Jerman Berani Menolak Loyal pada AS: 'Sesama Anggota NATO Jangan Mendikte!'
Jum'at, 03 Juli 2026 - 08:44 WIB
loading...
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menolak tuntutan Presiden AS Donald Trump soal loyalitas dari anggota-anggota NATO kepada Washington. Foto/APA
A
A
A
BERLIN - Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius telah menolak tuntutan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal loyalitas dari anggota-anggota NATO kepada Washington. Pistorius menegaskan bahwa tidak ada negara anggota aliansi yang boleh memaksakan kehendaknya kepada anggota lainnya.
Pistorius menyampaikan komentar tersebut dalam wawancara luas dengan Der Spiegel, yang diterbitkan pada hari Kamis. Dia menggunakan kesempatan wawancara itu untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Berlin, yang diperburuk oleh perang AS-Israel melawan Iran.
Baca Juga: Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Pistorius didesak untuk menjelaskan pernyataan Trump pekan lalu, di mana pemimpin Amerika itu mengatakan bahwa dia kecewa dengan sebagian besar anggota NATO atas keengganan mereka untuk ikut serta dalam perang melawan Iran. “Saya hanya menginginkan loyalitas. Anda tahu, kami sangat loyal kepada mereka. Kami selalu berjuang untuk mereka,” kata Trump saat itu.
Trump kemudian secara khusus menyebut Jerman, dengan mencatat bahwa AS memiliki puluhan ribu pasukan di negara Eropa tersebut. “Dan kemudian Anda menginginkan sedikit—beri kami sedikit dorongan, beri kami sedikit ciuman. Kami tidak menginginkan banyak. Dan mereka berkata, ‘Tidak, kami tidak bisa melakukannya'," papar Trump.
Pistorius menepis, dengan mengatakan kepada Der Spiegel: “Konsep NATO bukanlah kepatuhan buta, melainkan semangat bebas dalam musyawarah.”
Dia menekankan bahwa keputusan di dalam blok tersebut dibuat berdasarkan konsensus bebas dari semua negara anggota. "Dan tanpa didikte oleh masing-masing negara anggota," paparnya.
Ketika ditanya dukungan militer apa yang sebenarnya diinginkan AS dari Berlin, Pistorius mengatakan dia tidak mengetahui adanya permintaan tersebut. "Lagipula, menolak ciuman kecil bisa terjadi dalam hubungan terbaik sekalipun. Dan tanpa disengaja juga. Ini bukanlah krisis perkawinan," ujarnya.
Namun, menteri pertahanan itu setuju dengan tuntutan lama Trump agar NATO menghabiskan lebih banyak anggaran pertahanan, tetapi bersikeras: "Jerman melakukannya karena itu demi kepentingan kami, bukan karena AS menginginkannya."
Hubungan antara AS dan Jerman memburuk setelah Pistorius memberi sinyal bahwa Berlin tidak akan bergabung dengan operasi yang dipimpin AS di Selat Hormuz, dengan alasan bahwa "ini bukan perang kita."
Setelah perselisihan tersebut, Pentagon mengumumkan pada bulan Mei bahwa mereka akan menarik 5.000 pasukan dari Jerman selama 6 hingga 12 bulan ke depan. Menteri Perang AS Pete Hegseth—yang menyebut perilaku anggota NATO "memalukan"—mengumumkan tinjauan enam bulan terhadap postur militer AS di Eropa bulan lalu.
Pistorius menyampaikan komentar tersebut dalam wawancara luas dengan Der Spiegel, yang diterbitkan pada hari Kamis. Dia menggunakan kesempatan wawancara itu untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Berlin, yang diperburuk oleh perang AS-Israel melawan Iran.
Baca Juga: Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Pistorius didesak untuk menjelaskan pernyataan Trump pekan lalu, di mana pemimpin Amerika itu mengatakan bahwa dia kecewa dengan sebagian besar anggota NATO atas keengganan mereka untuk ikut serta dalam perang melawan Iran. “Saya hanya menginginkan loyalitas. Anda tahu, kami sangat loyal kepada mereka. Kami selalu berjuang untuk mereka,” kata Trump saat itu.
Trump kemudian secara khusus menyebut Jerman, dengan mencatat bahwa AS memiliki puluhan ribu pasukan di negara Eropa tersebut. “Dan kemudian Anda menginginkan sedikit—beri kami sedikit dorongan, beri kami sedikit ciuman. Kami tidak menginginkan banyak. Dan mereka berkata, ‘Tidak, kami tidak bisa melakukannya'," papar Trump.
Pistorius menepis, dengan mengatakan kepada Der Spiegel: “Konsep NATO bukanlah kepatuhan buta, melainkan semangat bebas dalam musyawarah.”
Dia menekankan bahwa keputusan di dalam blok tersebut dibuat berdasarkan konsensus bebas dari semua negara anggota. "Dan tanpa didikte oleh masing-masing negara anggota," paparnya.
Ketika ditanya dukungan militer apa yang sebenarnya diinginkan AS dari Berlin, Pistorius mengatakan dia tidak mengetahui adanya permintaan tersebut. "Lagipula, menolak ciuman kecil bisa terjadi dalam hubungan terbaik sekalipun. Dan tanpa disengaja juga. Ini bukanlah krisis perkawinan," ujarnya.
Namun, menteri pertahanan itu setuju dengan tuntutan lama Trump agar NATO menghabiskan lebih banyak anggaran pertahanan, tetapi bersikeras: "Jerman melakukannya karena itu demi kepentingan kami, bukan karena AS menginginkannya."
Hubungan antara AS dan Jerman memburuk setelah Pistorius memberi sinyal bahwa Berlin tidak akan bergabung dengan operasi yang dipimpin AS di Selat Hormuz, dengan alasan bahwa "ini bukan perang kita."
Setelah perselisihan tersebut, Pentagon mengumumkan pada bulan Mei bahwa mereka akan menarik 5.000 pasukan dari Jerman selama 6 hingga 12 bulan ke depan. Menteri Perang AS Pete Hegseth—yang menyebut perilaku anggota NATO "memalukan"—mengumumkan tinjauan enam bulan terhadap postur militer AS di Eropa bulan lalu.
(mas)
Lihat Juga :