Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
Jum'at, 12 Juni 2026 - 11:07 WIB
loading...
Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati Mahidol atau Putri Bha, anak sulung Raja Thailand Maha Vajiralongkorn, telah meninggal dunia setelah koma hampir 4 tahun. Foto/Khaosod English
A
A
A
BANGKOK - Putri Bha, anak sulung Raja Thailand Maha Vajiralongkorn (Rama X) yang dipandang sebagai calon penerus takhta, telah meninggal dunia pada hari Kamis di sebuah rumah sakit di Bangkok. Dia meninggal pada usia 47 tahun setelah koma hampir empat tahun.
Sang putri, yang nama lengkapnya adalah Bajrakitiyabha Narendira Debyavati Mahidol, telah menggunakan alat bantu pernapasan sejak Desember 2022, ketika jatuh koma setelah pingsan di sebuah taman di Thailand utara saat berlari bersama anjing-anjingnya. Pada bulan Mei, istana mengumumkan bahwa dia menderita infeksi di perutnya yang menyebabkan tekanan darah rendah dan detak jantung tidak teratur.
Baca Juga: Ironi Kekayaan Raja Thailand Vajiralongkorn Rp778 Triliun: Hampir 3 Kali Anggaran MBG, tapi Pewarisnya Tak Jelas
Kematiannya memperumit pertanyaan yang sudah kabur tentang suksesi di monarki Thailand. Raja Maha Vajiralongkorn (73) belum secara terbuka menunjuk pewaris takhta, dan beberapa analis melihat Putri Bha sebagai kandidat potensial untuk menjadi ratu penguasa pertama Thailand karena berada di garis pertama suksesi. Dia adalah anak tunggal yang lahir dari raja dan istri pertamanya, Putri Soamsawali, yang juga sepupu raja.
Raja Vajiralongkorn saat ini tercatat sebagai salah satu raja terkaya di dunia. Beberapa media ekonomi mencatat kekayaan penguasa monarki Thailand ini mencapai USD43 miliar atau lebih dari Rp770 triliun. Calon pewaris takhtanya pada akhirnya juga akan mewarisi kekayaan sebesar itu.
Raja Vajiralongkorn, yang hidupnya diwarnai skandal, telah menikah empat kali dan memiliki tujuh anak. Dia telah menolak mengakui putra yang dari istri keduanya, aktris Sujarinee Vivacharawongse.
Namun, suksesi tidak otomatis, dan raja diizinkan untuk menunjuk pewarisnya sendiri. Konstitusi Thailand juga mengizinkan dewan penasihat negara untuk menunjuk seorang putri ke takhta jika tidak ada penerus yang ditunjuk.
Kematian Putri Bha terjadi di tengah gelombang kekecewaan yang semakin meningkat terhadap monarki di kalangan pemuda Thailand. Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan ribu anak muda telah berdemonstrasi di Thailand untuk menuntut reformasi monarki serta hukum lèse-majesté yang keras yang melarang kritik terhadap keluarga kerajaan.
Di antara pendukung monarki, sang putri secara luas dipandang sebagai seseorang yang dapat mengembalikan rasa hormat kepada keluarga kerajaan yang telah menjadi tidak populer. Tidak seperti ayahnya, sang putri, yang masih lajang, tampaknya bebas dari skandal. Dia memiliki salah satu riwayat hidup yang paling gemilang di antara anak-anak raja, setelah bertugas sebagai diplomat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan di Austria.
“Dia adalah harapan yang dapat membawa keluarga kerajaan ke masa depan,” kata Kasidit Ananthanathorn, seorang dosen yang mempelajari monarki di Universitas Ramkhamhaeng di Thailand.
Pada tahun 2019, raja menganugerahkan gelar kerajaan kepada Putri Bha dan dua saudara tirinya—Pangeran Dipangkorn Rasmijoti dan Putri Sirivannavari Nariratana. Gelar baru tersebut menandakan bahwa ketiganya berada dalam garis suksesi kerajaan.
Putri Sirivannavari (39), seorang perancang busana, adalah satu-satunya putri raja dengan istri keduanya dan, tidak seperti saudara laki-lakinya, tidak diasingkan dan dicabut gelarnya. Pangeran Dipangkorn (21) adalah satu-satunya anak raja dengan istri ketiganya, Srirasmi Suwadee, yang kemudian dituduhnya melakukan korupsi, dan diceraikan.
Saat ini, Raja Vajiralongkorn menikah dengan Ratu Suthida, mantan pramugari.
Komanya Putri Bha pada tahun 2022 meningkatkan spekulasi tentang kemungkinan kandidat lain untuk menggantikan ayahnya. Pada tahun 2023, dua putra yang telah ditolak raja, Vacharaesorn dan Chakriwat Vivacharawongse, secara mengejutkan kembali ke Thailand setelah hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat selama 27 tahun, memicu spekulasi bahwa mereka mungkin sedang berupaya untuk dipertimbangkan. Tetapi Juni lalu, kedua pria tersebut, yang merupakan warga negara Amerika, kembali dipaksa meninggalkan Thailand.
Lahir pada 7 Desember 1978, Putri Bha, yang juga dikenal sebagai Ong-Bha (diucapkan Ong-Pa), bersekolah di Heathfield School, sebuah sekolah menengah khusus perempuan di Ascot, Inggris, sebelum kembali ke Thailand untuk meraih gelar sarjana hukum di Universitas Thammasat. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya dan meraih gelar master dan doktor dari Cornell Law School di Ithaca, New York.
Dia kemudian menjadi asisten jaksa di kantor Kejaksaan Agung di Thailand. Dia kemudian bertugas di berbagai posisi diplomatik, pertama di Misi Tetap Thailand untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebelum diangkat menjadi duta besar untuk Austria, Slovakia, dan Slovenia, posisi yang dipegangnya dari tahun 2012 hingga 2014.
Salah satu minat Putri Bha adalah hak-hak tahanan perempuan. Dia mendorong pemerintah Thailand untuk mengajukan resolusi kepada Komisi Pencegahan Kejahatan dan Peradilan Pidana, sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menyatakan bahwa perempuan rentan dalam sistem penjara yang dibangun untuk laki-laki. Dia mendorong adopsi "Aturan Bangkok" oleh PBB pada tahun 2010, yang juga dikenal sebagai Aturan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perlakuan terhadap Narapidana Perempuan dan Langkah-Langkah Non-Penahanan bagi Pelaku Kejahatan Perempuan.
Putri Bha menjalankan proyek-proyek untuk memastikan bahwa ibu-ibu Thailand yang dipenjara diberi konseling dan layanan penitipan anak untuk membantu mereka kembali ke masyarakat setelah dibebaskan, dan ia mendorong perlakuan manusiawi terhadap narapidana perempuan di tempat-tempat seperti Indonesia.
"Dia menghabiskan banyak waktunya, padahal dia tidak perlu melakukannya,” kata Jeremy Douglas, seorang pejabat senior di Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan, yang mengenal sang putri selama lebih dari dua dekade, yang dikutip The New York Times, Jumat (12/6/2026).
“Di balik layar, dia mendorong ide-idenya, mengadakan pertemuan, duduk bersama orang-orang dan bertukar pikiran: ‘Apa yang bisa kita lakukan dengan lebih baik?’”
Putri Bha meninggalkan orang tua dan enam saudara tiri.
Sang putri, yang nama lengkapnya adalah Bajrakitiyabha Narendira Debyavati Mahidol, telah menggunakan alat bantu pernapasan sejak Desember 2022, ketika jatuh koma setelah pingsan di sebuah taman di Thailand utara saat berlari bersama anjing-anjingnya. Pada bulan Mei, istana mengumumkan bahwa dia menderita infeksi di perutnya yang menyebabkan tekanan darah rendah dan detak jantung tidak teratur.
Baca Juga: Ironi Kekayaan Raja Thailand Vajiralongkorn Rp778 Triliun: Hampir 3 Kali Anggaran MBG, tapi Pewarisnya Tak Jelas
Kematiannya memperumit pertanyaan yang sudah kabur tentang suksesi di monarki Thailand. Raja Maha Vajiralongkorn (73) belum secara terbuka menunjuk pewaris takhta, dan beberapa analis melihat Putri Bha sebagai kandidat potensial untuk menjadi ratu penguasa pertama Thailand karena berada di garis pertama suksesi. Dia adalah anak tunggal yang lahir dari raja dan istri pertamanya, Putri Soamsawali, yang juga sepupu raja.
Raja Vajiralongkorn saat ini tercatat sebagai salah satu raja terkaya di dunia. Beberapa media ekonomi mencatat kekayaan penguasa monarki Thailand ini mencapai USD43 miliar atau lebih dari Rp770 triliun. Calon pewaris takhtanya pada akhirnya juga akan mewarisi kekayaan sebesar itu.
Raja Vajiralongkorn, yang hidupnya diwarnai skandal, telah menikah empat kali dan memiliki tujuh anak. Dia telah menolak mengakui putra yang dari istri keduanya, aktris Sujarinee Vivacharawongse.
Namun, suksesi tidak otomatis, dan raja diizinkan untuk menunjuk pewarisnya sendiri. Konstitusi Thailand juga mengizinkan dewan penasihat negara untuk menunjuk seorang putri ke takhta jika tidak ada penerus yang ditunjuk.
Kematian Putri Bha terjadi di tengah gelombang kekecewaan yang semakin meningkat terhadap monarki di kalangan pemuda Thailand. Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan ribu anak muda telah berdemonstrasi di Thailand untuk menuntut reformasi monarki serta hukum lèse-majesté yang keras yang melarang kritik terhadap keluarga kerajaan.
Di antara pendukung monarki, sang putri secara luas dipandang sebagai seseorang yang dapat mengembalikan rasa hormat kepada keluarga kerajaan yang telah menjadi tidak populer. Tidak seperti ayahnya, sang putri, yang masih lajang, tampaknya bebas dari skandal. Dia memiliki salah satu riwayat hidup yang paling gemilang di antara anak-anak raja, setelah bertugas sebagai diplomat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan di Austria.
“Dia adalah harapan yang dapat membawa keluarga kerajaan ke masa depan,” kata Kasidit Ananthanathorn, seorang dosen yang mempelajari monarki di Universitas Ramkhamhaeng di Thailand.
Pada tahun 2019, raja menganugerahkan gelar kerajaan kepada Putri Bha dan dua saudara tirinya—Pangeran Dipangkorn Rasmijoti dan Putri Sirivannavari Nariratana. Gelar baru tersebut menandakan bahwa ketiganya berada dalam garis suksesi kerajaan.
Putri Sirivannavari (39), seorang perancang busana, adalah satu-satunya putri raja dengan istri keduanya dan, tidak seperti saudara laki-lakinya, tidak diasingkan dan dicabut gelarnya. Pangeran Dipangkorn (21) adalah satu-satunya anak raja dengan istri ketiganya, Srirasmi Suwadee, yang kemudian dituduhnya melakukan korupsi, dan diceraikan.
Saat ini, Raja Vajiralongkorn menikah dengan Ratu Suthida, mantan pramugari.
Komanya Putri Bha pada tahun 2022 meningkatkan spekulasi tentang kemungkinan kandidat lain untuk menggantikan ayahnya. Pada tahun 2023, dua putra yang telah ditolak raja, Vacharaesorn dan Chakriwat Vivacharawongse, secara mengejutkan kembali ke Thailand setelah hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat selama 27 tahun, memicu spekulasi bahwa mereka mungkin sedang berupaya untuk dipertimbangkan. Tetapi Juni lalu, kedua pria tersebut, yang merupakan warga negara Amerika, kembali dipaksa meninggalkan Thailand.
Lahir pada 7 Desember 1978, Putri Bha, yang juga dikenal sebagai Ong-Bha (diucapkan Ong-Pa), bersekolah di Heathfield School, sebuah sekolah menengah khusus perempuan di Ascot, Inggris, sebelum kembali ke Thailand untuk meraih gelar sarjana hukum di Universitas Thammasat. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya dan meraih gelar master dan doktor dari Cornell Law School di Ithaca, New York.
Dia kemudian menjadi asisten jaksa di kantor Kejaksaan Agung di Thailand. Dia kemudian bertugas di berbagai posisi diplomatik, pertama di Misi Tetap Thailand untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebelum diangkat menjadi duta besar untuk Austria, Slovakia, dan Slovenia, posisi yang dipegangnya dari tahun 2012 hingga 2014.
Salah satu minat Putri Bha adalah hak-hak tahanan perempuan. Dia mendorong pemerintah Thailand untuk mengajukan resolusi kepada Komisi Pencegahan Kejahatan dan Peradilan Pidana, sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menyatakan bahwa perempuan rentan dalam sistem penjara yang dibangun untuk laki-laki. Dia mendorong adopsi "Aturan Bangkok" oleh PBB pada tahun 2010, yang juga dikenal sebagai Aturan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perlakuan terhadap Narapidana Perempuan dan Langkah-Langkah Non-Penahanan bagi Pelaku Kejahatan Perempuan.
Putri Bha menjalankan proyek-proyek untuk memastikan bahwa ibu-ibu Thailand yang dipenjara diberi konseling dan layanan penitipan anak untuk membantu mereka kembali ke masyarakat setelah dibebaskan, dan ia mendorong perlakuan manusiawi terhadap narapidana perempuan di tempat-tempat seperti Indonesia.
"Dia menghabiskan banyak waktunya, padahal dia tidak perlu melakukannya,” kata Jeremy Douglas, seorang pejabat senior di Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan, yang mengenal sang putri selama lebih dari dua dekade, yang dikutip The New York Times, Jumat (12/6/2026).
“Di balik layar, dia mendorong ide-idenya, mengadakan pertemuan, duduk bersama orang-orang dan bertukar pikiran: ‘Apa yang bisa kita lakukan dengan lebih baik?’”
Putri Bha meninggalkan orang tua dan enam saudara tiri.
(mas)
Lihat Juga :