Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia

Jum'at, 12 Juni 2026 - 14:47 WIB
loading...
Israel Jadi Negara yang...
Ratusan demonstran mengibarkan bendera Palestina dan memegang spanduk yang menyerukan boikot terhadap Israel selama unjuk rasa yang diselenggarakan kolektif EuroPalestine di Paris, Prancis pada 27 September 2025. Foto/Ümit Dönmez/Anadolu Agency
A A A
TEL AVIV - Israel menjadi negara yang paling banyak terkena boikot di seluruh dunia. Negara Zionis itu menghadapi gelombang sanksi internasional yang menargetkan para pejabat pemerintah, warga sipil penjajah, dan lembaga resmi, menurut laporan harian Yedioth Ahronoth pada hari Kamis.

Dengan judul "Bagaimana Israel Menjadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia," surat kabar tersebut mengatakan Israel telah menghadapi "tsunami sanksi internasional yang menargetkan para pejabat pemerintah Israel, penjajah, dan lembaga, tekanan yang meningkat dari berbagai negara dan organisasi pro-BDS yang sudah lama ada."

Disebutkan, Prancis baru-baru ini melarang Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich memasuki negara itu. Sebelumnya, Paris memberlakukan larangan serupa terhadap Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.

Menurut surat kabar tersebut, langkah Prancis itu sebagai tanggapan atas "promosi aktif" kedua menteri tersebut terhadap aneksasi Tepi Barat, permukiman ilegal baru, dan kebijakan yang dianggap melemahkan Otoritas Palestina.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menganggap Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sebagai wilayah Palestina yang diduduki, dan aneksasinya ke Israel secara efektif akan menghilangkan kemungkinan pembentukan negara Palestina merdeka seperti yang diimpikan dalam resolusi internasional.

Momentum yang Meningkat


Yedioth Ahronoth mengatakan hingga 7 Oktober 2023, Israel berhasil membatasi dampak kampanye boikot, divestasi, dan sanksi (BDS).

“Sanksi ekonomi hanya sedikit berpengaruh karena ekonomi Israel yang kuat menghalangi divestasi, sementara boikot akademis dan budaya sebagian besar bersifat simbolis,” tambahnya.

“Namun, fenomena ini telah meningkat, dengan BDS mencapai keberhasilan di berbagai bidang,” kata harian itu.

“Gerakan ini telah merusak reputasi Israel secara internasional, terbukti dalam survei opini publik yang menunjukkan persepsi negatif yang semakin meningkat.”

Laporan tersebut mengutip beberapa contoh, termasuk seniman yang menolak tampil di Israel, penulis yang menolak terjemahan bahasa Ibrani atas karya mereka, dan kampanye untuk menghapus Israel dari acara-acara seperti Eurovision atau kompetisi FIFA.

Laporan itu juga menunjuk pada upaya yang semakin meningkat untuk menarik investasi asing, “termasuk dana kekayaan negara Norwegia yang menarik investasinya dari perusahaan-perusahaan Israel.”

“Daftar hitam Dewan Hak Asasi Manusia PBB menargetkan perusahaan-perusahaan Israel dan internasional yang beroperasi di luar Garis Hijau,” kata laporan itu, merujuk pada permukiman ilegal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki.

“Laporan dan video dari Tepi Barat yang menunjukkan para penjajah terlibat dalam perilaku kekerasan terhadap warga Palestina dan perusakan properti semakin memicu sanksi,” ungkap laporan itu.

“Pernyataan dan tindakan publik oleh para menteri, terutama video Ben-Gvir yang beredar luas yang mempermalukan peserta armada yang menuju Gaza, menuai kecaman dari berbagai negara karena dianggap melanggar garis merah.”

Baca juga: Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Siapa Pihak yang Berpotensi...
Siapa Pihak yang Berpotensi Menggagalkan Kesepakatan Perdamaian Iran dan AS?
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Trump Sebut Israel Bisa...
Trump Sebut Israel Bisa Hancur dalam 24 Jam jika Iran Punya Senjata Nuklir
Rekomendasi
Kang Cucun Gelar Pasar...
Kang Cucun Gelar Pasar Murah di Desa Ciheulang Ciparay
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Wali Kota Agustina Tegaskan...
Wali Kota Agustina Tegaskan Kerukunan Jadi Kekuatan Utama Membangun Kota Semarang
Berita Terkini
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
7 Fakta Unik Cape Verde,...
7 Fakta Unik Cape Verde, Negara Kecil yang Bikin Spanyol Frustrasi di Piala Dunia 2026
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved