Profil David Rush, Eks Pejabat CIA Miliki 303 Emas Batangan Bermodal Ijazah Palsu
Jum'at, 29 Mei 2026 - 10:59 WIB
loading...
A
A
A
Setelah menjalani proses pemeriksaan ketat agensi itu sendiri, Walder mengatakan itu bukanlah urusan yang sepele.
“Mereka tidak hanya memverifikasi universitas saya. Mereka datang ke rumah perkumpulan mahasiswi saya. Mereka berbicara dengan saudari-saudari saya di perkumpulan itu. Mereka datang ke rumah orang tua saya. Mereka pergi ke teman-teman dari teman-teman orang tua saya,” katanya tentang proses yang dia sendiri alami sebelum bergabung dengan agensi tersebut.
“Ini pasti merupakan penutupan kebohongan skala besar. Pasti ada banyak kaki tangan lainnya,” katanya.
Tak hanya dugaan "pencurian" emas, FBI juga menemukan indikasi bahwa Rush memalsukan berbagai aspek identitas profesionalnya selama hampir dua dekade.
Dia pernah mengeklaim masih aktif di cadangan Angkatan Laut AS meski sebenarnya sudah diberhentikan secara hormat pada 2015. Berdasarkan dokumen pengadilan, setelah keluar dari militer, Rush masih mengajukan 744 jam cuti militer yang membuatnya menerima kompensasi sekitar USD77 ribu secara tidak sah.
Kasus ini memunculkan pertanyaan besar mengenai bagaimana seseorang dengan latar belakang yang diduga penuh kebohongan bisa lolos proses pemeriksaan keamanan ketat CIA selama bertahun-tahun.
Rush kini didakwa atas pencurian uang publik dan masih ditahan oleh US Marshals Service. Permohonan pembebasan dengan jaminannya dilaporkan ditolak, sementara sidang penahanan lanjutan dijadwalkan berlangsung di pengadilan federal Alexandria, Virginia, pada hari Jumat.
Jika terbukti bersalah, dia dapat menghadapi hukuman penjara federal bertahun-tahun. FBI, CIA, dan Departemen Kehakiman AS masih terus menyelidiki kemungkinan pelanggaran lain, termasuk bagaimana emas dan mata uang asing tersebut bisa lolos dari pengawasan internal.
Skandal David Rush menjadi pukulan telak bagi reputasi CIA. Lembaga intelijen yang terkenal dengan prosedur keamanan berlapis kini dipertanyakan kredibilitas sistem pengawasannya.
Kasus ini juga memperlihatkan ancaman terbesar dalam dunia intelijen modern bukan selalu datang dari musuh luar, tetapi bisa berasal dari “orang dalam” yang memiliki akses tinggi terhadap aset dan informasi negara.
“Mereka tidak hanya memverifikasi universitas saya. Mereka datang ke rumah perkumpulan mahasiswi saya. Mereka berbicara dengan saudari-saudari saya di perkumpulan itu. Mereka datang ke rumah orang tua saya. Mereka pergi ke teman-teman dari teman-teman orang tua saya,” katanya tentang proses yang dia sendiri alami sebelum bergabung dengan agensi tersebut.
“Ini pasti merupakan penutupan kebohongan skala besar. Pasti ada banyak kaki tangan lainnya,” katanya.
Tak hanya dugaan "pencurian" emas, FBI juga menemukan indikasi bahwa Rush memalsukan berbagai aspek identitas profesionalnya selama hampir dua dekade.
Dia pernah mengeklaim masih aktif di cadangan Angkatan Laut AS meski sebenarnya sudah diberhentikan secara hormat pada 2015. Berdasarkan dokumen pengadilan, setelah keluar dari militer, Rush masih mengajukan 744 jam cuti militer yang membuatnya menerima kompensasi sekitar USD77 ribu secara tidak sah.
Kasus ini memunculkan pertanyaan besar mengenai bagaimana seseorang dengan latar belakang yang diduga penuh kebohongan bisa lolos proses pemeriksaan keamanan ketat CIA selama bertahun-tahun.
Rush kini didakwa atas pencurian uang publik dan masih ditahan oleh US Marshals Service. Permohonan pembebasan dengan jaminannya dilaporkan ditolak, sementara sidang penahanan lanjutan dijadwalkan berlangsung di pengadilan federal Alexandria, Virginia, pada hari Jumat.
Jika terbukti bersalah, dia dapat menghadapi hukuman penjara federal bertahun-tahun. FBI, CIA, dan Departemen Kehakiman AS masih terus menyelidiki kemungkinan pelanggaran lain, termasuk bagaimana emas dan mata uang asing tersebut bisa lolos dari pengawasan internal.
Skandal David Rush menjadi pukulan telak bagi reputasi CIA. Lembaga intelijen yang terkenal dengan prosedur keamanan berlapis kini dipertanyakan kredibilitas sistem pengawasannya.
Kasus ini juga memperlihatkan ancaman terbesar dalam dunia intelijen modern bukan selalu datang dari musuh luar, tetapi bisa berasal dari “orang dalam” yang memiliki akses tinggi terhadap aset dan informasi negara.
(mas)
Lihat Juga :