Iran Diduga Gunakan Rudal China saat Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 AS
Senin, 01 Juni 2026 - 07:32 WIB
loading...
A
A
A
Departemen Luar Negeri AS menjatuhkan sanksi kepada tiga perusahaan satelit China yang menurut mereka menyediakan citra dan data untuk memungkinkan Iran melancarkan serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah. China membantah tuduhan tersebut.
Menurut pejabat AS yang mengetahui diskusi tersebut, AS menyadari semua yang dilakukan China untuk mendukung Iran. Pejabat itu mengatakan bahwa China mendukung Iran sebelum perang dan bantuan apa pun selama konflik yang sedang berlangsung tidak memberikan perbedaan di medan perang.
“Itu bukan dukungan yang signifikan. Tidak ada dampak operasional yang menentukan,” kata pejabat AS tersebut, Minggu (31/5/2026).
China pernah menjual sejumlah besar senjata ke Iran pada tahun 1980-an dan 1990-an, termasuk rudal balistik, rudal anti-kapal, tank, artileri, dan jet tempur.
Namun setelah embargo senjata PBB terhadap Iran diberlakukan pada tahun 2006, China menarik diri dari penjualan senjata besar-besaran dan malah menyediakan komponen dan teknologi lain kepada Iran yang memiliki kegunaan sipil dan militer, menurut para ahli dan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
Menurut pejabat AS yang mengetahui diskusi tersebut, AS menyadari semua yang dilakukan China untuk mendukung Iran. Pejabat itu mengatakan bahwa China mendukung Iran sebelum perang dan bantuan apa pun selama konflik yang sedang berlangsung tidak memberikan perbedaan di medan perang.
“Itu bukan dukungan yang signifikan. Tidak ada dampak operasional yang menentukan,” kata pejabat AS tersebut, Minggu (31/5/2026).
China pernah menjual sejumlah besar senjata ke Iran pada tahun 1980-an dan 1990-an, termasuk rudal balistik, rudal anti-kapal, tank, artileri, dan jet tempur.
Namun setelah embargo senjata PBB terhadap Iran diberlakukan pada tahun 2006, China menarik diri dari penjualan senjata besar-besaran dan malah menyediakan komponen dan teknologi lain kepada Iran yang memiliki kegunaan sipil dan militer, menurut para ahli dan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
(mas)
Lihat Juga :