuk melakukan aksi militer lebih lanjut, Elahi berpendapat bahwa Iran telah keluar dari konflik dalam posisi yang lebih kuat.
"Banyak negara memuji Iran dan mengatakan Iran memenangkan perang. Iran masih sangat kuat dan siap untuk bangkit," katanya.
Pemakaman akan berlangsung di tengah ketegangan regional yang berkelanjutan, dengan Iran menegaskan bahwa partisipasi internasional akan tetap berjalan meskipun situasi keamanan tidak menentu.
Prosesi pemakaman Khamenei telah ditunda beberapa bulan akibat perang Iran melawan AS dan Israel. Penundaan pemakaman telah menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana jenazah Khamenei diawetkan.
Islam umumnya menyerukan penguburan segera dan melarang pembalseman kimia. Namun, kondisi perang dan kekhawatiran keamanan menunda pemakaman pemimpin tertinggi Republik Islam yang paling lama menjabat selama empat bulan.
"Mekanismenya hampir pasti adalah penyimpanan dingin berpendingin, bukan pembalseman, karena Islam melarang pembalseman kimia," kata pakar kontra-terorisme Dr Mohammed Omar kepada Fox News Digital.
"Hukum Syiah mengizinkan penundaan penguburan dan pengawetan dengan suhu dingin dalam kasus-kasus luar biasa, dan pengecualian ulama untuk Pemimpin Tertinggi mudah didapatkan," imbuh dia.
"Kamar mayat forensik Iran sudah menyimpan jenazah selama berbulan-bulan, jadi empat bulan dalam kondisi beku bukanlah hal yang aneh. Itulah yang tercakup dalam 'standar agama dan hukum'," kata Mohammed.
Hal itu disampaikan perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran di India, Ayatollah Hakim Elahi, dalam sebuah wawancara dengan India Today, yang dilansir Jumat (3/7/2026).
Baca Juga: Islam Melarang Pembalseman, Bagaimana Iran Mengawatkan Jenazah Khamenei sejak Februari?
Dalam wawancara sebelum berangkat pulang ke Teheran dari Bandara Internasional Indira Gandhi New Delhi, Elahi mengatakan keputusan itu sepenuhnya didorong oleh kekhawatiran keamanan karena Iran bersiap untuk serangkaian upacara pemakaman selama seminggu di bawah bayang-bayang meningkatnya ketegangan dengan Israel.
"Saya berada di Iran minggu lalu dan bertemu beberapa teman saya yang bertemu dengannya. Mereka mengatakan dia ingin keluar. Dia ingin bertemu orang-orang. Tetapi pihak keamanan tidak mengizinkannya untuk datang," kata Elahi.
"Mereka mengatakan 'itu sangat berbahaya dan kami tidak dapat memberikan keamanan untuknya'. Saya pikir dia tidak akan keluar," ujarnya.
Pernyataan Elahi muncul ketika para ulama penguasa Iran sedang mempersiapkan upacara pemakaman akbar untuk Ayatollah Ali Khamenei sebagai wujud pengabdian publik kepada Republik Islam dan bukti bahwa semangat revolusionernya masih membara. Ali Khamenei meninggal pada hari pertama agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, 28 Februari.
Menggambarkan sentimen di dalam Iran, Elahi mengatakan negara itu telah berduka sejak kematian Khamenei, dengan banyak pendukung yang memandang kehilangan itu sebagai sesuatu yang tidak akan pernah bisa digantikan.
"Ini adalah kehilangan yang sangat, sangat besar bagi mereka. Mereka merasa telah kehilangan semangat, jiwa mereka. Mereka percaya tidak ada yang bisa menggantikannya," katanya.
Elahi mengatakan orang-orang dari seluruh Iran dan luar negeri datang untuk menghadiri upacara pemakaman dan menyatakan solidaritas kepada almarhum pemimpin tersebut.
"Mereka datang untuk menunjukkan solidaritas mereka dan untuk mengatakan bahwa kami bersamamu, kami tidak akan pernah melupakanmu dan kami akan mengikuti jalanmu," katanya.
Upacara pemakaman akan menarik banyak orang sebagai wujud dukungan terhadap Republik Islam setelah perang. Acara berkabung diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari, dengan prosesi yang direncanakan di beberapa kota sebelum jenazah Khamenei dimakamkan.
Ditanya tentang ancaman Israel untuk melakukan aksi militer lebih lanjut, Elahi berpendapat bahwa Iran telah keluar dari konflik dalam posisi yang lebih kuat.
"Banyak negara memuji Iran dan mengatakan Iran memenangkan perang. Iran masih sangat kuat dan siap untuk bangkit," katanya.
Pemakaman akan berlangsung di tengah ketegangan regional yang berkelanjutan, dengan Iran menegaskan bahwa partisipasi internasional akan tetap berjalan meskipun situasi keamanan tidak menentu.
Bagaimana Iran Mengawetkan Jenazah Khamenei?
Prosesi pemakaman Khamenei telah ditunda beberapa bulan akibat perang Iran melawan AS dan Israel. Penundaan pemakaman telah menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana jenazah Khamenei diawetkan.
Islam umumnya menyerukan penguburan segera dan melarang pembalseman kimia. Namun, kondisi perang dan kekhawatiran keamanan menunda pemakaman pemimpin tertinggi Republik Islam yang paling lama menjabat selama empat bulan.
"Mekanismenya hampir pasti adalah penyimpanan dingin berpendingin, bukan pembalseman, karena Islam melarang pembalseman kimia," kata pakar kontra-terorisme Dr Mohammed Omar kepada Fox News Digital.
"Hukum Syiah mengizinkan penundaan penguburan dan pengawetan dengan suhu dingin dalam kasus-kasus luar biasa, dan pengecualian ulama untuk Pemimpin Tertinggi mudah didapatkan," imbuh dia.
"Kamar mayat forensik Iran sudah menyimpan jenazah selama berbulan-bulan, jadi empat bulan dalam kondisi beku bukanlah hal yang aneh. Itulah yang tercakup dalam 'standar agama dan hukum'," kata Mohammed.
(mas)
Lihat Juga :