5 Alasan Negara-negara Arab Tolak Rencana Trump Menyerang Iran Lagi

Selasa, 19 Mei 2026 - 08:40 WIB
loading...
5 Alasan Negara-negara...
Negara-negara Arab tolak rencana Donald Trump menyerang Iran lagi. Foto/X/CENTCOM
A A A
WASHINGTON - Negara-negara Arab sudah membujuk Presiden AS Donald Trump untuk tidak lagi menyerang Iran . Itu dikarenakan konflik yang berkepanjangan juga akan menyebabkan krisis ekonomi yang mengganggu kepentingan nasional mereka.

Presiden AS mengatakan bahwa ia diminta oleh Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan untuk "menunda serangan militer yang direncanakan" terhadap Iran, "yang dijadwalkan besok".

“Berdasarkan rasa hormat saya kepada para Pemimpin yang disebutkan di atas, saya telah menginstruksikan Menteri Perang, Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Daniel Caine, dan Militer Amerika Serikat, bahwa kita TIDAK akan melakukan serangan terjadwal ke Iran besok, tetapi telah menginstruksikan mereka lebih lanjut untuk bersiap melakukan serangan skala besar ke Iran, kapan saja, jika kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai.”

5 Alasan Negara-negara Arab Tolak Rencana Trump Menyerang Iran Lagi

1. Program Nuklir Bukan Jadi Pertimbangan Utama

Dania Thafer, direktur eksekutif Forum Internasional Teluk, mengatakan negara-negara Teluk sedang mencari “solusi untuk krisis yang mereka hadapi” di tengah perang AS-Israel melawan Iran.

Namun, ia mencatat bahwa, berbeda dengan Trump, negara-negara Teluk tidak menganggap program nuklir Iran sebagai perhatian utama mereka.



2. Pembukaan Selat Hormuz

“Dari perspektif mereka, pembukaan Selat Hormuz dan penanganan program rudal Iran, yang telah meluncurkan ribuan rudal ke negara-negara Teluk, adalah isu inti yang sedang dihadapi,” kata Thafer kepada Al Jazeera.

“Ada perbedaan dalam urutan prioritas antara apa yang dicari Presiden Trump dan apa yang dicari para pemimpin negara-negara Teluk,” katanya.

“Tetapi, tentu saja, tidak menguntungkan kepentingan mereka untuk berada dalam konflik intensitas tinggi yang membayangi… atau bahkan situasi yang mereka alami saat ini, yaitu keadaan limbo dengan konflik intensitas rendah.”

3. Tidak Mau Didikte Keinginan Israel

Itu menurut Matt Duss, wakil presiden eksekutif di Center for International Policy, sebuah lembaga think tank yang berbasis di AS.

Tuntutan Trump agar Iran menyetujui pengayaan uranium nol, tulis Duss di X, adalah "racun yang dipaksakan kepadanya" oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan "para penghasut perang" di ibu kota AS yang "menginginkan perang".

"Kesepakatan akan mungkin terjadi ketika Trump membalikkan kesalahan itu," kata Duss.

4. Tidak Ada Pilihan Militer yang Baik

Henry Ensher, mantan duta besar AS untuk Aljazair, mengatakan Trump menghadapi tekanan besar untuk tidak melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran “karena tidak ada pilihan militer yang baik”.

“Jika dia melakukan tindakan besar dan gagal, artinya Iran tidak mengubah perilakunya, maka dia akan menerima banyak kritik,” kata Ensher kepada Al Jazeera.

“Jika dia melakukan tindakan kecil, maka dia akan mendapat kritik… dari orang-orang yang menentang perang dan bahkan dari pendukungnya yang ingin ‘menyelesaikan pekerjaan’.”


5. Biaya Perang yang Sangat Mahal

Meskipun Trump mungkin mengatakan secara publik bahwa dia memiliki pilihan untuk melancarkan aksi militer lebih lanjut, Ensher mengatakan kenyataannya adalah “tidak ada yang mungkin sangat efektif dan itu memang bisa sangat mahal”.

“Saya pikir [kemungkinan] kita akan melihat serangan militer lebih kecil daripada yang mungkin terjadi 24 atau 48 jam yang lalu," kata Henry Ensher.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
ANCAMAN KERAS IRAN!...
ANCAMAN KERAS IRAN! Kirim Pesan Menghancurkan, Tantang AS Perang Terbuka!
Teken Perjanjian Damai...
Teken Perjanjian Damai dengan AS, Dubes Iran: InsyaAllah Kita Dapat Perdamaian Permanen di Kawasan
Putin: Ukraina Minta...
Putin: Ukraina Minta Serangan ke Wilayah Lebih Dalam Dihentikan
Rekomendasi
Akademisi: Riset Advokasi...
Akademisi: Riset Advokasi Kunci Perlindungan Warga Sipil
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Mengemudikan Mobil Manual...
Mengemudikan Mobil Manual Lebih Menyehatkan Otak Dibandingkan Otomatis
Berita Terkini
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved