Senator Rusia Sentil AS Keteteran Perang Melawan Iran: 'Mengira seperti Venezuela...'
Selasa, 28 April 2026 - 15:34 WIB
loading...
Senator terkemuka Rusia Alexey Pushkov menilai AS keteteran dalam perang melawan Iran. Foto/Tehran Times
A
A
A
MOSKOW - Senator terkemuka Rusia Alexey Pushkov menyinggung strategi Amerika Serikat (AS), menggambarkannya seperti keteteran dalam perang melawan Iran. Menurutnya, Washington sudah salah menilai efektivitas kekuatan militernya.
Pushkov, yang menjabat sebagai Ketua Komisi Kebijakan Informasi Dewan Federasi Rusia, mengatakan bahwa AS “jelas tidak siap” secara militer untuk perang melawan Iran, karena mengandalkan “keyakinan yang salah” bahwa kekuatan dapat dengan cepat mencapai hasil.
Baca Juga: Ekonom AS Jeffrey Sachs: Perang Iran Adalah Proyek yang Telah Lama Direncanakan
Berbicara kepada kantor berita TASS, Senin (27/4/2026), dia menilai bahwa pendekatan AS mungkin dipengaruhi oleh pengalamannya di Venezuela.
“Penculikan [Presiden Venezuela Nicolas] Maduro dan reaksi yang sangat lemah dari rakyat Venezuela, yang memilih untuk menerima syarat-syarat Amerika untuk mengendalikan ekspor minyak Venezuela, meyakinkan dia [Presiden AS Donald Trump] bahwa operasi militer yang tepat sasaran adalah alat yang baik untuk memaksa rezim asing berperilaku sesuai keinginan Amerika,” kata senator tersebut.
“Setelah itu, Trump tampaknya memutuskan bahwa hal serupa dapat dilakukan di Iran," paparnya.
Pushkov menambahkan bahwa Iran, di sisi lain, telah mempersiapkan diri dengan baik untuk konflik dengan AS.
"Iran telah memindahkan hampir semua fasilitas rudal mereka ke bawah tanah, di mana sangat sulit untuk dijangkau," katanya.
Menurutnya, Iran telah membangun persenjataan rudal dan drone yang berjumlah puluhan ribu.
“Dan mereka telah mengerjakan semua ini untuk waktu yang lama, mempersiapkan diri baik secara ekonomi maupun, bisa dibilang, secara eksistensial,” katanya.
Sementara itu, laporan terbaru telah mengungkapkan kerugian signifikan yang diderita AS dalam konfliknya dengan Iran, yang dimulai pada 28 Februari dan berlangsung hampir 40 hari.
Terlepas dari upaya pemerintahan Trump untuk mengecilkan dampaknya, detail baru menunjukkan bahwa serangan rudal Iran menyebabkan kerusakan yang luas pada pangkalan militer AS di wilayah tersebut.
Para pejabat AS, termasuk Menteri Perang Pete Hegseth, mengeklaim bahwa pertahanan AS akan menetralisir rudal Iran. Namun, NBC News melaporkan bahwa Iran menargetkan lebih dari 100 titik di pangkalan-pangkalan AS di Teluk, termasuk Camp Buehring di Kuwait, di mana jet tempur F-5 Iran berhasil mengebom pangkalan tersebut meskipun ada sistem pertahanan Patriot.
Perang tersebut menghabiskan sebagian besar persediaan amunisi militer AS, dengan laporan dari The New York Times memperkirakan biaya hingga USD35 miliar untuk kampanye tersebut. Serangan balasan Iran menargetkan situs-situs strategis Israel serta pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Pushkov, yang menjabat sebagai Ketua Komisi Kebijakan Informasi Dewan Federasi Rusia, mengatakan bahwa AS “jelas tidak siap” secara militer untuk perang melawan Iran, karena mengandalkan “keyakinan yang salah” bahwa kekuatan dapat dengan cepat mencapai hasil.
Baca Juga: Ekonom AS Jeffrey Sachs: Perang Iran Adalah Proyek yang Telah Lama Direncanakan
Berbicara kepada kantor berita TASS, Senin (27/4/2026), dia menilai bahwa pendekatan AS mungkin dipengaruhi oleh pengalamannya di Venezuela.
“Penculikan [Presiden Venezuela Nicolas] Maduro dan reaksi yang sangat lemah dari rakyat Venezuela, yang memilih untuk menerima syarat-syarat Amerika untuk mengendalikan ekspor minyak Venezuela, meyakinkan dia [Presiden AS Donald Trump] bahwa operasi militer yang tepat sasaran adalah alat yang baik untuk memaksa rezim asing berperilaku sesuai keinginan Amerika,” kata senator tersebut.
“Setelah itu, Trump tampaknya memutuskan bahwa hal serupa dapat dilakukan di Iran," paparnya.
Pushkov menambahkan bahwa Iran, di sisi lain, telah mempersiapkan diri dengan baik untuk konflik dengan AS.
"Iran telah memindahkan hampir semua fasilitas rudal mereka ke bawah tanah, di mana sangat sulit untuk dijangkau," katanya.
Menurutnya, Iran telah membangun persenjataan rudal dan drone yang berjumlah puluhan ribu.
“Dan mereka telah mengerjakan semua ini untuk waktu yang lama, mempersiapkan diri baik secara ekonomi maupun, bisa dibilang, secara eksistensial,” katanya.
Sementara itu, laporan terbaru telah mengungkapkan kerugian signifikan yang diderita AS dalam konfliknya dengan Iran, yang dimulai pada 28 Februari dan berlangsung hampir 40 hari.
Terlepas dari upaya pemerintahan Trump untuk mengecilkan dampaknya, detail baru menunjukkan bahwa serangan rudal Iran menyebabkan kerusakan yang luas pada pangkalan militer AS di wilayah tersebut.
Para pejabat AS, termasuk Menteri Perang Pete Hegseth, mengeklaim bahwa pertahanan AS akan menetralisir rudal Iran. Namun, NBC News melaporkan bahwa Iran menargetkan lebih dari 100 titik di pangkalan-pangkalan AS di Teluk, termasuk Camp Buehring di Kuwait, di mana jet tempur F-5 Iran berhasil mengebom pangkalan tersebut meskipun ada sistem pertahanan Patriot.
Perang tersebut menghabiskan sebagian besar persediaan amunisi militer AS, dengan laporan dari The New York Times memperkirakan biaya hingga USD35 miliar untuk kampanye tersebut. Serangan balasan Iran menargetkan situs-situs strategis Israel serta pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
(mas)
Lihat Juga :