PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Kamis, 25 Juni 2026 - 16:30 WIB
loading...
Anak-anak di Gaza menjadi target serangan Israel. Foto/anadolu
A
A
A
NEW YORK - Pasukan Israel telah dengan sengaja menargetkan dan membunuh anak-anak Palestina di Gaza dan Tepi Barat, menurut penyelidikan PBB. Laporan PBB itu menyatakan serangan tersebut merupakan kejahatan perang dan menunjukkan niat genosida.
Srinivasan Muralidhar, ketua Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB tentang Wilayah Palestina yang Diduduki dan Israel, menyampaikan temuan tersebut pada hari Selasa (23/6/2026) saat membahas laporan baru tentang pelanggaran Israel terhadap anak di bawah umur.
Ia mengatakan komisi tersebut telah menemukan "bukti yang tak terbantahkan" tentang pembunuhan yang ditargetkan secara sengaja terhadap anak-anak Palestina, serta penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi dan merendahkan, kekerasan seksual dan berbasis gender, dan serangan terhadap infrastruktur yang penting bagi anak-anak, seperti panti asuhan, layanan kesehatan, dan fasilitas pendidikan.
Menurut komisi tersebut, pasukan Israel membunuh lebih dari 20.000 anak-anak Palestina dan melukai lebih dari 44.000 lainnya antara Oktober 2023 dan Oktober 2025.
Temuan UNICEF juga menunjukkan pada Februari 2026, jumlah korban di Gaza telah meningkat menjadi 21.289 anak yang tewas dan 44.500 yang terluka.
Muralidhar menyatakan anak-anak menyumbang sekitar 30% dari mereka yang tewas di wilayah Palestina yang diduduki dan serangan terhadap mereka telah menjadi "aktivitas yang berkelanjutan."
Komisi tersebut mengaitkan sebagian besar korban dengan penggunaan senjata peledak oleh Israel di daerah padat penduduk dan kegagalan mengambil tindakan pencegahan yang memadai meskipun ada anak-anak di sana.
Laporan tersebut juga mendokumentasikan kasus-kasus anak-anak yang diduga ditembak oleh penembak jitu atau drone Israel saat evakuasi, berlindung di tenda, mendekati lokasi bantuan, atau tinggal di kamp pengungsian.
Petugas medis telah mencatat pola luka tembak tunggal di kepala atau tubuh bagian atas, yang menunjukkan penargetan yang disengaja.
Penyelidikan tersebut menambahkan blokade Israel terhadap Gaza, termasuk pembatasan masuknya makanan, bahan bakar, perlengkapan medis, dan bantuan kemanusiaan lainnya, juga telah memperburuk kekurangan gizi, penyakit, kematian yang dapat dicegah, dan trauma psikologis jangka panjang.
Komisi tersebut menduga otoritas dan pasukan keamanan Israel terus melakukan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Gaza, serta kejahatan perang di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Israel telah menolak tuduhan genosida dan berulang kali menegaskan kampanye militernya ditujukan pada kelompok Hamas, bukan warga sipil.
Perang Gaza dimulai setelah serangan yang dipimpin Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, di mana sekitar 1.200 orang tewas dan lebih dari 250 orang disandera.
Kampanye Israel selanjutnya telah menghancurkan sebagian besar Gaza, menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 173.000 orang, menurut otoritas kesehatan setempat.
Baca juga: Venezuela Diguncang Gempa M7,2 Berturut-turut, Korban Tewas Diperkirakan Ribuan Orang
Srinivasan Muralidhar, ketua Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB tentang Wilayah Palestina yang Diduduki dan Israel, menyampaikan temuan tersebut pada hari Selasa (23/6/2026) saat membahas laporan baru tentang pelanggaran Israel terhadap anak di bawah umur.
Ia mengatakan komisi tersebut telah menemukan "bukti yang tak terbantahkan" tentang pembunuhan yang ditargetkan secara sengaja terhadap anak-anak Palestina, serta penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi dan merendahkan, kekerasan seksual dan berbasis gender, dan serangan terhadap infrastruktur yang penting bagi anak-anak, seperti panti asuhan, layanan kesehatan, dan fasilitas pendidikan.
Menurut komisi tersebut, pasukan Israel membunuh lebih dari 20.000 anak-anak Palestina dan melukai lebih dari 44.000 lainnya antara Oktober 2023 dan Oktober 2025.
Temuan UNICEF juga menunjukkan pada Februari 2026, jumlah korban di Gaza telah meningkat menjadi 21.289 anak yang tewas dan 44.500 yang terluka.
Muralidhar menyatakan anak-anak menyumbang sekitar 30% dari mereka yang tewas di wilayah Palestina yang diduduki dan serangan terhadap mereka telah menjadi "aktivitas yang berkelanjutan."
Komisi tersebut mengaitkan sebagian besar korban dengan penggunaan senjata peledak oleh Israel di daerah padat penduduk dan kegagalan mengambil tindakan pencegahan yang memadai meskipun ada anak-anak di sana.
Laporan tersebut juga mendokumentasikan kasus-kasus anak-anak yang diduga ditembak oleh penembak jitu atau drone Israel saat evakuasi, berlindung di tenda, mendekati lokasi bantuan, atau tinggal di kamp pengungsian.
Petugas medis telah mencatat pola luka tembak tunggal di kepala atau tubuh bagian atas, yang menunjukkan penargetan yang disengaja.
Penyelidikan tersebut menambahkan blokade Israel terhadap Gaza, termasuk pembatasan masuknya makanan, bahan bakar, perlengkapan medis, dan bantuan kemanusiaan lainnya, juga telah memperburuk kekurangan gizi, penyakit, kematian yang dapat dicegah, dan trauma psikologis jangka panjang.
Komisi tersebut menduga otoritas dan pasukan keamanan Israel terus melakukan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Gaza, serta kejahatan perang di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Israel telah menolak tuduhan genosida dan berulang kali menegaskan kampanye militernya ditujukan pada kelompok Hamas, bukan warga sipil.
Perang Gaza dimulai setelah serangan yang dipimpin Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, di mana sekitar 1.200 orang tewas dan lebih dari 250 orang disandera.
Kampanye Israel selanjutnya telah menghancurkan sebagian besar Gaza, menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 173.000 orang, menurut otoritas kesehatan setempat.
Baca juga: Venezuela Diguncang Gempa M7,2 Berturut-turut, Korban Tewas Diperkirakan Ribuan Orang
(sya)
Lihat Juga :