Hamas Ungkap Pertemuan di Kairo Bahas Penerapan Gencatan Senjata Gaza
Minggu, 07 Juni 2026 - 12:29 WIB
loading...
A
A
A
Delegasi senior Hamas tiba di Kairo pada hari Jumat untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Mesir mengenai penyelesaian implementasi fase pertama perjanjian gencatan senjata dan pembentukan mekanisme untuk memasuki fase kedua.
Menurut Hamas, delegasi tersebut dipimpin Khalil al-Hayya, pemimpin gerakan tersebut di Gaza dan kepala negosiator.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana 20 poin pada bulan September yang menguraikan kerangka kerja gencatan senjata yang mencakup pembebasan tawanan Israel, penarikan Israel dari Gaza, pembentukan pemerintahan teknokrat, dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional, bersamaan dengan seruan agar Hamas melucuti senjata.
Fase pertama perjanjian gencatan senjata mencakup gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Israel dan faksi-faksi Palestina. Namun, sumber-sumber Palestina mengatakan Israel terus melanggar perjanjian tersebut hampir setiap hari.
Pada fase kedua, Israel diharapkan melakukan penarikan lebih lanjut dari wilayah tersebut, sementara pasukan stabilisasi internasional akan mengambil alih tanggung jawab keamanan, termasuk memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan dan bahan-bahan rekonstruksi.
Menurut Hamas, delegasi tersebut dipimpin Khalil al-Hayya, pemimpin gerakan tersebut di Gaza dan kepala negosiator.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana 20 poin pada bulan September yang menguraikan kerangka kerja gencatan senjata yang mencakup pembebasan tawanan Israel, penarikan Israel dari Gaza, pembentukan pemerintahan teknokrat, dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional, bersamaan dengan seruan agar Hamas melucuti senjata.
Fase pertama perjanjian gencatan senjata mencakup gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Israel dan faksi-faksi Palestina. Namun, sumber-sumber Palestina mengatakan Israel terus melanggar perjanjian tersebut hampir setiap hari.
Pada fase kedua, Israel diharapkan melakukan penarikan lebih lanjut dari wilayah tersebut, sementara pasukan stabilisasi internasional akan mengambil alih tanggung jawab keamanan, termasuk memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan dan bahan-bahan rekonstruksi.
Lihat Juga :