Trump Berubah Lagi, Perintahkan Negosiator AS Jangan Terburu-buru Deal dengan Iran

Senin, 25 Mei 2026 - 07:35 WIB
loading...
Trump Berubah Lagi,...
Presiden Donald Trump perintahkan para negosiator AS untuk tidak terburu-buru membuat kesepakatan dengan Iran. Foto/White House
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memerintahkan para negosiatornya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran. Perintah ini menjadi perubahan sikap yang kesekian kalinya, di mana sebelumnya dia menekan Teheran agar cepat membuat kesepakatan.

Trump bersikeras bahwa kesepakatan apa pun yang dicapai oleh pemerintahannya tidak akan menyerupai perjanjian nuklir era Presiden Obama tahun 2015, yang secara sepihak dia tinggalkan selama masa jabatan pertamanya dan telah digambarkan sebagai "salah satu kesepakatan terburuk yang pernah dibuat."

Baca Juga: Sudah 3 Bulan Berlalu, Pakar Nilai AS Kalah Secara Strategis dalam Perang Iran

“Kesepakatan kami justru sebaliknya, tetapi belum ada yang melihatnya, atau tahu apa isinya. Bahkan belum sepenuhnya dinegosiasikan,” tulisnya di Truth Social pada hari Minggu.

“Jadi jangan dengarkan pihak yang kalah, yang mengkritik sesuatu yang tidak mereka ketahui," lanjut Trump.

Trump mengatakan waktu ada di pihak Amerika dan memperingatkan bahwa blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz akan tetap berlaku penuh sampai kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani.

“Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar. Tidak boleh ada kesalahan!” imbuh Trump.

Media AS, Axios, melaporkan pada hari Minggu bahwa kesepakatan yang muncul akan berbentuk nota kesepahaman 60 hari, yang dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama.

Berdasarkan draf tersebut, Selat Hormuz akan dibuka kembali tanpa biaya tol, Iran akan membersihkan ranjau yang telah ditempatkan di jalur air tersebut, dan AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan mengeluarkan pengecualian sanksi terbatas yang memungkinkan Teheran untuk menjual minyak.

Draf tersebut juga dilaporkan mencakup komitmen Iran untuk tidak pernah mengejar senjata nuklir dan untuk bernegosiasi mengenai penangguhan pengayaan uranium dan penghapusan persediaan uranium yang sangat diperkaya, meskipun metodenya masih dalam negosiasi, menurut pejabat AS anonim yang dikutip oleh New York Times dan CBS News.

Fox News melaporkan bahwa kesepakatan itu "95% sudah tercapai" pada hari Minggu, tetapi para negosiator masih bernegosiasi tentang "bahasa" kesepakatan tersebut.

Para pejabat Iran belum berkomentar secara terbuka tentang persyaratan yang dilaporkan, tetapi sebelumnya mengatakan fokus pembicaraan tetap pada pengakhiran perang, dan bahwa detail nuklir tidak dibahas pada tahap ini.

Kantor berita Fars yang berbasis di Iran juga membantah klaim Trump bahwa Selat Hormuz akan "dibuka" begitu saja, dengan mengatakan bahwa jalur perairan tersebut akan tetap berada di bawah pengelolaan Iran.

Iran telah berulang kali menggambarkan kendali atas Selat Hormuz sebagai pengaruh strategis utamanya dan telah berupaya mengubah rezim hukum yang mengatur selat tersebut.

Mohammad Mokhber, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, menggambarkan jalur perairan tersebut sebagai “kemampuan yang setara dengan bom atom", dan mengatakan Teheran tidak akan mengorbankan keuntungan yang diperoleh selama perang tanpa konsesi dari Washington.

Nota kesepahaman (MOU) yang diusulkan juga dilaporkan menyatakan bahwa perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon akan berakhir. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan menyampaikan kekhawatiran tentang ketentuan tersebut dan bagian lain dari draf tersebut selama percakapannya dengan Trump pada hari Sabtu.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Viral Video Trump Pingsan...
Viral Video Trump Pingsan dan Terduduk Lemas saat Mau Masuk Limusin
Trump Ungkap Iran Sedang...
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Iran Desak Warga di...
Iran Desak Warga di Negara-negara Teluk Jaga Jarak 500 Meter dari Akomodasi Rahasia Pasukan AS
Pasukan Koalisi Pimpinan...
Pasukan Koalisi Pimpinan Arab Saudi Serang Wilayah Houthi Yaman
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Trump Getok Tarif Impor...
Trump Getok Tarif Impor Baru ke 60 Negara, Sekutu di Asia Protes Keras
Angkat Bicara Soal Deportasi...
Angkat Bicara Soal Deportasi Abdul Karim, Kemlu: Tak Pengaruhi Dukungan untuk Palestina
Konflik AS-Iran Makin...
Konflik AS-Iran Makin Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Tembus 100 Dolar AS per Barel
Rekomendasi
Penyesuaian Tarif PNBP...
Penyesuaian Tarif PNBP Berkeadilan, Tarif Merek UMKM Tetap dan Pendaftaran Hak Cipta Lagu Gratis
Perkuat Ekonomi Daerah,...
Perkuat Ekonomi Daerah, Dana Bagi Hasil Tambang Perlu Dievaluasi
Eks Jubir KPK Febri...
Eks Jubir KPK Febri Diansyah Resmi Jadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Berita Terkini
Viral Video Trump Pingsan...
Viral Video Trump Pingsan dan Terduduk Lemas saat Mau Masuk Limusin
Trump Ungkap Iran Sedang...
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Jaksa ICC Karim Khan...
Jaksa ICC Karim Khan Dicopot dari Jabatannya atas Tuduhan Pelecehan Seksual Bermotif Politik
Kebakaran Hutan Paksa...
Kebakaran Hutan Paksa Evakuasi 80.000 Orang di Prancis dan Spanyol
Iran Desak Warga di...
Iran Desak Warga di Negara-negara Teluk Jaga Jarak 500 Meter dari Akomodasi Rahasia Pasukan AS
Pasukan Koalisi Pimpinan...
Pasukan Koalisi Pimpinan Arab Saudi Serang Wilayah Houthi Yaman
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved