Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Selasa, 23 Juni 2026 - 13:06 WIB
loading...
Iran klaim memiliki tiga poin kemenangan dalam negosiasi. Foto/X
A
A
A
TEHERAN - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang juga pemimpin tim negosiator Iran di mengklaim negaranya meraih banyak kemenangan dalam negosiasi dengan AS. Salah hal paling penting adalah pembebasan aset yang dibekukan oleh AS dan sekutunya.
Dalam sebuah wawancara dengan media pemerintah, Ghalibaf berbicara secara rinci tentang aset beku Iran dan ekspor minyak.
Ia berbicara tentang Pasal 11 MoU [yang berkaitan dengan pelepasan dana beku Iran] dan mengatakan ada dua jumlah terpisah sebesar USD6 miliar yang akan dilepaskan. Ia mengatakan bahwa pengaturan awal telah dilakukan selama kunjungan ke Qatar dan penandatanganan akhir berlangsung selama kunjungan ke Swiss.
Mengenai Pasal 10, yang menyangkut penjualan minyak mentah, petrokimia dan turunannya, serta perbankan, asuransi dan transportasi, ia mengatakan bahwa sanksi minyak juga telah dicabut hingga kesepakatan akhir tercapai.
Ghalibaf menjelaskan secara rinci tentang dua isu penting ini, dan menyajikannya sebagai hasil langsung, atau poin kemenangan langsung bagi Iran terkait nota kesepahaman tersebut.
Negosiator utama Iran telah menanggapi kritik terhadap keputusan delegasi Iran untuk mengadakan pembicaraan dengan AS, dengan mengatakan bahwa kelompok tersebut pergi ke Swiss untuk menghentikan pertumpahan darah Israel di Lebanon.
“Dalam salah satu program bagus di IRIB, saya melihat mereka mengatakan bahwa mereka berharap bandara Mehrabad ditutup sehingga tim negosiasi tidak perlu pergi ke Swiss,” tulis Mohammad Bagher Ghalibaf di X, merujuk pada segmen yang ditayangkan di stasiun televisi pemerintah negara itu.
“Saya katakan kepada orang-orang terkasih itu: Jika kita tidak pergi ke Swiss, setiap saat, lebih banyak darah akan tertumpah dari kaum Muslim dan Syiah Lebanon,” katanya.
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
1. Pencairan Aset yang Dibekukan
Ia mengkonfirmasi pelepasan dua tahap dana beku senilai USD6 miliar (Rp107 triliun) dengan total USD12 miliar (Rp214 triliun) dan mengatakan sanksi terhadap sektor minyak Iran tetap berlaku karena kesepakatan akhir belum tercapai. “Oleh karena itu, kami perlu mendapatkan pengecualian agar kami dapat menjual minyak kami dan melakukan kegiatan perbankan kami… Pengecualian ini sekarang telah diperoleh, dan perjanjian terkait telah ditandatangani.”Dalam sebuah wawancara dengan media pemerintah, Ghalibaf berbicara secara rinci tentang aset beku Iran dan ekspor minyak.
Ia berbicara tentang Pasal 11 MoU [yang berkaitan dengan pelepasan dana beku Iran] dan mengatakan ada dua jumlah terpisah sebesar USD6 miliar yang akan dilepaskan. Ia mengatakan bahwa pengaturan awal telah dilakukan selama kunjungan ke Qatar dan penandatanganan akhir berlangsung selama kunjungan ke Swiss.
Mengenai Pasal 10, yang menyangkut penjualan minyak mentah, petrokimia dan turunannya, serta perbankan, asuransi dan transportasi, ia mengatakan bahwa sanksi minyak juga telah dicabut hingga kesepakatan akhir tercapai.
Ghalibaf menjelaskan secara rinci tentang dua isu penting ini, dan menyajikannya sebagai hasil langsung, atau poin kemenangan langsung bagi Iran terkait nota kesepahaman tersebut.
2. Krisis Lebanon
Mengenai Lebanon, Ghalibaf mengatakan: “Kami sepakat untuk mendirikan pusat di sana untuk menangani koordinasi”. Pusat tersebut akan menangani setiap perselisihan “untuk mencegah kembalinya perang, memungkinkan orang untuk kembali ke kehidupan normal mereka, dan memastikan bahwa wilayah yang diduduki Israel dikosongkan, dan bahwa kedaulatan nasional Lebanon dihormati”.Negosiator utama Iran telah menanggapi kritik terhadap keputusan delegasi Iran untuk mengadakan pembicaraan dengan AS, dengan mengatakan bahwa kelompok tersebut pergi ke Swiss untuk menghentikan pertumpahan darah Israel di Lebanon.
“Dalam salah satu program bagus di IRIB, saya melihat mereka mengatakan bahwa mereka berharap bandara Mehrabad ditutup sehingga tim negosiasi tidak perlu pergi ke Swiss,” tulis Mohammad Bagher Ghalibaf di X, merujuk pada segmen yang ditayangkan di stasiun televisi pemerintah negara itu.
“Saya katakan kepada orang-orang terkasih itu: Jika kita tidak pergi ke Swiss, setiap saat, lebih banyak darah akan tertumpah dari kaum Muslim dan Syiah Lebanon,” katanya.
3. Selat Hormuz
Mengenai Selat Hormuz, ia menyatakan bahwa “semua orang harus tahu bahwa pengelolaan selat tersebut tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang”. Ia menambahkan: “Kami sepakat untuk membangun mekanisme koordinasi [di Selat Hormuz], termasuk saluran telepon langsung dan pusat yang dapat dihubungi kapan pun ada ambiguitas atau perselisihan”.(ahm)
Lihat Juga :